Media Parahyangan

Menulis Untuk Indonesia

Segudang Permasalahan dan Kiat Kesuksesan Sepakbola Tanah Air

5 min read

Kunci Timnas Indonesia Kalahkan Malaysia dan Jadwal Semifinal Piala AFF  2020 - The Phrase
Timnas Indonesia di AFF 2020
Sumber: The Phrase

OLAHRAGA, MP—Timnas sepakbola Indonesia tampil secara mengejutkan pada Piala AFF 2020 Desember lalu, dengan mampu maju ke babak final sebelum akhirnya menjadi runner up setelah kalah dari Thailand. Tak ada yang menyangka, hanya dengan memainkan pemain-pemain muda yang rata-rata usianya 23 tahun, Shin Tae-yong mampu menampilkan permainan apik dengan hanya mencatatkan satu kekalahan.

Gelora kesuksesan timnas yang mampu mencapai final tersebut kemudian dianggap sebagai titik mula dari awal kejayaan kembali timnas Indonesia 15-20 tahun lalu yang bahkan sempat menembus kompetisi level Asia. Namun demikian, carut marut persepakbolaan dalam negeri, yang banyak di antaranya masih belum terselesaikan hingga kini, membuat fans sepakbola di tanah air harus mengubur dalam-dalam mimpinya. Dengan demikian, ada beberapa hal yang perlu dibenahi oleh aktor sepakbola dalam negeri, terutama PSSI untuk membangkitkan Garuda yang tengah tertidur lelap.

Kompetisi Usia Muda

Pertama adalah pengelolaan usia muda dalam negeri. Sepakbola usia muda di Indonesia masih belum memiliki kompetisi resmi berjangka panjang untuk menampung bibit-bibit muda ini.

Menemukan bakat urusan yang mudah bagi persepakbolaan Indonesia. Namun menjaga agar bibit ini tetap bisa tumbuh merupakan tantangan tersendiri. Idealnya, klub-klub bola di Indonesia memiliki akademinya sendiri yang mampu menampung bibit-bibit muda ini melalui kompetisi liga rutin, terjadwal, dan berjangka panjang untuk kelompok usia U-12 hingga U-23.

Keberlanjutan Liga

Kebanyakan dari klub-klub yang tak mampu menjalankan akademi usia muda karena alasan finansial, yang mana berhubungan dengan hal-hal lain yang perlu dibenahi juga. Kualitas kompetisi yang sering kali tidak jelas membuat klub kesusahan menemukan sponsor yang berani menggelontorkan uangnya untuk membiayai klub.

Entah berapa kali liga kita mesti berhenti di tengah jalan karena konflik di level federasi. Misalnya saja di tahun 2012 terjadi dualisme liga antara Indonesian Super League (ISL) dan Indonesian Premier League (IPL) yang tidak diakui FIFA. Imbasnya, Persipura Jayapura saat itu nyaris didiskualifikasi dari Asian Champions League (ACL) karena tengah berkompetisi di liga ISL yang dianggap sebagai liga tandingan.

Lebih lanjut, karena dualisme yang berkepanjangan ini, Kemenpora pun turun tangan dengan dalih membereskan perselisihan. Dampaknya, seluruh aktor sepakbola Indonesia mulai dari pemain berpaspor Indonesia, klub, hingga tim nasionalnya dihukum bertanding di ajang internasional di bawah naungan FIFA. Begitu juga dengan kompetisi liga domestik yang harus berhenti.

Sponsor-sponsor yang telah menggelontorkan uangnya ke klub dan liga kemudian harus merugi dengan tidak adanya exposure yang mereka dapatkan atas pemberhentian aktivitas sepakbola ini. Hingga tahun-tahun berikutnya, bahkan setelah liga kembali berjalan dan FIFA mencabut hukumannya ini, sponsor-sponsor tim lokal ini tampaknya sedikit tidak yakin atas keberlanjutan jalannya liga.

Kualitas Kompetisi

Kunci untuk memproduksi pemain-pemain hebat adalah dengan menjalankan liga yang berkualitas tinggi. Di Indonesia sendiri, kualitas kompetisi liga masih terhitung buruk, dengan berada di peringkat 26 dalam skala Asia, yang juga mencatatkan posisi di bawah liga Thailand, Vietnam, bahkan Singapura.

Masih banyak hal yang harus dibenahi dalam kompetisi liga ini, salah satunya adalah perihal jadwal liga. Kompetisi liga di Indonesia kerap kali menemukan ketidakjelasan soal jadwal, yang mana matchday dalam satu musim tidak diumumkan sekaligus sebelum musim dimulai. Tidak hanya itu, matchday yang dijadwalkan PSSI dan PT. Liga Indonesia Bersatu, badan yang mengurus jalannya kompetisi Liga 1 Indonesia, sering kali bentrok dengan jadwal timnas bermain.

Dampaknya, konsentrasi dan kebugaran pemain menjadi terganggu akibat ‘dipaksa’ bermain dalam dua kompetisi dan tim yang berbeda di waktu yang berdekatan. Belum lagi permasalahan yang dialami klub akibat harus merelakan pemainnya dicomot timnas di saat klub tersebut harus menjalani pertandingan liga lanjutan. Misalnya saja yang baru-baru ini terjadi di mana kompetisi Liga 1 masih harus berjalan saat international break dengan timnas Indonesia yang bertanding dua kali melawan Timor Leste di Bali.

Jika kita lihat lebih luas, tak perlu jauh-jauh membandingkan dengan liga-liga di Eropa, Liga Thailand, Liga Vietnam, bahkan Liga Singapura sekalipun memiliki jadwal liga yang jelas, yang mana jadwal ini telah dirilis bahkan sebelum kompetisi dimulai.

Struktur Kepengurusan

PSSI memiliki citra  sebagai batu lompatan untuk politisi-politisi yang sedang ‘cari panggung’ untuk menaikkan popularitas. Seperti halnya Edy Rahmayadi yang sempat menjabat sebagai Ketua Umum PSSI 2016-2019. Publik menilai dirinya tidak mengerti soal persepakbolaan dalam negeri dan hanya numpang cari nama untuk bisa memenangi pemilihan gubernur Sumatera Utara pada 2018 lalu. Lebih buruknya, Edy menjabat menjadi Ketua Umum PSSI sembari menjabat sebagai Panglima Kostrad hingga Gubernur Sumatera Utara sebelum akhirnya mundur dari jabatannya di PSSI.

Selain Edy, isu panas juga muncul dari Executive Committee (Exco) yang sering kali muncul di media atas kejadian-kejadian yang kurang mengenakkan. 2019 lalu, 13 dari 15 Exco diduga terlibat dalam pengaturan skor yang juga telah mengakar di persepakbolaan dalam negeri.

Belum lagi kejadian baru-baru ini dimana Exco Haruna Soemitro muncul ke media publik dan melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial yang bertentangan dengan suporter dan pelatih Shin Tae-yong kemudian direspons masyarakat dengan tagar #HarunaOut dan dukungan kepada pelatih asal Korea tersebut.

Seperti yang diharapkan semua penggemar sepakbola dalam negeri, orang-orang yang berada di badan kepengurusan sepakbola haruslah orang-orang yang benar-benar mengerti dan mencintai sepakbola. Bukan orang-orang yang hanya memanfaatkan publik sepakbola demi kepentingan dirinya.

Kirim Pemain ke Luar Negeri

Tidak sebentar waktu yang dibutuhkan oleh persepakbolaan dalam negeri untuk bisa memiliki kompetisi dan sistem yang seharusnya dimiliki oleh Indonesia. Dengan bibit-bibit muda yang terus berdatangan yang kemudian masih belum bisa diimbangi dengan kualitas kompetisi dan sistem yang baik, maka jalan termudahnya adalah dengan mengirim pemain-pemain tersebut untuk berkompetisi di luar negeri.

Saat ini sudah cukup jamak melihat pemain asal Indonesia di luar negeri, semisal Egy Maulana dan Witan Sulaiman yang kini bermain di klub Legia Gdanks, dan Asnawi Mangkualam yang bermain di Ansan Greeners. Ketiga pemainnya menjadi bukti nyata jika bermain di liga dan klub yang kompetitif bisa meningkatkan kemampuan individu pemain yang juga meningkat akibat persaingan di liga dan klub mereka jauh lebih sengit dibandingkan dengan yang ada di dalam negeri.

Indonesia juga memiliki program Garuda Select, program yang setiap tahunnya mengirimkan 24 pemain U-17 Indonesia untuk latihan secara intens dan bertanding melawan tim akademi dari klub besar asal Inggris dan Italia. Sudah 4 jilid program ini berjalan, dengan menghasilkan pemain-pemain yang turut bermain untuk tim nasional usia muda seperti Bagus Kahfi, Ernando, Ridyan Taufiq, dan pemain-pemain lain.

Dengan mengusung Dennis Wise dan Des Walker sebagai pelatih dan pelatih-pelatih lokal sebagai asisten pelatihnya, PSSI berharap program ini tidak hanya mampu mencetak bakat-bakat pesepakbola baru, namun juga bisa terjadi transfer of knowlegde untuk pelatih-pelatih asal Indonesia

Proses yang Tidak Sebentar

Dibutuhkan setidaknya 7 hingga 10 tahun untuk bisa melihat dan merasakan hasil kerja keras dari usaha untuk memperbaiki kualitas sepakbola tanah air ini. Dalam waktu tersebut, federasi, klub, pemain, dan publik sepakbola harus bersama-sama beriringan dalam usaha memajukan sepakbola lokal.

Perlu ada konsistensi agar aktor-aktor sepakbola bisa terbiasa dengan cara kerja yang ada dalam sistem persepakbolaan. Perlu juga adanya kepercayaan terhadap pelatih dan pemain sepakbola, atau bahkan pengurus untuk bekerja mengukir karya magis mereka untuk membawa sepakbola Indonesia ke arah yang lebih maju.

Pun demikian dengan suporter yang bisa mengambil peran dengan mempercayai dan mengawasi jalannya persepakbolaan dalam negeri ini.

Penulis: Muhammad Rizky

Editor: Muhammad Rizky

Leave a Reply

Your email address will not be published.