79 DARI 111 Access Point Telah Usang, WiFi Unpar Tidak Bekerja Optimal

Pihak BTI Memantau Kecepatan WiFi Internet Unpar di Kantor BTI

STOPPRESS, MP – Keluhan mahasiswa Unpar mengenai keterbatasan akses dan lambatnya internet sudah ditampung oleh Badan Teknologi dan Informasi (BTI) sejak tahun lalu. WiFi Unpar tidak bekerja optimal karena 79 dari 111 access point Unpar sudah selayaknya diganti. Dana yang besar menjadi hambatan pergantian access point yang dapat memaksimalkan WiFi Unpar.

Berdasarkan hasil survei Aku Mau Bersuara (Kumur) yang diadakan oleh divisi pengembangan masyarakat HMPSIHI, sebanyak 66,67 % mahasiswa HI Unpar berpendapat wifi menjadi fasilitas yang perlu ditingkatkan. Survei yang terjadi pada pertengahan bulan Oktober lalu, diadakan selama dua hari. Nydia Anjani, selaku koordinator divisi pengembangan masyarakat HMPSIHI mengatakan bahwa terdapat 120 koresponden yang berpatisipasi dalam survei tersebut.

Keluhan mengenai wifi bukan keluhan yang asing dari mahasiswa. Beberapa mahasiswa menganggap WiFi tidak memadai untuk menunjang pembelajaran di kampus dan mekanisme login WiFi yang dinilai kompleks.

“Ribet, setelah login, ada pop ups yang banyak banget, udah kayak gitu harus terima gak bisa nyambung koneksi WiFi,” ujar Denatalie Hutagalung, mahasiswa Hubungan Internasional 2016. Denatalie juga mengatakan bahwa kecepatan internet di FISIP rendah sehingga tidak efektif ketika mengerjakan tugas.  “Saat studio sebenarnya membutuhkan internet, tapi koneksinya sulit,” kata CE, mahasiswa Arsitektur tingkat tiga.

 

WiFi Kadaluarsa dan Limitasi Access Point

Biro Teknologi Informasi (BTI) mengakui bahwa permasalahan wifi memang sudah menjadi perhatian dan masalah yang harus diselesaikan. “Komplainan mengenai Wifi semakin hari semakin banyak,” ungkap Agustinus Wisnu Rumono selaku Kepala BTI UNPAR, ketika ditemui di kantor BTI pada hari Jumat (26/9) lalu.

Pasalnya 79 dari 111 WiFi yang diinstalasi di UNPAR adalah hasil instalasi 8 tahun yang lalu selayaknya diganti. “Dari 111 WiFi, 79 dinyatakan kadaluarsa, sudah lama banget dan itu yang kita ingin perbaiki juga,”ucap Agustinus. WiFi yang dinyatakan kadaluarsa tersebut terdistribusi di Gedung 2, 3, dan 9 dan di luar area kampus Ciumbuleuit.

Access Point di Gedung 3 yang terinstalasi satu alat disetiap lantai.

Zone Director merupakan satu alat pada setiap gedung yang memegang 25 access point. Hal ini yang mengakibatkan WiFi Unpar dikelompokkan menjadi beberapa nama Wifi, yaitu UNPAR 8, UNPAR 9, UNPAR 3, dan lain-lain.

Keterbasan Zona Director yang hanya bisa memegang 25 access point mengakibatkan, mahasiswa hanya dapat mengakses WiFi Unpar tertentu ketika ada di tempat-tempat berbeda. “Sebenarnya gak enakeun karena ke mana-mana harusnya (red. nama Wifi-nya) Unpar saja,” kata Agustinus.

Setiap access point juga memiliki limitasi jumlah gawai yang terhubung. Menurut keterangan BTI, rata-rata kapasitas ideal untuk setiap access point adalah 25 gawai, sehingga gawai ke-26 ada kemungkinan tidak akan mendapat akses internet. Ini mengakibatkan tidak semua mahasiswa dapat mengakses WiFi dalam waktu tertentu karena setiap access point memiliki limitasi jumlah gawai yang dapat terkoneksi ke WiFi.

Agustinus mengatakan beberapa mahasiswa FT gagal melakukan FRS beberapa waktu yang lalu. Sebanyak 60 mahasiswa FT melakukan FRS di PPAG dalam waktu yang sama, namun semuanya berusaha mengakses ke satu access point. Sedangkan access point di PPAG hanya dapat menghubungkan maksimal 50 gawai ke WiFi. Ini mengakibatkan mahasiswa FT gagal FRS.

Agustinus mengajurkan ketika mahasiswa ingin mengakses internet, mahasiswa sebaiknya berpindah ke lantai atau gedung lain jika terlalu banyak mahasiswa berkumpul di dekat access point. Hal ini dapat mengakibatkan lambatnya internet ataupun mahasiswa tidak bisa megakses internet sama sekali. “Kalau banyak orang berkumpul disana, terus mau akses FRS, jangan disana. Cari gedung lain,” ujar Agustinus.

Faktor lain persoalan lambatnya Wifi adalah penggunaan handphone seri lama karena kecepatan menerima dan mengirimkan datanya lambat. “Jadi yang lain juga ikut antri. Tapi, kita gabisa nyuruh ganti handphone jadul kan, tapi itu bisa memberikan informasi bahwa sedikit banyak mempengaruhi kecepatan wifi tersebut,” jelas Agustinus.

 

Wacana Perbaikan Wifi Tersandung Dana

Agustinus mengaku sudah mengusulkan ke Rektorat dan sudah diteruskan ke Yayasan untuk mengganti 79 WiFi terkait dengan alat yang baru. Nantinya dengan alat yang baru, kecepetannya bisa mencapai 100 giga dibanding yang sekarang hanya 1 giga.

Persoalan instalasi WiFi baru sendiri tersandung masalah dana yang besar. Menurut penjelasan Agustinus karena biayanya yang besar, hal ini bersifat investasi sehingga pihak Universitas membutuhkan dana dari pihak Yayasan.

Namun sampai sekarang perihal pengadaan WiFi baru belum ada kepastian dari Yayasan, “Belum ada follow up. Sudah saya tanya kelanjutannya gimana, mereka (red. yayasan) bilang masih mau didiskusikan,” tambah Agustinus.

 

Matthew Adith | Ranessa Nainggolan