Wawancara MP dengan Satria-Hanum, Paslon Nomor Urut 2 untuk BEM 2022

Paslon nomor urut 2, Satria & Hanum
Sumber: instagram.com

LIPUTAN KAMPUS, MP–Menjelang diadakannya Pemilihan Umum Persatuan Mahasiswa (PUPM) 2022, para calon pengurus PM Unpar beramai-ramai mengkampanyekan visi-misi dan rencana perubahan yang akan diwujudkan jika terpilih menjadi pengurus PM Unpar selanjutnya. Untuk mengenal lebih dekat calon ketua dan wakil ketua BEM 2022, Media Parahyangan mewawancarai Satria Negarawan (Administrasi Publik, 2019) dan Andi Hanum (Hubungan Internasional, 2019) pasangan calon dengan nomor urut 2 untuk pemilihan ketua dan wakil ketua BEM 2022. Berikut adalah hasil wawancara kami dengan paslon Satria-Hanum:

MP: Menurut kalian, apa permasalahan yang ada dalam BEM periode sebelumnya?

Terlihat masih ada kendala dalam gaya kepemimpinan yang rancu seperti leaderless yang membuat orang di bawahnya kebingungan sehingga tidak ada kesinambungan antara pemimpin dan staf-stafnya yang menyebabkan komunikasi di dalam lembaga tidak tersampaikan dengan baik. Walau demikian, ada beberapa hal positif yang bisa terealisasikan dengan baik, misalnya program kerja. Usaha untuk menjangkau masyarakat juga berjalan dengan baik.

MP: Perubahan apa yang akan kalian bawa untuk memperbaiki kekurangan BEM?

Yang dilakukan oleh periode sebelumnya merupakan kekurangan dari dasar yang membuat tidak ada korelasi antara pemimpin dan pengurus. Di periode selanjutnya, kami akan membawakan mekanisme dengan teori manajemen proses dari visi. misi, hingga proker yang saling berintegrasi dan berhubungan satu sama lain dengan korelasi yang jelas dengan fokus pada fungsionalnya, tidak mis fungsi maupun dwi fungsi. Harapannya bisa membawa perubahan yang lebih baik, baik dari sisi internal BEM-nya maupun output BEM kepada masyarakat, mahasiswa, hingga lingkungan. Dilihat juga tingkat urgensi dari jalur koordinasi yang saling terintegrasi dengan pencapaian komunikasi lanjutan. Kita tekankan visi misi dengan tujuan seperti ini, kita jelaskan fungsi-fungsinya apa sesuai dengan tujuan yang kita inginkan seperti apa. Intinya dari pemimpin dan kepengurusan saling paham apa yang akan kita bawa, tidak pecah-pecah dan tidak punya tendensi khusus untuk melebihkan atau melemahkan satu sama lain.

MP: Sehubungan dengan demokrasi di Unpar, dan ditambah dengan perihal BEM sekarang yang mempunyai image anti kritik, bagaimana cara kalian untuk memastikan jika suara publik akan tersampaikan?

Masalah anti kritik, dari kami sendiri tentunya ingin lebih mendengar keresahan apa yang ada di muka publik. Kami juga tentunya akan mendengar opini, tetapi akan memproses lebih lanjut konteks aspirasinya seperti apa. Tentunya kami tidak akan gegabah dalam menanggapi opini publik tersebut. Kami akan melihat apa sih intensi dari opini yang telah disuarakan. Kami percaya jika ada kritikan, itu akan mendorong kami untuk melakukan refleksi diri untuk memperbaiki kinerja ke depannya.

MP: Bagaimana cara kalian untuk menampung aspirasi mahasiswa yang kalian maksud?

Di sini kami tahu jika kita butuh aspirasi dari mahasiswa. Entah mereka menyampaikan pada kita soal bagaimana caranya dan bentuk konkretnya. Di situ kami membuat suatu proker yang menyapa mahasiswa, dengan mengembangkan website, sosial media, dan platform yang sudah ada untuk menghubungkan kita dan mahasiswa lain agar lebih terintegrasi, dalam arti kata setiap mereka bersentuhan dengan kita, dengan membuka website, sosial media, dan lainnya, akan kita fasilitasi. Di situ kita akan tahu apa yang mereka butuh kan, apa yang mereka inginkan, apa yang menjadi kendala saat ini, seperti itu pergerakan intensifnya. Kemudian jika ada permasalahan yang menjadi urgensi bersama, kita bahas melalui forum komunikasi, kita diskusi apa yang ingin kita capai, lakukan, untuk membantu. Kita fokuskan dalam menyediakan segalanya untuk memudahkan mereka untuk berkomunikasi dengan kita, entah melalui sosial media, website, yang dikembangkan secara digital untuk memudahkan mereka menyampaikan aspirasinya. Pertimbangan lain semisal pertemanan, media terbuka, menjadikan kita tahu apa yang menjadi pembahasan saat ini. Untuk BEM sendiri nantinya kita akan men-approach mereka sebagai perpanjangan tangan untuk memastikan jika tersalurkan ke orang yang tepat.

MP: Masih berhubungan dengan demokrasi di Unpar, bagaimana pendapat kalian mengenai surat rektorat pada tahun 2020 yang melarang demonstrasi? Apa surat ini membungkam demokrasi atau memang sudah tepat di jalannya?

Suatu demokrasi yang baik adalah demokrasi yang berjalan sesuai dengan urgensi demokrasinya sendiri. Untuk memberikan suatu kebebasan berpendapat dan penggunaan haknya, hak tersebut akan menjadi tantangan dalam demokrasi, kita berpendapat seperti ini, kita beropini seperti ini, tapi kita harus menjaga hak dan pendapat orang lain juga. Maka dari itu, demokrasi tidak terlepas dari hal yang tidak bisa dilepaskan. Ada Pancasila, budaya bangsa, UUD 45, yang kita harus pahami jika demokrasi merupakan suatu cara, tapi juga ada batasannya. Di sini, dengan kita melakukan demokrasi dengan patokannya sebagai suatu permasalahan dengan menyampaikan aspirasinya agar tidak digunakan sepihak dan bersikap layaknya mahasiswa terdidik. Di situ terlihat yang terealisasi melalui demonstrasi menunjukkan sikap demonstrasi secara demokrasi, dalam artian kita sebagai mahasiswa harus menunjukkan sikap-sikap mahasiswa yang terdidik. Di sini dalam arti kata kita tidak bisa kekang demokrasinya, demonstrasi merupakan salah satu cara dari demokrasi. Kita lihat intensi yang kita bawa digunakan secara tepat dan terarah. Kita lihat urgensinya jika diperlukan, menurut kami itu bukan menjadi masalah, menurut kami bahwa demonstrasi itu sebagai bagian dari demokrasi dan tidak bisa dilepaskan. Tapi kita tahu tidak hanya demonstrasi yang bisa digunakan, ada banyak cara untuk menjunjung demokrasi, menunjukkan jika kita bahwasanya kita punya pendapat opini yang kita aspirasikan dengan cara lain. Kami tidak mengesampingkan hal itu. Mungkin kita lihat dari urgensinya, apakah butuh atau tidak.

MP: Apa pendapat kalian mengenai kerenggangan antara pemimpin dan staf dalam organisasi mahasiswa yang rawan mencuat dan apa yang akan kalian lakukan untuk meminimalisasi hal tersebut?

Kita tidak bisa memastikan jika orang-orang yang dipilih nanti itu akan sesuai selamanya. Kita tahu pasti dan menanamkan jika kita di sini untuk BEM, fungsi, tugas dan kewenangan, kita bertindak sebagai eksekutif. Asal kita bergerak sesuai dengan apa yang kita tuju itu selaras, kita tahu fungsi dan tujuan kita seperti apa. Sehingga ada keyakinan penuh dari kita dan tidak ada kepentingan diri jika yang kita bawa itu BEM-nya, lembaga eksekutif, di situ yang kita tanamkan.

MP: Isu lain yang beredar di kalangan mahasiswa adalah Perkuliahan Tatap Muka Terbatas (PTMT). Pelaksanaan PTMT diiringi dengan masalah, terlebih masalah transisi kegiatan mahasiswa yang sudah mulai tebriasa dengan aktivitas kuliah dan organisasi secara daring. Bagaimana pendapat kalian mengenai isu ini?

Melihat dari siklus pembelajaran di masa pandemi, masih banyak adaptasi yang mesti dilakukan secara ekstrem. Permulaan dengan rancangan yang jelas serta setiap rancangan yang memiliki banyak perubahan dan terus update, kita melihat hal ini sebagai permasalahan yang berkepanjangan. Kita harus bisa menyesuaikan dengan mahasiswa, lingkungan, dan dosen, bahwa yang kita lakukan itu tepat. Dengan proker yang kita bawakan nantinya, kita tunjukkan jika banyak lho, proker yang harus dilakukan secara luring dan bisa secara daring, kita pastikan jika program kerja ini akan berjalan seperti apa. Kita buat suatu skema bagaimana jika dilakukan secara daring dan luring. Kita lakukan secara tepat guna. Kami tahu jika tidak bisa memastikan, daring atau luring, karena dalam pandemi ini kita ada yang namanya kepastian. Maka dari itu kami akan membuat skema tentang apa pun yang terjadi di masa depan. Entah itu daring atau luring, kita memberikan suatu penjelasan kepada staf-staf yang terpilih, kita tahu jika program ini jika dilakukan offline seperti apa, online seperti apa, keburukannya seperti apa, keuntungannya apa, dan semacamnya. Kemudian kita tentukan apakah staf yang direkrut siap untuk menempuh apa pun yang terjadi nantinya, melalui kesepakatan awal jika program nantinya akan transparan dan konkret apa yang akan dilakukan, dan tahu targetnya akan ke mana.

MP: Isu pelecehan seksual di dalam kampus adalah isu yang terjadi sejak cukup lama. Baik kasus yang sebelumnya sudah terjadi maupun yang kemungkinan akan muncul, bagaimana kalian akan mengatasi dan mencegah permasalahan ini?

Sangat disayangkan kasus seperti ini masih marak terjadi. Kami ingin mendampingi, mendukung, dan bergerak bersama korban. Jika permasalahan ini terjadi di dalam BEM-nya sendiri, kami pastinya akan menindaklanjuti permasalahan ini, misal dalam bentuk pelepasan anggota secara tidak terhormat dan juga memberikan sanksi berat yang sesuai dengan apa yang korbannya inginkan, karena kasus seperti ini itu kembali kepada korbannya, apa sih yang korbannya mau. Selain itu, jika permasalahan ini terjadi di lingkungan yang lebih luas di dalam kampus, yang dapat kami lakukan itu dengan menindaklanjutinya dengan mendukung korban dan memberikan semacam pernyataan sikap. Apabila diperkenankan, jika korbannya mau, akan diberikan sanksi sosial terhadap pelaku. Kami paham betul permasalahan ini sering terjadi di iklim masyarakat saat ini, dan sering dianggap masalah sepele. Kalangan apa pun, gender apa pun, bisa menjadi korban juga. Sejauh ini harapan kami bisa menciptakan lingkungan yang sehat dan aman dalam menjalani aktivitas sehari-hari di lingkup kampus sendiri.

MP: Kalian membawakan slogan #UNPARBermakna dalam kampanye yang kalian lakukan. Apa makna dari slogan tersebut?

Unpar Bermakna kita pahami jika kita punya arti penting bagi orang lain, begitu juga dengan orang bagi kita. Ini adalah hubungan selaras antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok. Jadi kita pahami betul jika setiap orang, setiap fenomena, setiap pemahaman yang akan kita bawa, dengan pengetahuan dan pelajaran yang kita tahu tujuan sama-sama, kami ingin semua orang memiliki kebersamaan di dalam masyarakat Unpar, setiap orang merasa aman dengan apa yang mereka bawa, rasa nyaman apa yang mereka rasakan, itu memiliki keberartian dan kebermaknaan di dalam dirinya, maupun di lingkungannya. Kita bawa kondisi dan situasi yang setiap individu dan orang-orang yang berjalan di antara kita memiliki kemaknaan dan value bagi dirinya dan orang lain. Kita sadar jika BEM bukan hanya agen perubahan saja, BEM juga menyadarkan jika setiap orang bisa menjadi agen perubahannya sendiri, setiap mahasiswa jika bisa. BEM menjadi suatu mediator bagi mahasiswa yang lain dan organisasi yang sudah ada untuk memberikan kesan yang mana mereka juga bisa, mampu, untuk berarti bagi orang lain.

Untuk itu kami membawa slogan Unpar Bermakna untuk keberartian banyak orang, untuk khalayak ramai, entah itu di lingkup kampus, keluarga, masyarakat, lingkungan, kita tahu jika kita tidak bergerak sendirian. Kita membutuhkan orang lain untuk mencapai suatu tujuan bersama, makanya kami sadari jika Unpar Bermakna ini menjadi poin penting untuk berjalan beriringan untuk menuju tujuan bersama. Wujudnya jelas, rasanya jelas, validasinya jelas, jika kita memiliki rasa yang sama. Dari situ kita tahu merealisasikannya dengan proker-proker yang kita utamakan dengan individunya, kelompoknya, kegiatannya, sebagai manusia melalui forum komunikasi yang menyadarkan jika kita bisa kok, setiap orang bisa menyalurkan aspirasinya, setiap orang menjadi agen perubahannya sendiri, di situ kita tahu jika kebermaknaan ini bukan milik segelintir orang, orang berkepentingan, tapi kebermaknaan ini dimiliki oleh setiap orang, setiap individu, setiap hak dan kewajibannya yang memiliki makna bagi dirinya dan orang lain. Untuk itu Unpar Bermakna hadir untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa, tidak hanya kebutuhan secara organisasinya saja, tapi kebermaknaan untuk dirinya sendiri. Karena yang terpenting adalah tujuan kita untuk kebersamaan dengan memaknai kehidupan di dalam Unpar Bermakna.


Catatan Redaksi: Wawancara dengan paslon dilakukan pada Kamis, 2 Desember 2021 melalui panggilan Google Meet

Reporter: Muhammad Rizky

Editor: Hanna Fernandus

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *