Site icon Media Parahyangan

Wawancara MP dengan Andika-Zulaekha, Paslon Nomor Urut 1 untuk BEM 2022

Paslon nomor urut 1, Andika & Zulaekha
Sumber: instagram.com

LIPUTAN KAMPUS, MP–Menjelang diadakannya Pemilihan Umum Persatuan Mahasiswa (PUPM) 2022, para calon pengurus PM Unpar beramai-ramai mengkampanyekan visi-misi dan rencana perubahan yang akan diwujudkan jika terpilih menjadi pengurus PM Unpar selanjutnya. Untuk mengenal lebih dekat calon ketua dan wakil ketua BEM 2022, Media Parahyangan mewawancarai Antonius Andika Wangsa (Hukum, 2019) dan Zulaekha Amalia (Hubungan Internasional, 2019) pasangan calon dengan nomor urut 1 untuk pemilihan ketua dan wakil ketua BEM 2022. Berikut adalah hasil wawancara kami dengan paslon Andika-Zulaekha:

MP: Menurut kalian, apa permasalahan-permasalahan dari BEM era sebelumnya?

Mengacu terhadap apa yang telah dilaksanakan oleh kepengurusan BEM 2020 dan 2021, keduanya memiliki pendekatan pembawaan yang berbeda. Dari segi pengonsepan, BEM 2020 bagi kami memiliki konsep yang belum dapat diterima oleh seluruh mahasiswa UNPAR, meskipun konsep yang dibawakan sudah matang. Lebih lanjut, dalam kepengerusan BEM 2020, juga terjadi beberapa hal yang sifatnya di luar dugaan, seperti Pandemi COVID-19 yang menuntut adanya perubahan secara cepat dan adaptif dalam masa pandemi tersebut. Hal ini mengakibatkan, pada akhirnya implementasi konsep menjadi tidak berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan pada awal kepengurusannya.

Sementara itu, BEM 2021, turut hadir di tengah mahasiswa dengan adanya polemik dan fenomena yang kontroversial sehingga pendekatan seperti ini kerap kali menunjukkan skeptis bagi mahasiswa UNPAR. Selain itu, kami juga melihat bahwa adanya pembentukan program kerja dan fungsional dari bem periode 2021 juga belum didasari oleh kebutuhan mahasiswa, karena tidak dilakukannya pencarian kebutuhan mahasiswa dalam persiapan pembentukan program kerja dan fungsionalnya. Secara impelementasi, BEM periode 2021 juga memiliki permasalahan, yang mana keterlibatan mahasiswa dalam kepengurusan dan kepanitiaan program kerja juga belum menyeluruh dan merata pada mahasiswa di seluruh jurusan.

MP: Dengan situasi di mana fungsional BEM tidak berbeda jauh dengan himpunan dalam jurusan, dan masing-masing himpunan juga proaktif dalam beraktivitas di kampus, apakah BEM masih relevan untuk ada? Selain fungsi BEM sebagai melting pot bagi mahasiswa antar jurusan dan advokasi (baik ke dalam maupun luar Unpar), dua-duanya juga dapat dilaksanakan oleh himpunan dengan potensi yang ada, apa yang benar-benar membedakan BEM sehingga urgensi harus dipertahankan tetap ada?

Bagi kami, kehadiran Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) akan selalu relevan bagi mahasiswa. Hal ini disebabkan oleh BEM berdasarkan cakupannya memiliki jangkauan dan jumlah mahasiswa yang lebih besar dan bervariatif. Selain sebagai melting point bagi mahasiswa antar jurusan, BEM dapat menjadi wadah bagi mahasiswa melalui program kerja dan fungsionalnya yang mana melibatkan adanya kebutuhan yang menyeluruh serta bervariatif yang dapat membentuk mahasiswa untuk terlibat dan memilih opsi keterlibatannya tidak hanya fokus terhadap jenis kebutuhan yang telah disediakan oleh masing-masing jurusan. Lebih lanjut, sikap dan kegiatan yang dibawakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa, tentunya menjadi representasi mahasiswa UNPAR dan bahkan juga dapat menjadi representasi UNPAR ke dalam ataupu ke luar. Dengan demikian, secara urgensi terhadap eksistensi dan exposure BEM sangat diperlukan dan masih memiliki relevansi hingga saat ini.

MP: Sehubungan dengan demokrasi di Unpar, dan ditambah dengan perihal BEM sekarang yang mempunyai image anti kritik, bagaimana cara kalian untuk memastikan jika suara publik akan tersampaikan?

Kami telah dan akan terus melakukan upaya untuk mendengarkan berbagai masukan dari mahasiswa UNPAR kepada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) melalui diskusi-diskusi dengan mahasiswa UNPAR secara personal maupun kelompok-kelompok tertentu yang merupakan representasi mahasiswa UNPAR secara komunal. Kami juga akan membawa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang lebih terbuka melalui cara yang mudah digapai oleh mahasiswa, misalnya dengan membuka kolom pertanyaan di akun instagram Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) guna meraih masukan dan kritik dari mahasiswa UNPAR mengenai kinerja Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran dari mahasiswa UNPAR agar semakin mengetahui hal yang tengah dirasakan mahasiswa UNPAR untuk kemudian diimplementasikan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

MP: Masih berhubungan dengan demokrasi di Unpar, bagaimana pendapat kalian mengenai surat rektorat pada tahun 2020 yang melarang demonstrasi? Apa surat ini membungkam demokrasi atau memang sudah tepat di jalannya?

Hal tersebut menjadi salah satu konsentrasi kami dalam periode kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang akan kami pimpin sebab kami yakin bahwa UNPAR tidak berniat untuk meredam jiwa demokrasi mahasiswa UNPAR. Kami akan menyelenggarakan berbagai langkah guna mewadahi aspek demokrasi mahasiswa UNPAR, seperti melalui kegiatan diskusi publik dan kajian terhadap isu sosial masyarakat tertentu agar ketika mahasiswa UNPAR menyuarakan aspirasinya terhadap mengenai isu sosial masyarakat ke ranah luar UNPAR. Kami yakin bahwa pihak UNPAR tidak akan melarang kegiatan demokrasi mahasiswa UNPAR apabila kegiatan tersebut didasarkan dasar teoritis dan pemikiran yang jelas.

MP: Apa pendapat kalian mengenai kerenggangan antara pemimpin dan staf dalam organisasi mahasiswa yang rawan mencuat dan apa yang akan kalian lakukan untuk meminimalisasi hal tersebut?

BEM Hadir Berkarya tidak menempatkan adanya kerenggangan antara pemimpin dengan stafnya. Kami melakukan pendekatan secara personal terhadap setiap pengurus BEM khususnya dalam pembekalan persiapan masing-masing individu secara personal, penyiapan program kerja, dan evaluasi. BEM Hadir Berkarya menempatkan hal ini menjadi hal pokok krusial dengan pembentukan departemen khusus yang memiliki fungsi untuk melakukan pembinaan, memperkuat hubungan pengurus serta jembatan bagi pengurus untuk memiliki hubungan yang erat dan sinergis sehingga dapat membentuk produk-produk yang berfungsi sesuai dengan tujuannya. Kami akan melakukan workshop pembekalan, performance appraisal, upgrading, dan pemberian ‘reward’ untuk menjaga kinerja dan performa serta mengapresiasi pengurus BEM UNPAR dalam satu periode.

MP: Isu lain yang beredar di kalangan mahasiswa adalah Perkuliahan Tatap Muka Terbatas (PTMT). Pelaksanaan PTMT diiringi dengan masalah, terlebih masalah transisi kegiatan mahasiswa yang sudah mulai tebriasa dengan aktivitas kuliah dan organisasi secara daring. Bagaimana pendapat kalian mengenai isu ini?

Dengan adanya kebijakan Perkuliahan Tatap Muka, tentuya sebagai organisasi yang merepresentasikan mahasiswa, kami juga akan beradaptasi terhadap bentuk perubahan yang ada. Kami hadir dan saling bahu membahu untuk tetap menyediakan kebutuhan mahasiswa, khususnya dalam kebutuhan transisi perkuliahan tatap muka. Dalam konteks perkuliahan, kami bersama dengan lembaga kemahasiswaan di PM UNPAR akan bersama-sama mendengar dan mengadvokasikan kebutuhan mahasiswa, dari segi pemerataan fasilitas hingga pemahaman pembelajaran mahasiswa sehingga mahasiswa tidak merasa adanya perbedaan atau kesenjangan dalam pengadaan program Perkuliahan tatap muka. Selain itu, dari segi program kerja dalam masa Perkuliahan Tatap Muka, kami juga akan melakukan kegiatan dan kepanitiaan dengan memberikan pembekalan melalui SOP kegiatan, pengawasan kegiatan, hingga evaluasi proses dan pasca kegiatan, sehingga kebiasaan mahasiswa pada proker daring tidak menjadi kekhawatiran besar.

MP: Isu pelecehan seksual di dalam kampus adalah isu yang terjadi sejak cukup lama. Baik kasus yang sebelumnya sudah terjadi maupun yang kemungkinan akan muncul, bagaimana kalian akan mengatasi dan mencegah permasalahan ini?

Kami memahami betul adanya permasalahan sosial berupa pelecehan seksual yang mungkin saja terjadi ataupun dilakukan oleh mahasiswa UNPAR. Dari hal tersebut, pendekatan yang kami lakukan ialah berupa tindakan preventif dan responsif.

Secara preventif, kami akan menggalakkan kegiatan yang juga berfokus terhadap pencegahan pelecehan hingga pengembangan diri secara individu mahasiswa agar dapat merasa terobati, merasa dibantu, dan merasa mendapatkan pendekatan personal melalui kegiatan penunjang diri, khususnya dalam pelatihan diri yang mana akhirnya dapat mengurangi hal-hal yang men-trigger mahasiswa yang memiliki permasalahan atau isu pelecehan. Kami juga ingin hadir untuk memenuhi kebutuhan minat dan bakat mahasiswa, sehingga mahasiswa dapat secara produktif untuk perlahan memperbaiki kesulitan yang dihadapi dalam permasalahan mental.

Secara responsif, kami juga akan mendengar kebutuhan mahasiswa, khususnya apabila terjadi permasalahan sosial seperti isu seksualitas, diskriminatif, kesenjangan, dan isu sosial lainnya serta secara terbuka juga ingin bekerja sama dengan berbagai pihak terkait agar permasalahan yang dihadapi dapat diadvokasikan dan diselesaikan oleh pihak yang berwenang.

MP: Kalian membawakan slogan #HadirBerkarya dalam kampanye yang kalian lakukan. Apa makna dari slogan tersebut?

Hadir berkarya memiliki arti bahwa kami bukan hanya ingin memberikan perencanaan dan pelaksanaan yang baik bagi mahasiswa UNPAR, tetapi kami memulai langkah kami dengan hadir di tengah mahasiswa UNPAR untuk secara pasti mengetahui dan menelaah kebutuhan mahasiswa UNPAR. Selain itu, kami juga ingin menunjukkan eksistensi kami di tengah mahasiswa UNPAR sedari awal hingga akhir kepengurusan kami. Kemudian setelah kami mengetahui hal yang dibutuhkan oleh mahasiswa, kami akan menciptakan karya bersama – sama dari dan untuk mahasiswa UNPAR. Oleh karena itu, kami merumuskan falsafah “Hadir Berkarya” untuk periode kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNPAR 2022 nanti yang akan kami pimpin.

Cara kami untuk mewujudkan BEM Hadir Berkarya adalah dengan melakukan eksplorasi terhadap kebutuhan mahasiswa UNPAR secara mendetail melalui seluruh pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang kami pilih yang ditindaklanjuti melalui pembentukkan program kerja dan fungsional atas dasar kebutuhan mahasiswa yang kami temukan.


Catatan: Wawancara dengan paslon dilakukan pada Kamis, 9 Desember 2021 pada pk. 00:23 melalui korespondensi tertulis

Reporter: Muhammad Rizky

Editor: Hanna Fernandus

Exit mobile version