Wawancara Satrio & Jane Mengenai Permasalahan Kampus Unpar

Satrio Wibowo (Teknik Sipil 2013) dan Jane Angelica (Hukum 2013) pasangan capresma dan cawapresma nomor urut 1 yang diwawancarai MP di Coop Space. Satrio Wibowo (Teknik Sipil 2013) dan Jane Angelica (Hukum 2013) pasangan capresma dan cawapresma nomor urut 1 yang diwawancarai MP di Coop Space.

STOPPRESS MP, UNPAR – “Membara: Membangun empati dan rasa”  merupakan tagline yang diusung oleh salah satu pasangan capresma dan cawapresma bernomor urut satu. Pada pemilu tahun ini, Satrio Wibowo (Teknik Sipil 2013) dengan Jane Angelica (Hukum 2013) mencalonkan diri sebagai capresma dan cawapresma Unpar periode 2016/2017.

Pada Jumat (22/4) disela-sela kesibukan pasangan kandidat ini, reporter MP berkesempatan untuk mewawancarai mereka terkait permasalahan yang sedang sedang terjadi di Unpar. Berikut adalah petikan wawancaranya:

Bagaimana pendapat kalian mengenai peraturan merokok yang kemudian menyebabkan salah satu anggota Mahitala dikeluarkan dari keanggotaan UKM tanpa adanya prosedur yang telah disepakati oleh surat keterangan (SK) Rektor tahun 2014?

Satrio (S) : Apabila mengacu pada SK Rektor, sebenarnya sudah tertera tahap-tahap pemberian sanksi. Mulai dari sanksi pertama diberikan teguran lisan, sanksi kedua teguran tertulis, lalu setelah itu dikeluarkan surat peringatan (SP). Maka dari aturan di SK tersebut kita sudah tahu ada prosedurnya dan apabila prosedur tersebut dilangkahi menurut kami itu gak etis banget. Maksudnya, kita harus membantu mahasiswa jangan sampai kehilangan haknya. Mahasiswa memiliki hak untuk mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), tapi apabila tiba-tiba dicabut karena merokok padahal di prosedurnya tidak ada peraturan bahwa mahasiswa tersebut akan dikeluarkan dari UKM-nya.

Jane (J) : Nah kami di sini sebagai LKM sebaiknya juga menjadi jalan tengah. Kami mengerti bahwa ini di ranah pendidikan gak boleh ngerokok, namun apabila sedang di lingkungan kampus mohon ikuti peraturannya. Sehingga kami selain menjadi jalan tengah juga untuk memperjuangkan hak-hak mahasiswa seperti kasus keanggotaan yang dicopot karena tidak bisa asal copot keanggotaan. Kami akan berusaha menjadi jembatan antara rektorat dengan teman-teman mahasiswa.

Dalam kasus pelarangan merokok yang sempat redup karena transisi kepemimpinan rektor, adakah solusi konkret yang harus dilakukan oleh rektorat untuk permasalahan larangan merokok ini?

S: Kami, apabila nanti menjabat sebagai Presiden dan Wakil Presiden tentunya akan menjembatani mahasiswa dengan pihak rektorat. Menurut kami seharusnya bukan Wakil Rektor III yang menindak masalah tersebut. Apabila ditemuka peraturan-peraturan yang tidak jelas, kami harus meminta kejelasan dari pihak rektorat dan mensosialisasikan kepada mahasiswa di Unpar. Mengenai hal yang paling konkret, misalnya kami akan berbicara dengan rektorat apabila prosedurnya tidak ada, peraturannya tidak ada serta masih tidak jelas.

Pandangan kalian mengenai pembangunan yang sedang dilaksanakan oleh Unpar?

S: Satu yang pasti pembangunan itu sudah tidak bisa dibatalkan dan kita tunda tentunya. Pihak Rektorat juga punya alasan tersendiri kenapa mereka melakukan pembangunan ini dan tentunya untuk melakukan sebuah pembangunan yang lebih baik. Hanya, yang menjadi fokus kita adalah harus bisa meminimalisir korban-korban tersebut, kerugian-kerugian tersebut kalau misalkan ya orang-nya bisa 50 orang yang kena, kenapa harus sampai 90? Kenapa nggak kita meminimalisir itu? Ada hal-hal yang sangat ingin kita bicarakan ke rektorat dimana mungkin disediakan jaring-jaring supaya bahan-bahan bangunan itu tidak jatuh. Serta dibutuhkan topi safety untuk orang-orang yang ada di sekitar.

Sebenernya kalau dari kami sendiri, kami ingin bisa diskusi sama pihak rektorat gimana caranya untuk bisa meminimalisir hal-hal seperti itu. Serta terkait timeline pembangunan, seharusnya bulan Februari atau Maret sudah selesai, saat ini seharusnya gedung 4 dan 5 sudah dihancurkan untuk dibangun gedung baru lagi, setahu saya itu diundur menjadi September mungkin karena mengganti bahan bangunan dari baja menjadi beton. Saya juga sempat dengar kontur tanahnya turun sehingga memakan waktu dan menyebabkan kerugian yang sangat besar.

Kita sebagai mahasiswa seharusnya memaklumi dong, jangan hanya protes rektorat harus gini, rektorat harus gitu tapi tidak tahu bagaimana dari sisi rektorat apa yang harus mereka hadapi. Sebagai mahasiswa seharusnya kita sudah berpikiran kritis.

J: Setiap pembangunan itu awalnya memang terkena kerugian, misalnya kotor, berisik, debu, tapi harus lihat perjalanan kedepannya akan seperti apa. Kita sebagai alumni Unpar nantinya, pasti akan bangga melihat Unpar yang dinamis yang bergerak dalam pembangunan, tidak dengan bangunan yang sama seperti itu-itu saja.

Jadi nggak mungkin juga pembangunan ini diberhentikan karena sudah jalan setengahnya. Mahasiswa harus berkolaborasi bagaimana caranya untuk meminimalisir gangguan yang didapat dan memanfaatkan yang ada. Misalnya apabila kosan dekat bisa ke kampus jalan kaki, apabila rumahnya jauh dan harus bawa mobil, bisa janjian sama temennya untuk pergi bareng-bareng. Kita sama-sama tahu bahwa ini awalnya nggak enak, tapi sudah berjalan dan ambil hikmahnya saja.

Mengenai hasil fit and proper test yang rata-rata nilainya turun jauh dari tahun kemarin, menurut kalian faktor apa yang menyebabkan berkurangnya nilai fit and proper test?

S: karena soalnya jelas berbeda dibandingkan tahun kemarin. Kemudian soalnya sedikit rancu kalau menurut saya, karena itu terdapat soal isian namun beberapa pertanyaan mengharuskan seperti jawaban essay. Dimana soal isian seharusnya merujuk pada jawaban yang pasti.

Faktor kedua adalah pertama kali dibentuknya KPU yang ad hoc, yang  independen dan benar-benar bebas dari MPM. MPM hanya  supervisi, beda dengan tahun lalu yang  mencampurkan MPM dan mahasiswa lain. Menurut saya juga terdapat beberapa anggota tim ad hoc yang merupakan angkatan 2015, dimana mereka sebelumnya belum pernah mengetahui mekanisme pemilu Unpar seperti apa.

Ketiga, menurut saya tidak terlalu masalah karena ini adalah trial and error. Ini merupakan percobaan pertama yang ternyata tingkat error-nya besar. Sehingga seharusnya ada pembenahan untuk tahun kedepannya serta meminimalisir tingkat error yang terjadi.

HILMY MUTIARA, ZICO SITORUS

*

*

Top