Media Parahyangan

Menulis Untuk Indonesia

Migas Semakin Menipis, Pemerintah Mendorong Penggunaan Energi Alternatif

4 min read

Panel surya, salah satu sumber energi alternatif yang bisa digunakan di skala rumah tangga.
(Sumber: Sans Power)

NASIONAL, MP—Biro Sensus Amerika Serikat memperkirakan bahwa penduduk dunia dapat meningkat sampai 7,8 miliar jiwa pada Tahun Baru 2022 berdasarkan proyeksi yang telah mereka lakukan. Dengan demikian, peningkatan populasi tersebut akan memberikan dampak pada kebutuhan sumber daya alam yang pasti ikut meningkat. Namun, seperti yang diketahui secara umum, sumber daya alam yang kita butuhkan dan biasa kita gunakan bukanlah sumber daya yang akan selalu ada dan dapat habis sewaktu-waktu. Oleh karena itu, dunia dihantui oleh keadaan yang krisis akan sumber daya alam karena peningkatan populasi yang disertai dengan kebutuhan penggunaan sumber daya alam tidak akan memiliki keseimbangan dengan ketersediaan dari sumber daya alam tersebut.

Keterbatasan sumber daya alam yang dihadapi mengharuskan kita mencari sumber daya alternatif sebagai bentuk penanggulangan dan pencegahan habisnya sumber daya alam yang biasa digunakan. Alternatif tersebut disebutkan sebagai suatu energi terbarukan yang secara garis besar didefinisikan sebagai sumber energi dari alam yang dapat dimanfaatkan secara terus menerus karena jumlahnya yang melimpah. Sumber energi terbarukan itu sendiri meliputi panas bumi, biomassa, angin, air, panas matahari, dan gelombang laut. Keenam sumber energi tersebut dapat diolah untuk menjadi sumber daya listrik.

Kelangkaan Sumber Daya Alam dan Alternatifnya

Cadangan sumber daya alam, terutama minyak bumi di Indonesia terus menipis setiap tahunnya. Menteri ESDM Arifin Tasrif melaporkan bahwa cadangan minyak bumi nasional akan habis dalam kurun waktu 9,5 tahun. Dia mengatakan, cadangan minyak bumi nasional saat ini sebesar 4,17 miliar barel, dengan cadangan yang sudah terbukti keberadaanya sebesar 2,44 miliar barrel. Proyeksi itu dapat terealisasi apabila stakeholders terkait tidak berhasil menemukan cadangan baru dan rata-rata produksi berada di kisaran 700.000 barel per hari. Sementara untuk gas bumi, dengan cadangan yang diperkirakan mencapai 62,4 triliun kaki kubik dan sudah terbukti sebesar 43,6 triliun kaki kubik, diproyeksi akan habis pada 19,5 tahun lagi. Untuk mencegah hal-hal tersebut terjadi, salah satu upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah dalam menjaga umur cadangan migas adalah dengan mencari alternatif lain. Salah satunya ialah energi terbarukan.

Di Indonesia sendiri, penggunaan bahan konvensional atau biasa disebut bahan bakar minyak (BBM) juga terbilang cukup besar, sehingga persediaan segala sumber daya untuk pemenuhan kebutuhan BBM tersebut terus menurun. Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan bahwa, kebutuhan BBM dalam negeri saat ini sebesar 1,4 juta barel per hari. Sementara kapasitas produksi BBM di dalam negeri baru mencapai 800 ribu barel per hari. Oleh karena itu, energi alternatif sangat dibutuhkan untuk menghemat ketersediaan sumber daya pembuatan bahan bakar minyak. Contoh nyata dari pemanfaatan energi alternatif tersebut adalah penggunaan kendaraan listrik. Indonesia mempunyai potensi besar karena selain alam yang memadai untuk memproduksi energi alternatif, Indonesia juga merupakan penghasil nikel terbesar yang dibutuhkan sebagai bahan baku pembuatan baterai pada kendaraan listrik.

Upaya Indonesia dalam Mewujudkan Energi Alternatif

Perusahaan start-up asli Indonesia, yaitu Gojek Grup dan PT. TBS Energi Utama (TBS) bekerja sama dalam membentuk perusahaan patungan Electrum yang diberi nama PT. Energi Kreasi Bersama (EKB). Bersama dengan Pertamina, Gogoro, dan Gesits, bersinergi dalam proses pengembangan ekosistem kendaraan listrik terlengkap di Indonesia. Langkah nyata kolaborasi BUMN dan BUMS guna mempercepat terwujudnya ekosistem kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia ini mendapatkan apresiasi dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). “Kita harapkan sesuai dengan target kita nanti di 2030 untuk emisi karbon berada di angka 29 persen dan kemudian di 2060 masuk di emisi 0 persen (net zero karbon),” ujar Presiden Joko Widodo, Kamis (23/2). Pemerintah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sendiri menargetkan pada tahun 2025 nanti akan ada kurang lebih 2 juta unit kendaraan listrik yang bisa digunakan oleh masyarakat Indonesia dan selanjutnya bisa menuju ke pasar ekspor. Bahkan, Jokowi pun berharap Indonesia mampu merajai dan menjadi produsen dari kendaraan listrik dengan didukung ekosistem yang dimulai dari hulu sampai hilir.

Pemerintah pada Februari 2022 menerbitkan insentif fiskal terbaru demi mendukung percepatan pasar maupun industri mobil listrik Indonesia. Insentif tersebut menurut keterangan resmi Badan Kebijakan Fiskal (BKF) belum lama ini adalah penetapan bea masuk 0 persen untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) roda empat atau lebih yang diimpor dalam kondisi tidak utuh atau tidak lengkap (Incompletely Knocked Down/IKD). Hal ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor (PMK) Nomor 13/PMK.010/2022. Regulasi ini resmi ditetapkan per 22 Februari kemarin. Pemerintah yakin pembebasan bea masuk impor mobil listrik IKD akan semakin memicu perkembangan pasar maupun industri mobil listrik. Sejak saat itu hingga sekarang, berbagai insentif fiskal maupun non-fiskal telah disediakan demi memenuhi target produksi sejuta mobil listrik pada 2035. Salah satunya tarif Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) spesial bagi mobil mild hybrid, hybrid, plug-in hybrid (PHEV), 100 persen baterai, sampai mobil hidrogen yang sudah mulai berlaku.

Kendaraan listrik adalah salah satu jawaban dari masalah kelangkaan sumber daya alam yang mengancam dunia. Berbagai upaya telah dikerahkan untuk mewujudkan ekosistem kendaraan listrik, seperti pembebasan pajak dan aturan wajib menggunakan kendaraan listrik di ibu kota baru. Tentunya berbagai upaya tersebut akan sia-sia apabila masyarakat sendiri masih belum memikirkan terkait kelangkaan sumber daya alam. Maka dari itu, diperlukan pula edukasi untuk menyadarkan masyarakat terkait hal tersebut. Dengan terwujudnya ekosistem kendaraan listrik di Indonesia, kita sudah selangkah menjauh dari masalah kelangkaan sumber daya alam.

Penulis: Marnida Harnia

Editor: Muhammad Rizky

Leave a Reply

Your email address will not be published.