Media Parahyangan

Menulis Untuk Indonesia

Dampak Konflik Rusia-Ukraina ke Indonesia: Mulai dari Gandum hingga Pesawat Tempur

3 min read

INTERNASIONAL, MP—Konflik yang terjadi di Rusia dan Ukraina perlu menjadi perhatian utama masyarakat Indonesia. Meskipun secara geografis indonesia berada jauh dari pusat konflik, bukan berarti Indonesia tidak merasakan dampak dari konflik ini. Mengenai hal tersebut, Dosen Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan, Adrianus Harsawaskita memberikan pandangannya mengenai dampak konflik Rusia Ukraina bagi Indonesia. 

Menurut beliau, konflik ini sangat berimbas besar bagi Indonesia, khususnya di bidang perekonomian. “Kalau dari bidang politik setahu saya tidak terlalu berdampak, tapi kalau dari bidang ekonomi, waduh mengerikan,” ucapnya. Beliau menjelaskan bahwa semua negara pasti akan terkena imbasnya. Konflik ini akan menyebabkan kenaikan harga bahan bakar minyak, terutama minyak bumi. Apabila harga minyak bumi naik, tidak menutup kemungkinan bahwa komoditas lain juga akan ikut naik. Terutama jika melihat fakta bahwa Indonesia bukan merupakan negara penghasil ataupun pengekspor minyak. 

Selain itu, beliau juga berpendapat bahwa konflik ini bisa saja berimbas pada komoditas gandum Indonesia. Hal ini dikarenakan Ukraina merupakan negara pemasok gandum terbesar kedua bagi Indonesia setelah Australia. Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa untuk sementara, Indonesia memang belum merasakan dampaknya. “Dalam jangka pendek, 3 sampai 6 bulan, saya rasa kita belum merasakan dampaknya karena cadangan gandum kita juga masih cukup,” ujar Adrianus.

Namun dalam jangka panjang, beliau menjelaskan bahwa hal ini dapat berpotensi menjadi suatu ancaman bagi Indonesia mengingat bahwa gandum merupakan bahan baku dari produksi mie instan yang merupakan komoditas yang cukup penting bagi Indonesia. “Tetapi kalau dilihat yang lebih berbahaya bahwa ini bisa saja mengancam perekonomian Indonesia, dimana mie instan merupakan salah satu komoditas yang kita ekspor ke negara-negara lain,” tambahnya. Apabila Indonesia kekurangan komoditas gandum dan perkapalan juga bermasalah karena kenaikan minyak bisa saja ini akan berimbas besar bagi perekonomian Indonesia, terutama di bidang ekspor.

Penerapan sanksi ke Rusia oleh banyak negara juga berpotensi menimbulkan dampak bagi Indonesia dalam bidang pertahanan dan keamanan. Menanggapi hal ini, beliau menjelaskan lebih dalam mengenai CAATSA (Countering America’s Adversaries Through Sanction Act) yang juga merupakan bagian dari penelitian PACIS (Parahyangan Centre for International Studies), melalui aturan ini, Amerika Serikat akan memberikan sanksi kepada negara mitranya yang membeli alutsista dari Rusia. Sehingga, untuk sistem pertahanan yang baru, Indonesia memilih untuk membeli alutsista dari Perancis, yaitu jet tempur Rafale. “Oleh karena itu, dalam rencana kedepan, Indonesia tidak akan membeli alutsista dari Rusia.” tambahnya.

Dalam hal ini, sebelum pecahnya konflik antara Rusia dan Ukraina, Indonesia pernah melakukan pembelian beberapa pesawat tempur sukhoi dari Rusia. Beliau melihat hal ini sebagai satu potensi masalah karena Indonesia sangat membutuhkan onderdil pesawat dari Rusia agar pesawat ini dapat beroperasi. “Makanya yang namanya alutsista itu sangat mahal karena onderdilnya terus berjalan. Jadi, enggak ada yang namanya setelah melakukan pembelian senjata, kita putus hubungan dengan negara itu. Onderdilnya sangat bergantung,” tegas beliau. 

Hal ini diperkirakan dapat menjadi dilema bagi Indonesia, karena apabila ada negara yang melakukan hubungan dagang dengan Rusia, maka negara tersebut akan mendapatkan sanksi dari Amerika Serikat. “Jangan-jangan kita gak berani beli onderdil, kalau ga berani beli mau beli dimana? Hal ini sangat mengkhawatirkan apabila pesawat-pesawat tempur Rusia yang kita beli tidak dapat terbang.” ujar beliau.

Reporter: Vania Orvala, Abigail Faustina

Penulis: Angelina Jenyfer, Deviana Gloria

Editor: Muhammad Rizky

Leave a Reply

Your email address will not be published.