Palestina Semakin Tersudut: Di Mana Negara-Negara Arab?

EDITORIAL, MP — Konflik antara Israel dan Palestina yang terjadi beberapa bulan lalu sempat kembali memanas. Diawali dengan adanya aksi kekerasan terhadap jamaah ibadah di kompleks Masjid Al-Aqsa, konflik berakhir dengan kedua negara saling serang menggunakan senjata roket jarak pendek. Penyerangan ini dimulai terlebih dahulu oleh Hamas, kelompok Islam yang menguasai wilayah Gaza, yang kemudian direspons oleh Israel dengan sistem pertahanan The Iron Dome.

Kendati demikian, beberapa serangan roket dari Hamas gagal dihalau oleh pencegat roket milik Israel dan akhirnya jatuh menghujam bangunan dan pemukiman warga. Israel kemudian melakukan serangan balasan dengan turut mengirimkan roket-roket dan serangan udara ke wilayah Gaza yang kemudian memakan hampir 200 korban jiwa.

Menilik lebih dalam soal Palestina, tentunya hal yang terbayang dalam benak kita adalah negara yang dikelilingi oleh bangsa Arab, yang memiliki kesamaan identitas atas bahasa, etnisitas dan religi. Atas kesamaan identitas ini, dahulu negara-negara yang tergabung dalam Liga Arab adalah pihak yang paling vokal dalam menentang Israel dalam bentuk apapun.

Menanggapi hal ini, tidak ada pernyataan sikap atau tindakan lebih lanjut dari negara-negara Arab. Mereka malahan hanya membuat kecaman terhadap Israel tanpa disertai tindakan yang konkrit. Alhasil, Palestina semakin tersudut. Korban semakin berjatuhan, mulai dari anak kecil hingga lansia. Lantas, dimanakah negara-negara Arab? Mengapa mereka seakan “tinggal diam”?

Posisi Negara-Negara Arab

Sikap negara-negara Arab yang cenderung pasif terhadap serangan Israel di Palestina merupakan dampak atas eratnya hubungan Israel dan Amerika Serikat, yang mana AS juga memiliki pengaruh yang signifikan di kawasan tersebut. Israel sendiri aktif melobi AS untuk menjaga politik luar negeri hingga keamanan dalam negeri, terutama pada konflik Israel-Palestina. Dari sisi lain, negara-negara Arab yang umumnya bermusuhan dengan Iran, mesti mengamankan diri dengan menggandeng dan menggaet dukungan AS untuk bisa menahan ancaman dari Iran tersebut.

Hubungan keamanan antara negara-negara Arab dan AS terjadi secara masif, hingga melahirkan suatu ketergantungan keamanan. Saat ini, negara-negara Arab merupakan pembeli terbesar dari persenjataan produksi AS, dengan Arab Saudi yang berada di posisi pertama dengan total pembelian dalam 10 tahun terakhir yang mencapai AS$350 miliar. Negara-negara sekitarnya, seperti Uni Emirat Arab dan Kuwait juga menjadi konsumen besar persenjataan AS, yang membuat mereka semakin bergantung pada politik luar negeri Amerika Serikat.

Atas pengaruh besar dari AS ini, hubungan negara-negara Arab dengan Israel juga semakin dekat. Di tahun 2020 lalu, 4 negara Arab yang antara lain adalah Uni Emirat Arab, Maroko, Bahrain, dan Sudan mulai menjalin hubungan diplomatiknya dengan Israel. Banyak pengamat yang meyakini jika AS memegang peran penting dalam terjalinnya hubungan ini yang mana 4 negara Arab tadi dijanjikan persenjataan yang lebih mutakhir jika saja mereka mau menjalin hubungan yang lebih baik dengan Israel.

Hal ini tentu sangat menyakitkan bagi Palestina, yang jelas saja merasa dikhianati. Pada dialog-dialog yang sebelumnya terjadi, negara-negara Arab mengklaim bahwa mereka hanya akan menormalisasi hubungannya dengan Israel jika saja Israel memberikan kemerdekaan pada Palestina di Tepi Barat dan Gaza. Tetapi, janji mereka pada dialog tersebut buyar, diiringi dengan terjalinnya hubungan yang semakin mesra antar negara-negara Arab dan Israel yang membuat Palestina semakin tersingkirkan.

Sebagai tambahan, Arab League sebenarnya didirikan dengan maksud untuk mencegah negara Yahudi di Palestina. Namun, organisasi itu sekarang tidak memainkan peran yang menonjol dalam upaya damai Israel-Palestina.

Kekalahan Arab Sepanjang Sejarah

Berkaca dari kejadian-kejadian sebelumnya, mungkin Negara-Negara Arab tidak mau mengulang kejadian yang sama pada saat mereka dipermalukan oleh Israel setelah mereka menerima kekalahan secara terus menerus pada Perang Arab-Israel Pertama, Perang Yom Kippur, Perang Krisis Suez dan Perang 6 hari oleh Israel.

Argumentasinya adalah mengapa pasukan gabungan/koalisi Arab Saudi lebih memilih untuk melakukan penyerangan terhadap kelompok Houthi di Yaman yang berafiliasi dengan Syiah di Iran, daripada mengurusi Bangsa Penjajah Israel yang notabenenya adalah musuh abadi Negara-Negara Arab?

Sejarah mencatat. Selepas Israel resmi didirikan (14 Mei 1948), dalam perang Arab-Israel pertama (15 Mei 1948), pasukan gabungan yang terdiri dari Yordania, Arab Saudi, Irak, Lebanon, Mesir dan Suriah harus tunduk terhadap Israel setelah mereka mencoba masuk ke daerah-daerah Palestina yang diakui sebagai milik Israel.

Mengutip dari buku Palestine 1948: War, Escape and the Emergence of the Palestinian Refugee Problem, dalam Perang Arab-Israel pertama yang berlangsung selama 10 bulan, ada sekitar 40 ribu tentara Arab yang dikerahkan. Sementara dari Israel jumlahnya hanya 30 ribu tentara saja. Namun, pada 1949 jumlahnya meningkat drastis menjadi 117 ribu tentara.

Perang Arab-Israel meletus lagi ketika Mesir berusaha menasionalisasi Terusan Suez pada tahun 1956. Kebijakan yang diprakarsai oleh Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser mendorong Israel untuk menyerang Semenanjung Sinai, memicu peristiwa yang dikenal sebagai “Krisis Suez”. Perang Arab-Israel kedua ini berakhir dengan damai setelah Inggris dan Perancis turut mendarat di pelabuhan Suez. Mesir sepakat untuk membayar jutaan dolar US kepada Suez Canal Company sebelum dinasionalisasikan oleh Presiden Mesir Nazer.

Selanjutnya, pada Perang Arab-Israel ketiga, Negara-Negara Arab seperti Mesir, Yordania, Suriah dan Irak harus kembali dipermalukan oleh Israel. Ini dimulai ketika ketegangan antara Mesir dan Israel kembali meningkat. Mesir kemudian mengerahkan pasukannya menuju Semenanjung Sinai yang kemudian direspon oleh Israel dengan menyerang pangkalan udara Mesir pada 5 Juni 1967. Perang ini adalah peristiwa yang paling ikonik dari beberapa Perang Arab-Israel, karena Israel dapat melumat semua musuhnya hanya dalam waktu 6 hari saja (5-10 Juni 1967). Maka dari itu, peristiwa ini dinamakan dengan nama Six Day War.

Pada tahun Oktober 1973, lagi dan lagi Israel kembali berjaya setelah memenangkan perang yang bertepatan pada perayaan hari raya besar kedua belah pihak yakni upacara penebusan dan pengampunan dosa bagi Umat Yahudi atau yang dinamakan dengan Upacara Yom Kippur, dan Hari Raya Ramadhan bagi Umat Muslim. Meski Israel menang secara militer, namun Mesir dan Suriah menang secara politik karena berhasil kembali menempati daerah yang sempat dikuasai oleh Israel akibat kekalahan Liga Arab pada 1967.

Berkaca dari kejadian sebelumnya, Negara-Negara Arab mungkin sudah kapok akan kekalahan mereka melawan Israel. Militer Israel merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Israel selalu memodernisasi alat-alat militernya, baik melalui dukungan Amerika Serikat, maupun peningkatan militer dalam negeri. Selain itu, Israel memiliki lobi-lobi yang sangat kuat dalam politik luar negerinya. Keberhasilan inilah yang membuat Israel dapat menjadi bangsa yang kuat, yang ditakuti oleh musuh-musuhnya sampai dengan saat ini. Apabila Negara-Negara Arab masih saja bersikap acuh tak-acuh terhadap Palestina, sampai kapanpun, Israel akan terus menyudutkan Palestina

Sumber

Penulis : Nathanael Angga

Editor : Agnes Zefanya Yonatan, Debora Angela

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *