Site icon Media Parahyangan

Kuliah Semester Genap Unpar 2020/2021 Dipastikan Kembali Daring

STOPPRESS, MP — Pihak Rektorat Unpar resmi mengumumkan bahwa kegiatan perkuliahan Semester Genap 2020/2021 akan dilaksanakan secara daring. Hal ini diumumkan melalui Surat Edaran Nomor III/R/2020-12/2120 yang baru dirilis hari ini, 2 Desember 2020, melalui kanal media sosial Biro Kemahasiswaan dan Alumni Unpar.

Dari ketentuan-ketentuan yang disebutkan, teknis perkuliahan Semester Genap hampir sama dengan Semester Ganjil sekarang. Keputusan perkuliahan daring sendiri terbuka pada tinjauan ulang hingga UTS Genap 2020/2021 yang, didasari pada poin ke-2 dalam Surat Edaran, akan dilaksanakan pada bulan Mei 2021.

Perubahan metode perkuliahan, jika memungkinkan, akan dialihkan menjadi campur antara daring dan luring. Sementara itu, untuk pemakaian fasilitas di kampus, mahasiswa tetap harus meminta izin dan rekomendasi dan Dekan Fakultas, orang tua, serta mengikuti protokol yang ada.

Peraturan ini sendiri dibuat berdasarkan SKB Kemendikbud, Kemenag, Kemenkes dan Kemendagri No. 01/KB/2020, No. 516/2020, No. HK.03.01/Menkes/363/2020, No.4400-882 tahun 2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi COVID-19; Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi COVID-19 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI; dan hasil rapat pihak Universitas pada tanggal 25 dan 26 November 2020.

Sebelumnya, kota Bandung sendiri ditetapkan sebagai zona merah minggu ini. Ini tampaknya bertentangan dengan basis keputusan Kemendikbud untuk membuka kemungkinan menyelenggarakan kegiatan pendidikan daring dan luring secara bersamaan. Meskipun sebelumnya pandemi korona di Indonesia diprediksi akan selesai tahun ini, namun prediksi ini belum terjadi sampai hari ini. Sampai hari ini, tingkat peningkatan kasus baru korona setiap harinya terus menambah secara konstan dan signifikan, dengan penanganan pandemi dari pemerintah terus menerus dikritik oleh koalisi masyarakat sipil.

Hanna Fernandus, Muhammad Naufal Hanif

Exit mobile version