“Menyalahkan Mahasiswa”: “Kecemasan Saraf” Dalam Pengertian Sigmund Freud

Seperti dikutip dari berita Media Parahyangan dengan judul “Terkait Penyebaran Virus Hepatitis A, Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan Unpar Salahkan Mahasiswa”, jelas bahwa Rosmaida mengeluarkan pernyataan bahwa wabah hepatitis A yang menjangkiti mahasiswa Unpar tidak bisa dianggap sebagai tanggungjawab pihak universitas.

Lantas, apakah dengan mahasiswa selalu menjaga kebersihan, memakan makanan yang bergizi, pola tidur yang sehat, dan sebagainya, persoalan  wabah hepatitis A yang menjangkiti ratusan mahasiswa Unpar terselesaikan? Dan mengapa juga mahasiswa menjadi terkesan seperti, “Salah mahasiswa, karena tidak mampu menjaga kesehatan dan kebersihannya. Mereka sendirilah yang menyebabkan dirinya terkena virus hepatitis A”?

Mari kita mengajukan pertanyaan yang lebih dalam mengenai persoalan di atas. Apakah lokasi penyebab munculnya penyakit Hepatitis yang melanda ratusan mahasiswa Unpar sudah jelas? Setahu saya, beberapa teman mahasiswa sangat meragukan bahwa lokasi penyebab kemunculan penyakit hepatitis satu-satunya berasal dari warung-warung makan yang ada di sekitar kampus. Mereka justru mengatakan, mungkin saja akibat septic tank Unpar yang bocor, airnya meresap ke tanah, sehingga air bersih yang sehari-hari digunakan oleh mahasiswa, menjadi terkontaminasi.

Bahkan selebaran yang dibagikan oleh pihak Unpar yang dihasilkan melalui ceramah mengenai penyakit hepatitis A yang dibawakan oleh dokter spesialis sekalipun, tidak berhasil menunjuk lokasi yang paling kotor sebagai sumber penyebab munculnya penyakit hepatitis A. Artinya, sampai saat ini tidak ada kejelasan sama sekali lokasi penyebab munculnya penyakit hepatitis A. Barangkali, menjadi tidak penting juga mencari sumber utama kemunculan penyakit hepatitis A, toh pada akhirnya menyalahkan pihak yang telah menjadi korban juga. Padahal siapa juga yang menginginkan penyakit bagi dirirnya sendiri?

Namun, persoalan yang lebih dalam dan patut kita pahami adalah eksistensi dari penyakit tersebut mempunyai makna tersendiri serta menimbulkan efek psikis bagi setiap orang. Secara eksistensial, ia menjadi ancaman dan membahayakan posisi setiap orang, sehingga muncullah, dalam bahasa Sigmund Freud, apa yang kita kenal sebagai “kecemasan”. Dalam salah satu novel karya Albert Camus yang berjudul “The Plague”, orang semacam Raymond Rambert cukup mewakili salah satu bentuk kecemasan dalam pengertian Freud. Hal tersebut terlihat pada saat ia sedang menghadapi penyakit sampar  yang membabat habis penduduk kota Oran. Berita televisi, radio,  dan omongan teman, membuatnya harus ikut memikirkan soal bencana, derita, dan kematian yang kelam. Karena merasa terjerat, ia berusaha melepaskan diri darinya. Ia berusaha cuek, sambil menyibukkan diri dengan apa yang ia anggap penting dalam dirinya. Sikap cuek Raymond Rambert, dalam peta psikoanalisa Freud dapat dimasukkan sebagai salah satu alat pertahanan ego. Di sinilah peran penting psikoanalisa sebagai hermeneutika dalam untuk menafsir gejala neurotic kecemasan yang menjangkiti seorang pejabat kampus. Karena sikapnya, ternyata memberikan makna dan informasi versinya sendiri.

Alat Pertahanan Ego

Salah satu tugas penting yang diberikan kepada ego adalah tugas untuk menghadapi ancaman dan bahaya yang menimbulkan kecemasan pada seseorang. Ego dapat mencoba menguasai bahaya dengan mempergunakan cara-cara memecahkan kesulitan secara realistis, atau ia dapat mencoba meredakan kecemasan dengan mempergunakan cara-cara yang menolak, memalsukan, dan mengaburkan kenyataan. Cara-cara tersebut dinamakan sebagai alat-alat pertahanan ego. Dalam tulisan pendek ini, saya tidak akan menjabarkan seluruh alat-alat pertahanan ego dalam pengertian Freud namun hanya yang menurut saya sesuai dengan kebutuhan analisa saat ini saja. Salah satu alat pertahanan ego yang coba saya tampilkan adalah proyeksi, karena sikap menyalahkan adalah satu unsur yang cukup pekat terkandung di dalam proyeksi.

Proyeksi

Kalau seseorang merasa cemas karena tekanan terhadap ego dari Id atau Superego, ia dapat mencoba meredakan kecemasannya dengan menimpakan sebabnya kepada faktor eksternal. Sebaliknya daripada berkata, “Saya benci kepadanya”, orang dapat berkata “Ia benci kepada saya”. Dalam hal ini, subjek menyangkal permusuhan timbul dari diriya, melainkan menimpakannya kepada orang lain. Pertahanan Ego semacam ini diupayakan secara terus-menerus untuk meredakan ketegangan yang muncul dari kecemasan neurotik dan moral.

Proyeksi tidak hanya berhenti di tingkatan itu saja, ia mempunyai bentuk-bentuk khusus yang mampu berubah. Ia dapat mengambil bentuk perubahan subyek untuk obyek, seperti contoh di atas, atau mungkin mengambil bentuk mengganti Subyek yang satu dengan Subyek lain, sedangkan obyeknya tetap sama. Misalnya, “Saya menghukum diri sendiri” diubah menjadi “Ia menghukum saya”. Yang ingin diupayakan oleh ego adalah mengubah kecemasan neurotik dan moral menjadi kecemasan obyektif. Impuls agresif yang muncul dari kecemasan neurotik dan moral coba ditimpakan kepada orang lain. Demikian juga seseorang yang takut dimintai pertanggungjawaban atas dirinya mengenai peristiwa tertentu, berpikiran bahwa orang lainlah yang seharusnya dimintakan pertanggungjawaban atas peristiwa tersebut.

Apa sebenarnya tujuan dari perubahan sedemikian itu ?

Perubahan tersebut bertujuan untuk mengubah bahaya di dalam dirinya yang sulit dihadapi oleh Ego, dengan menimpakan bahaya dari luar sebagai faktor eksternal yang lebih mudah dihadapi oleh Ego. Pada dasarnya, seseorang lebih mempunyai banyak kesempatan dalam menghadapi ketakutan-ketakutan obyektif daripada mencapai kecakapan dalam menguasai kecemasan neurotik dan moril di dalam dirinya. Berbagai alasan coba dilontarkan oleh subyek untuk menegaskan kebenarannya dan dalam hal ini proyeksi turut mengakomodasinya. Sudah barang tentu segala sesuatu alasan yang dilontarkan oleh subyek dirasionalisasi untuk menghindarkan tanggungjawab pribadi dari perbuatan-perbuatan sendiri dengan menyalahkan orang lain.

Barangkali, saya akan dianggap gila dan tidak kontekstual karena telah menuliskan pandangan Freud berkenaan dengan pernyataan Rosmaida yang cenderung menyalahkan mahasiswa secara sepihak. Persoalannya tentu saja masih mengenai penyakit hepatitis A yang mewabah di kampus Unpar hingga saat ini. Bukankah subyek di dalam proyeksi terdapat syarat, “telah melakukan kesalahan” dan selanjutnya “kesalahan tersebut ditimpakan kepada orang lain untuk meredakan ketegangan neurotik kecemasan dan moral”?

Pada kenyataannya Rosmaida bukanlah seorang pelaku yang menyebabkan mahasiswa terjangkit penyakit hepatitis A. Namun, mengapa neurotik kecemasan dan moral tiba-tiba muncul serta termanifestasi dalam sikapnya yang cenderung menyalahkan mahasiswa? Dan mengapa juga ia harus bersikap menyalahkan mahasiswa kalau bukan karena impuls agresif yang didorong oleh rasa  cemas disertai sikap sigap dengan membangun mekanisme pertahanan ego? Menjadi pertanyaan saya selanjutnya adalah mengapa ia mesti cemas dan apa yang sebenarnya ia cemaskan?

Di sini letak argumentasi saya, bahwa pada dasarnya subyek mempunyai tendensi dalam membangun musuh ilusinya. Ketika ia diperhadapkan kepada suatu peristiwa tertentu, ia mengira bahwa suatu yang hebat akan terjadi dan menimpa dirinya. Freud berkata tentang orang sedemikian, bahwa ia takut terhadap bayangannya sendiri. Bayangan yang ia ciptakan sebagai musuh ilusi. Barangkali, hal tersebutlah yang menimpa Rosmaida sebagai seseorang yang mengemban jabatan struktural di kampus Unpar. Mungkin saja musuh ilusi yang dibangunnya dapat diurai seperti, demonstrasi masif karena mahasiswa ada yang meninggal dunia, publikasi media massa yang akan mencoreng namanya sebagai pejabat kampus yang tidak bertanggung jawab, pencopotan jabatan, orangtua mahasiswa yang komplain, dan sebagainya. Di sinilah letak irasionalitasnya, sehingga tendesi untuk menyalahkan mahasiswa menjadi besar. Pada momen itu Rosmaida bisa saja sedang terjangkiti penyakit kecemasan saraf dalam pengertian Freud. Namun, sebagai pejabat kampus sudah sepantasnyalah ia menggunakan pengertian-pengertian yang rasional-dialogal bukan irasional-monologal. Sehingga tendensinya dalam menyalahkan mahasiswa menjadi berkurang. Semoga!

(Eko Haridani, 2007200178)

Mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2007