Media Parahyangan

Menulis Untuk Indonesia

[STOPPRESS] Ketentuan Mahasiswa Untuk Mengikuti PTMT

3 min read

Kolom pernyataan untuk mengikuti PTMT

STOPPRESS—Unpar menggelar sosialisasi mengenai teknis dalam menggelar Pertemuan Tatap Muka Terbatas (PTMT) pada Jumat (28/01) lalu. Dalam sosialisasi ini dijelaskan mekanisme bagi mahasiswa yang ingin mengikuti perkuliahan hybrid yang rencananya akan dimulai pada semester genap 2021/2022 nanti. Sosialisasi ini dilakukan melalui Zoom, dengan narasumber Wakil Rektor Bidang Akademik, Kepala Biro Administrasi Akademik (BAA), Ketua Satgas Unpar Fights Covid-19 (UFC), Kepala Lembaga Pengembangan Pemelajaran dan Karier (LPPK), dan dihadiri oleh hampir 500 mahasiswa.

Andreas Adi Cahyono, Kepala BAA menyampaikan, bagi mahasiswa yang ingin mengikuti PTMT, harus mendaftarkan diri melalui kolom yang tersedia di Student Portal, dengan syarat dalam kondisi sehat, telah mendapat vaksinasi lengkap 2 dosis, dan telah mendapat izin dari orang tua yang ditunjukkan melalui surat izin yang ditandatangani.

Kolom pengisian ini akan tetap ada hingga 13 Februari nanti dan akan kembali saat PRS dan saat-saat setelahnya secara berkala. Tujuannya, agar mahasiswa yang mengalami perubahan kondisi tetap bisa memiliki kesempatan untuk bisa mengikuti kuliah hybrid.

Nantinya, mahasiswa akan mendapat jadwal kapan bisa datang belajar di kelas yang disesuaikan dengan minggu dan NPM. “Kalau minggu ganjil berarti mahasiswa yang ber-NPM ganjil mendapat giliran masuk, kalau (minggu) genap mahasiswa yang ber-NPM genap baru diizinkan.”, ujar Andreas dalam sosialisasi tersebut.

Namun demikian, keputusan untuk menggelar PTMT, skripsi, hingga KKL ini akan dikembalikan ke masing-masing pihak program studi dengan pertimbangan jumlah mahasiswa, jumlah dosen dan jumlah kelas yang memenuhi syarat, yang mana semakin sedikit mahasiswa dan dosen maka akan semakin memungkinkan untuk menggelar pertemuan PTMT atau justru dilakukan penuh secara luring.

Andreas menambahkan jika nantinya kapasitas kelas hanya akan terisi 50%, hal ini sesuai dengan peraturan pemerintah yang hanya mengizinkan kapasitas kelas maksimal 50% untuk daerah-daerah dengan PPKM level 2, termasuk Bandung. Walau demikian, ketentuan soal kapasitas kelas ini sifatnya dinamis, tergantung pada pemberlakukan level PPKM. Untuk kegiatan UKM dan organisasi kemahasiswaan sendiri, akan dimungkinkan untuk dapat berjalan di dalam lingkungan kampus, namun dengan penjadwalan dan izin dari BKA dan pihak program studi.

Catharina Nawangpalupi, Ketua Satgas UFC mengatakan jika pihaknya telah merencanakan protokol-protokol tertentu bagi mahasiswa yang ingin masuk ke lingkungan kampus. “Panitia UFC-19 telah mengeluarkan buku saku, baik untuk mahasiswa dan dosen yang bisa didapatkan di ufc.unpar.ac.id.”, jelasnya. Selain itu, akan ada juga pemberlakukan scan QR Code untuk aplikasi Peduli Lindungi, memastikan jika ruangan telah didisinfeksi, dan memastikan sirkulasi ruangan terjaga. Pihaknya juga akan menyediakan hand sanitizer di setiap pintu ruangan dan masker cadangan untuk mahasiswa. Namun demikian, Catharina mengimbau mahasiswa untuk mempersiapkan dan membawa hand sanitizer dan masker sendiri.

Kemudian, dalam perkuliahan hybrid nanti, pembelajaran akan dipusatkan di gedung fakultas dan PPAG, dengan telah disiapkan sekitar 200 kelas yang memungkinkan dosen untuk mengajar mahasiswa yang ada di dalam kelas dan di luar kelas. “Definisi (hybrid bagi) kami adalah online dan offline dilakukan secara bersamaan. Tujuannya dosen akan efektif dalam mengajar untuk mahasiswa di dalam kelas dan di luar kelas.”, imbuh Philips Gunawidjaja, Ketua LPPK Unpar. Untuk pedoman perkuliahan, dirinya mengatakan akan ada Pedoman Perkuliahan PTMT di IDE masing-masing mahasiswa mulai 14 Februari nanti.

Lantas bagaimana dengan mahasiswa Pascasarjana, Fakultas Filsafat, yang biasa tidak berkuliah di Kampus Ciumbuleuit? Mahasiswa Filsafat akan tetap belajar di kampusnya, sementara mahasiswa Pascasarjana yang jumlahnya sedikit akan mengikuti perkuliahan di gedung fakultasnya masing-masing.

Mengenai penyelenggaraan ujian sendiri, akan diseragamkan tergantung masing-masing dosen mata kuliah. Nantinya, baik mahasiswa yang telah memenuhi syarat atau belum untuk mengikuti PTMT ini, akan menjalani metode ujian yang sama. Namun demikian, untuk kasus-kasus spesifik semisal mahasiswa tidak memenuhi syarat sedangkan dosen meminta ujian dilakukan secara luring, akan diputuskan lebih lanjut. “Kami belum memutuskan penanganan untuk kasus spesifik seperti itu. Namun tidak memungkiri metode dan rencana ujian akan berubah. Kami akan tetap menekankan prinsip keadilan untuk mahasiswa.”, ujar Tri Basuki Joewono, Wakil Rektor Bidang Akademik.

Saat ada mahasiswa yang bertanya mengenai kewajiban dan adakah sanksi bagi yang tidak mengikuti PTMT ini, Tri meminta agar mahasiswa cenderung melihat PTMT ini sebagai kesempatan untuk melakukan perkuliahan secara optimal. “Tolong jangan dilihat sanksinya, namun kesempatannya. Kami universitas berusaha mahasiswa dapat pengalaman belajar seoptimal mungkin, yang mana saat offline itu tidak optimal. Tolong itu untuk dimanfaatkan.”, imbuhnya.

Reporter/Penulis: David Sianturi, Muhammad Rizky

Editor: Muhammad Rizky

Leave a Reply

Your email address will not be published.