30 Tahun Penantian Juara Liverpool Berada di Ujung Tanduk

Papan informasi dalam stadion Liverpool Anfield Arena, Sabtu (7/3). (Reuters/Carl Recine )

LIPUTAN, MP – Musim ini genap 30 tahun sejak Liverpool juara Liga Inggris untuk yang terakhir kalinya, yakni pada musim 1989-1990. Sejak saat itu, tak pernah satu musimpun yang berakhir dengan Liverpool memuncaki klasemen English Premier League (EPL). Begitu juga dengan skuad racikan Brendan Rodgers dengan ujung tombak trio Luis Suarez, Daniel Sturridge, dan Raheem Sterling yang hampir saja menjuarai liga di musim 2013-2014 dengan rekor 11 pertandingan tak terkalahkan, keunggulan lima poin dari Chelsea, dan unggul tiga poin dari Manchester City, yang memiliki satu pertandingan simpanan.

Sayangnya, asa Liverpool untuk menjuarai liga harus kandas akibat insiden memalukan “Slippy Gerrard” yang dialami oleh kapten tim, Steven Gerarrd yang terpeleset sehingga memberikan “bola gratis” kepada penyerang Chelsea Demba Ba yang saat itu berhasil mengkonversikannya menjadi gol. Sejak saat itu performa Liverpool menurun dan harapan mereka untuk mendapatkan gelar Premier League kandas setelah Crystal Palace berhasil melakukan comeback dan menahan imbang Liverpool 3-3, yang membuat Manchester City mengambil alih puncak klasemen dan mengunci gelar EPL.

Di musim 2019-2020 ini, harapan para Liverpudlian – julukan fans Liverpool – muncul kembali. Liverpool memuncaki klasemen dengan keunggulan 25 poin dari peringkat kedua Manchester City. Liverpool hanya butuh 6 poin atau 2 kemenangan lagi untuk mengunci gelar juara EPL. Di musim ini juga Liverpool meraih 23 kemenangan dari 25 pertandingan, yang berarti skuad asuhan Jurgen Klopp ini hanya kehilangan 5 poin sepanjang musim berjalan. Berbagai media di Eropa bahkan sudah memastikan bahwa Liverpool pasti menjuarai Liga Inggris musim ini. Sisa lawan di pertandingan selanjutnya, Everton dan Aston Villa bukanlah lawan yang sulit bagi Liverpool. Di paruh pertama liga, Liverpool berhasil melibas Everton dengan skor telak 5-2 dan Aston Villa dengan keunggulan 1-2.

Hingga akhirnya, pada 19 Maret kemarin, harapan para pendukung Liverpool untuk menjuarai liga mulai pupus setelah Federasi Sepak Bola Profesional Inggris (FA) mengumumkan tidak boleh ada aktivitas sepak bola profesional di Inggris setidaknya hingga 30 April 2020 ini. Kebijakan yang diambil oleh FA ini merupakan buntut dari penyebaran Covid-19 di Inggris Raya, yang hingga 9 April lalu tercatat ada 4.344 kasus positif Covid-19.

Dilansir dari AFP, para petinggi dan official dari Liga Inggris beserta perwakilan setiap klub telah menggelar rapat melalui telekonferensi pada Jumat (3/4) untuk membahas kelanjutan kompetisi musim ini. Mereka akan mendiskusikan sejumlah opsi yang dapat mereka lakukan untuk menyelamatkan Liga Inggris 2019-2020 setelah pandemi Covid-19 membuat kompetisi harus ditangguhkan sementara.

Opsi pertama adalah dengan menggelar pertandingan seperti biasa, namun tanpa penonton di stadion. Nantinya, tidak ada penonton yang diizinkan masuk, hanya ada petugas yang berkepentingan anggota tim dari kedua belah pihak. Jika opsi ini dilakukan, pertandingan akan dilangsungkan di tempat yang netral seperti di Midlands dan London. Jika ini benar terjadi, berarti pemain, pelatih, hingga staf tim harus melakukan karantina dan tinggal jauh dari keluarga untuk mencegah infeksi, dengan stadion, hotel, dan fasilitas latihan yang harus rutin disterilkan.

Opsi ini mendapat dukungan dari mayoritas klub, termasuk Liverpool. Dengan jumlah pertandingan yang tersisa sembilan atau sepuluh laga lagi, maka pertandingan akan berlangsung pada bulan Juni-Juli tahun ini dengan pertandingan yang dipadatkan. Dengan opsi yang seperti ini, kans Liverpool untuk menjadi juara liga masih terbuka lebar. Namun kebugaran pemain akan menjadi permasalahan bagi anak asuh Jurgen Klopp yang tentu ingin meraih hasil maksimal pada 2 pertandingan selanjutnya yang menentukan itu.

Opsi kedua adalah dengan tetap menunda kompetisi Liga Inggris musim ini hingga pandemi benar-benar bisa ditangani sepenuhnya secara tuntas. Seperti di lansir dari politico.eu, PM Inggris Boris Johnson mengatakan keadaan diperkirakan baru akan membaik pada Juni mendatang, yang berarti opsi untuk menggelar pertandingan pada Juni dan Juli tidak dapat dilakukan akibat kondisi yang masih dalam masa pemulihan. Jika hal ini benar terjadi, maka berbagai event olahraga, termasuk sepak bola baru benar-benar dapat kembali bergulir secara normal lagi pada Agustus atau September mendatang.

Jika penundaan ini diputuskan akan dilakukan, maka pergelaran Liga Inggris musim depan akan terkena dampak yang cukup besar dengan penundaan jadwal untuk musim 2020-2021 yang akan berimbas juga pada Piala Eropa (EURO 2020) yang sudah diundur terlebih dahulu menjadi tahun depan.

Opsi terakhir mungkin akan menjadi mimpi buruk bagi pemain, staf, hingga pendukung Liverpool adalah opsi pembatalan musim 2019-2020. Artinya, posisi klasemen seluruh tim yang berkompetisi di EPL musim ini tidak akan dihitung dan gelar juara yang hampir diraih Liverpool pun turut tidak dihitung. Sejumlah klub telah menyatakan keinginan mereka agar musim 2019-2020 dibatalkan. Petinggi FA Greg Clarke sendiri percaya jika musim ini tidak akan bergulir hingga habis. Namun opsi ini menimbulkan pelbagai polemik, selain Liverpool yang “gagal juara” lagi, namun juga West Bromwich Albion dan Leeds United yang gagal promosi ke kasta tertinggi liga.

Penulis: Muhammad Rizky
Editor: Alfonsus Ganendra

Penulis

Related posts

*

*

Top
Atur Size