Menilik Permasalahan Pelik dalam Squad Manchester United

INTERNASIONAL, MP – Karier Ole di Manchester United terselamatkan setelah berhasil menumbangkan Tottenham pada sabtu lalu. Sebelumnya, hashtag dan seruan ‘Ole Out’ terdengar semakin keras dari para pendukung MU di media sosial. Performa buruk sejak awal musim 2021-2022 ini menjadi imbas dari ramainya seruan agar MU mengganti pelatih asal Norwegia yang telah menahkodai MU sejak Desember 2018 lalu ini. Puncaknya pada minggu lalu, setelah MU kalah telah dari rival terbesarnya, Liverpool, dengan skor telak 5-0. Sebelumnya, MU juga harus bertekuk lutut di hadapan skuad Leicester City dengan kekalahan 4-2.

Performa MU dan Ole pada musim lalu sebenarnya tidak bisa dibilang buruk. MU berhasil duduk di peringkat 2 klasmen, dengan catatan 21 kemenangan, 11 hasil imbang, dan 6 kekalahan. Peringkat kedua ini didapat dengan raihan 74 poin, 12 poin lebih sedikit dari Manchester City yang keluar menjadi juara dengan total 86 poin.

Perbedaan mencolok dari musim lalu dan musim saat ini adalah soal materi pemain, yang mana materi pemain musim ini dirasa kurang memiliki performa yang baik, khususnya untuk tim sekelas MU, dibandingkan dengan musim lalu. Transfer bombastis dengan mendatangkan Jadon Sancho, Raphael Varane, hingga Cristiano Ronaldo, masih tidak selaras dengan taktik Ole di atas lapangan. Permasalahannya satu, pemain-pemain bernilai triliunan rupiah itu, masih belum mampu klik antar satu dengan yang lainnya.

Di mulai dari lini depan, nama besar Ronaldo, pengoleksi 5 bola emas Ballon d’Or ini justru membawa malapetaka tersendiri bagi squad Ole, di samping torehan gol-golnya yang telah mampu menyelamatkan MU dari kekalahan. Ronaldo memang cenderung ‘malas’ untuk melakukan pressing terhadap pemain lawan. Padahal dalam sepakbola modern, pressing secara tidak langsung menjadi kewajiban bagi semua pemain. Selain berusaha untuk merebut bola dan melakukan serangan balik, pressing penting dilakukan oleh pemain depan untuk menutup ruang dan kesempatan bagi pemain lawan yang sedang berusaha membangun serangan.

Sebuah statistik yang bersumber dari The Athletic menujukkan jika Ronaldo rata-rata hanya melakukan pressing sebanyak 2,7 kali per 90 pertandingan. Jumlah ini sangat jauh di bawah penyerang lain di Premier League, seperti Jamie Vardy dengan 10 pressing per pertandingan, Mohammad Salah 12,7 pressing, dan Gabriel Jesus dengan rata-rata 12,8 pressing. Bahkan statistik pressing Ronaldo ini masih lebih rendah dari Messi yang kini juga sedang mengalami pernurunan performa.

‘Kemalasan’ Ronaldo dalam melakukan pressing justru memberikan beban dan tugas tambahan bagi pemain lain. Greenwood dan Bruno Fernandes misalnya, yang harus bermain lebih ngotot dalam merebut dan menutup jalan lawan tiap kali mereka disandingkan bersama Ronaldo.

Di lini tengah, Fred dan McTominay yang kini menjadi tulang punggung MU, masih gagal berperan sebagai jembatan dari lini belakang ke lini depan. Ole sendiri mengakui jika lini tengahnya ini tidak memiliki kendali yang cukup atas jalannya pertandingan. Transisi dari bertahan ke menyerang yang menjadi tugas pemain tengah juga gagal diemban dengan baik oleh Fred dan McTominay. Ole tidak punya banyak pilihan selain melakukan rotasi dengan memainkan Pogba, yang akhir-akhir ini juga sedang dalam performa buruk.

Kedatangan Varane dan Maguire yang total transfer keduanya bernilai lebih dari 2 triliun rupiah ini, belum cukup untuk membangun benteng pertahanan yang kuat. Masalah cedera yang menimpa keduanya, turut berpengaruh pada penurunan performa Varane dan Maguire yang kedatangannya diharapkan bisa menutup lubang besar di sektor pertahanan MU. Maguire juga berkali-kali disorot akibat melakukan blunder berulang yang berujung membuat lawan mencetak gol. Luke Shaw yang memilik bisa membantu menyerang dengan melakukan over-lap dari sisi kiri lapangan, kerap kerepotan saat lawan melakukan serangan balik.

Tidak selesai sampai di situ. Tekanan yang dialami Ole kian bertambah akibat adanya tuntutan dari para fans yang kerap bertentangan dengan strategi yang dimiliki Ole. Citra dan pamor besar yang ada pada Pogba dan Ronaldo, membuat para fans menuntut Ole untuk selalu memainkan kedua pemain tersebut, walaupun seringkali keduanya justru merusak tatanan strategi yang telah diracik Ole. Para fans sudah terlanjur larut dalam romantisme dengan Ronaldo setelah kepulangannya ke Old Trafford, sehingga tak lagi peduli bagaimana performa Ronaldo di lapangan.

Secara garis besar, karir Ole di MU kini berada di ujung jurang. Jika masih berkutat dengan hasil tanding yang sama, bisa dipastikan nama Ole akan segera digantikan. Di media sosial, nama-nama pelatih besar seperti Antonio Conte dan Zinedine Zidane santer terdengar sebagai kandidat pengganti Ole. Namun, tidak ada jaminan jika pelatih-pelatih ini akan mampu mengendalikan squad MU secara lebih daripada Ole.

Penulis: Muhammad Rizky

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *