Media Parahyangan

Menulis Untuk Indonesia

IWD Bandung 2022: Patriarki adalah Pandemi, Pembebasan Perempuan adalah Solusi

3 min read

Peserta parade yang membentangkan poster-poster berisikan pesan kesetaraan gender.
(MP/Andrian Rizky)

BANDUNG, MP—Aksi peringatan International Women’s Day di depan Gedung Sate Bandung Selasa (08/03) telah berlangsung dan dihadiri oleh banyak masyarakat Bandung. Peringatan ini tentu menjadi momentum bagi seluruh perempuan di belahan dunia dan elemen rakyat lainnya untuk bersatu dan merawat ingatan tentang seluruh problem yang hadir terkhusus yang terjadi di Indonesia.  Sejatinya orang-orang yang hadir di peringatan International Women’s Day merupakan mereka yang pernah merasakan hak-hak mereka dirampas terjadi pada dirinya atau bahkan perempuan yang peduli mengenai hal-hal ini, adapun juga perwakilan dari beberapa Badan Eksekutif Mahasiswa dari kampus di Bandung yang mengikuti acara peringatan tersebut.

Berawal dari Tuntutan untuk Pekerjaan yang Lebih Adil

Bermula pada tahun 1908, ketika 15 ribu wanita berbaris melalui New York menuntut jam kerja yang lebih pendek, gaji yang lebih baik dan hak untuk memilih. Demonstrasi tersebut dilakukan dengan tujuan untuk melawan penindasan dan gaji buruh yang rendah, tetapi demonstrasi tersebut dibubarkan secara paksa oleh pihak kepolisian. Hal ini yang menjadikan setahun kemudian Clara Zetkin mengusulkan memasukkan idenya ke Konferensi Internasional Wanita Pekerja di Kopenhagen pada tahun 1910 – dan 100 wanita di sana, dari 17 negara, menyetujuinya dengan suara bulat. Hari Perempuan Internasional pertama kali dirayakan pada tahun 1911, di Austria, Denmark, Jerman dan Swiss. Hal-hal tersebut dibuat resmi pada tahun 1975 ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa mulai merayakan hari itu.

Hari Perempuan Internasional telah menjadi tanggal untuk merayakan seberapa jauh perempuan telah datang dalam masyarakat, politik dan ekonomi, sementara akar politik dari hari itu berarti pemogokan dan protes diselenggarakan untuk meningkatkan kesadaran akan ketidaksetaraan yang berkelanjutan. Hal itu awalnya tidak diformalkan sampai pemogokan masa perang pada tahun 1917, ketika wanita Rusia menuntut “roti dan perdamaian”; empat hari setelah pemogokan, tsar dipaksa turun tahta dan pemerintah sementara memberikan hak pilih kepada perempuan. Pemogokan dimulai pada 8 Maret dan ini menjadi tanggal Hari Perempuan Internasional dirayakan.

Alasan Perempuan Untuk Bersatu

 “Sejatinya perempuan itu selalu mengalami ketertindasan , siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Perempuan selalu diidentifikasikan sebagai sosok yang lemah, tak berdaya, pasif, dan hanya cocok untuk bekerja di ranah Domestik. Perempuan selalu menjadi nomor 2. Padahal yang perlu digaris bawahi, pemikiran seperti demikian merupakan hasil dari konstruksi sosial yang bersifat Patriarki, bukan sebuah hal yang bersifat kodrati.” Ujar salah satu mahasiswi yang mengikuti Aksi International Women’s Day.

Dia menambahkan, bahwasanya dalam situasi seperti hari ini, perempuan selalu hidup dalam standar patriarkial di masyarakat. Artinya perempuan selalu menjalani kehidupan dari sudut pandang laki-laki dan berusaha melakukan apa yang baik menurut laki-laki. Bentuk fisiologis perempuan dan laki-laki berujung pada pembangunan identitas maskulin dan feminine yang akhirnya memberdayakan laki-laki dan berujung pada melemahkan perempuan. Oleh karenanya, tak heran bila kesetaraan peran antara laki-laki dan peremouan dianggap sebagai sesuatu yang menentang “kodrat”.

Masalah perempuan dalam berbagai sektor mesti menjadi sorotan. Misalnya, di sektor pabrik yang berkaitan dengan masalah kesejahteraan kerja bagi perempuan, kekerasan seksual, dan tidak union busting ;di sektor agraria yang berkaitan dengan perampasan ruang hidup dan pencemaran lingkungan; di sektor pendidikan yang berkaitan dengan penciptaan ruang aman di setiap jenjang pendidikan dan beban guru honorer; di sektor media terkait pembentukan stereotip yang berujung kepada diskriminasi, eksploitasi, dan pelecehan bagi perempuan. Semua hal tersebut merupakan sebagian kecil dari besarnya masalah perempuan hari ini.

Tuntutan di International Women’s Day

Pada aksi International Women’s Day, Persatuan Rakyat untuk Pembebasan Perempuan (PARAPUAN) menyatakan sikap:

1. Hentikan segala bentuk kekerasan militer dan bangun solidaritas untuk korban sipil yang terdampak perang.

2. Adili segala macam bentuk pelanggaran HAM.

3. Bentuk Satua Tugas Pencegahan Kekerasan Seksual di setiap instansi dan setiap sektor.

4. Implementasikan Permendikbud No. 30 Tahun 2017 di setiap kampus.

5. Tetapkan SOP pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di seluruh jenjang pendidikan.

6. Wujudkan upah buruh yang berkeadilan.

7. Penuhi hak reproduksi buruh perempuan.

8. Penuhi akses kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia.

9. Sahkan Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual yang adil.

10. Sahkan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.

11. Wujudkan Reforma Agraria yang sejati.

12. Tetapkan 8 Maret sebagai hari libur nasional.

Peringatan International Women’s Day merupakan momentum perempuan dan segala elemen rakyat untuk bersatu dan menuntut kesetaraan gender. Oleh karena itu, jangan sampai terjadi lagi kasus diskriminasi, marginalisasi, kekerasan, dan pelabelan kepada semua kalangan rakyat di Indonesia.

“People have only as much liberty as they have the intelligence to want and the courage to take.”

– Emma Goldman

Reporter/penulis: Andrian Rizky

Editor: Muhammad Rizky

Leave a Reply

Your email address will not be published.