[OPINI] Seksualisasi Karakter Wanita di Video Games, Haruskah Dituntaskan?

OPINI, MP–Feminisme menjadi gerakan yang bukan lagi asing di perkembangan sosial masyarakat. Ideologi ini pertama kali menjadi perhatian di Eropa berabad-abad lalu. Adapun definisi feminisme sendiri merupakan gerakan menyetarakan seluruh gender dalam aspek ekonomi, sosial, dan politik. Untuk beberapa alasan, gerakan ini penting guna mematahkan stigma tertentu atas sesuatu yang selalu diperhadapkan dengan jenis kelamin. Bagi feminis, perilaku tersebut tentu tidak menjunjung hak asasi manusia yakni manusia dapat berekspresi tanpa harus dibatasi dengan jenis kelamin yang dimiliki.

Tak hanya pada dunia realita saja, pada dunia virtual video games gerakan feminisme cukup menjadi perhatian. Pecinta video games pasti sudah tidak asing dengan karakter-karakter yang tampan/cantik, tinggi/pendek, atau bahkan karakter yang tidak akan mungkin/sulit untuk ada dalam kehidupan nyata seperti; monster, pria berkepala besar, wanita dengan kekuatan super, hingga wanita yang berlenggak-lenggok di kerumunan zombie dengan pakaian sobek nan seksi sambil membawa senapan. Mengapa hanya wanita saja dibahas sangat spesifik? Sebab, isu representasi wanita seksi di video games-lah yang sangat mencuri perhatian feminis.

Sebenarnya, tidak hanya permasalahan tubuh seksi wanita di video games yang menjadi permasalahan tetapi ada permasalahan lainnya yang harus segera dituntaskan dilansir dari Inkspire. Permasalahan tersebut adalah pakaian yang terlalu minim membuat pemain/penikmat video games hampir dapat/dapat menyaksikan area sensitif. Permasalahan kedua adalah standar kecantikan untuk karakter wanita di video games dianggap tidak realistis. FeminismIndia menyebutkan bahwa hal tersebut menjadi hal yang lumrah agar pemain video games pria atau karakter di video games pria menjadi tertarik. Lebih umumnya merupakan semacam “pemikat” agar para pria tertarik entah pria di video games/pria nyata. Alasan mengapa industri video games kerap membuat standar tinggi/menseksualisasi karakter wanita secara berlebihan karena industri video games ingin memberikan persepsi yang baik akan video games yang dibuatnya kepada pelanggan.

Pandangan Penyebab Seksualisasi Karakter Wanita Berlebihan

Adapun penyebab adanya ketimpangan pandangan atas seksualisasi yang berlebihan atas karakter video games wanita adalah (FeminismIndia):

  1. Minimnya tenaga kerja wanita yang bekerja di industri video games.
  2. Pasar video games untuk pria heteroseksual di USA dan UK sebesar 46%, mengindikasikan bahwa pria homoseksual, wanita hetero maupun homoseksual masing-masing memiliki pangsa pasar yang rendah untuk video games.

Namun apakah kedua hal tersebut menjadi landasan bahwa seksualisasi karakter wanita di video games harus segera dituntaskan? Sebelum masuk ke pembahasan tersebut, ada pandangan bahwa seseorang akan bereaksi akan ketidaksempurnaan dirinya ketika sudah melihat objek/sesuatu yang bukan dari dirinya. Reaksi tersebut memiliki nama objectification. Dalam kasus ini apabila ada wanita yang merasa minder setelah memainkan permainan video games-nya, maka wanita tersebut tidak puas dengan apa yang dimilikinya selama ini. Tentunya hal ini menjadi ancaman untuk kesehatan mental terlepas wanita/pria yang mengalaminya.

Sekarang, apakah seksualisasi karakter wanita harus segera dituntaskan? Nyatanya, ada beragam pendapat yang menentang pandangan ini. Hal yang mengejutkannya adalah pendapat tersebut datang dari seorang feminis. Christina Hoff Summer, seorang feminis berusaha mengutarakan pendapat pada kanal YouTube American Enterprise Institute di episode ke 15 musim pertama. Summer mengatakan bahwa setelah penelitian yang dilakukan, tidak ada hubungan/reaksi tertentu bagaimana pemain video games (terutama pria) memiliki kebiasaan/perilaku yang mengarah pada seksualisasi karakter (terutama wanita). Pemain memang hanya ingin bermain video games. Penelitiannya juga menyebutkan bahwa, pengembang video games bahkan tidak memperhatikan isu-isu patriarki hingga feminisme. Maksudnya adalah, mereka membuat video games semenarik mungkin bagi penikmat video games. Tampaknya, hal ini bukanlah permasalahan ketika pemain hanya mencari permainan yang menarik dan pengembang memang hendak membuat permainan menarik atau tidak ada isu-isu yang diselipkan guna kepentingan tertentu. Sejalan dengan pendapat tersebut, Insidehook menyebutkan bahwa menurut desainer games wanita di salah satu industri video games bahwa ia bahkan tidak mementingkan permasalahan seksualisasi karakter wanita di video games.

Lalu apa yang menjadi penting ketika seksualisasi karakter wanita sebenarnya bukan isu utamanya? Banyak sekali pencarian artikel maupun pendapat yang mengarahkan permasalahannya ke proporsi wanita di video games. Entah mulai dari karyawan industri, pengembang video games, hingga tokoh-tokoh protagonis wanita di video games. Adapun perbandingan yang dapat dilakukan bahwa isu ini sebenarnya bukanlah urgensi adalah bahwa banyak juga permainan video games kerap kali menseksualisasikan karakter pria di video games. Seperti baju kutang sobek sobek hingga terlihat perutnya atau bahkan pria hampir telanjang pun ikut menjadi bagian dalam video games.

Pada intinya, pemain video games sebenarnya tidak mempermasalahkan isu seksualisasi wanita dalam video games. Isu pentingnya adalah bagaimana sekarang industri video games dapat melibatkan wanita lebih banyak lagi guna memecahkan stigma ketidaksetaraan jenis kelamin atas sesuatu baik secara virtual maupun realita. Adapun jalan keluar yang sebenarnya sudah ada pada permasalahan ini adalah age restrictions dan kategori permainan pada video games yang harus diperhatikan oleh penikmat video games. Hal tersebut juga dapat membantu para orang dewasa dalam memilihkan video games baik bagi dirinya, orang lain bahkan hingga anak-anak. 

Sumber

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0022103120303917

https://www.statista.com/statistics/232383/gender-split-of-us-computer-and-video-gamers/

https://feminisminindia.com/2020/02/21/are-video-games-really-just-a-guys-thing

https://inkspire.org/post/gender-struggles-female-representation-in-video-games/-M7d51VKbu2OSfnfQ9am

Penulis : I Kadek Dwiky Wisnu Wijaya

Editor : Agnes Zefanya Yonatan, Debora Angela

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *