Wawancara MP Dengan Pius Sugeng: “Akan Bagus Jika Ia Mundur”

pius sugengw

STOPPRESS MP, UNPAR – Tepatnya pada tanggal 30 April 2014, pasangan calon tunggal Ibrahim Risyad- Priscilla Junita terpilih sebagai presiden dan wakil presiden mahasiswa. Namun perhelatan Pemilihan Umum Persatuan Mahasiswa (PU-PM) tahun 2014 ini rasanya masih menyisakan perdebatan. Selain permasalahan pemilu yang diselenggarakan hanya dengan calon tunggal, permasalahan lain muncul ketika sang calon tunggal tersandung kasus menyontek. Permasalahan yang sepertinya ditanggapi biasa oleh mahasiswa ini sepertinya tidak ditanggapi biasa oleh para dosen, pejabat rektorat dan alumni.

Ketika dihadapkan pada sebuah posisi yang merepresentasikan mahasiswa, kredibilitas serta reputasi Unpar sebagai institusi pendidikan menjadi taruhannya. Maka pada hari jumat, 2 Mei 2014, wakil rektor Unpar bidang akademik, Pius Sugeng angkat bicara. Berikut ialah petikan wawancara eksklusif Media Parahyangan dengan Pius Sugeng.

Media Parahyangan : Bagaimana penilaian bapak mengenai terpilihnya capresma tunggal yang tersandung kasus penyontekan?

Pius Sugeng : Kita jelas turut prihatin. Kita di lembaga pendidikan dan perjuangan kita adalah untuk mencapai suatu kondisi yang kita imajinasikan secara ideal. kita ini di kampus dan mahasiswanya antara rasio dan rasa sedang panas-panasnya dalam arti passion dalam hal yang sifatnya idealisme. Kita berusaha untuk mecapai idealisame kita sendiri bukan malah beragumentasi yang membelit-belit kita sendiri dan akhirnya situasinya mereduksi idealisme yang kita inginkan.

Memang sulit tapi kita harus tetap mencapai idealisme itu. Ketika ada hal-hal yang secara kasat mata itu mudah untuk mengatakan ini “ya” ini “tidak” mestinya kita bisa berargumen kenapa ya dan kenapa tidak. Saya prihatin dengan fakta yang terjadi di lembaga kemahasiswaan mengenai adanya suatu kontras antara yang seharusnya yang muncul dari kalangan mahasiswa dengan apa yang dilakukan. Sebenarnya mudah untuk menentukan ini ya atau tidak. Idealisme adalah persoalan integritas.

MP : Yang dijadikan alasan adalah bahwa soal akademik tidak berkaitan dengan kemahasiswaan dan kegelisahaan lain seperti masalah akreditasi dan ketakutan tidak adanya pemimpin(presiden) mahasiswa. Bagaimana tanggapan bapak?

PS : Memang ada yang beranggapan bahwa hal itu tidak berkaitan. Tidak perlu menanyakan mengenai peraturan maupun konstitusinya. Tetapi yang perlu adalah menyadari bahwa hal tersebut benar atau salah. Tanpa perlu mencari pembenaran kita sudah tahu bahwa hal itu salah. Jika itu sudah muncul sebagai kesadaran, saya tidak perlu membuat aturan.

Saya yakin anda bisa menjadi sosok yang well behave. Saya berharap mahasiswa mencoba untuk menjadi orang yang punya behave tanpa perlu diluruskan oleh peraturan. Mari berpikir secara integratif. ketika yang bersangkutan berani untuk mundur, ada dua keuntungan bagi dia sendiri dan konstitusi. Pertama, dia akan menjadi orang yang besar dan menjadi bahan refleksi bagi orang lain. Di sisi lain, lembaga kepresidenan juga berhasil dalam menjaga wibawa.

Tapi kalau dia tetap maju yang akan terjadi; pertama dia akan mengingkari janjinya sendiri dan menyalahkan dirinya sendiri bahwa seharusnya itu tidak dia lakukan (memaksakan maju-red) seumur hidupnya. Kedua, dari pihak mahasiswa pasti ada yang melecehkan, meskipun juga ada yang mendukung dan akhirnya dia mungkin punya potensi kedepannya entah itu diranah kerja dan berkeluarga bawa tidak jujur itu hal yang biasa. Saya mengajak anda untuk membentuk suatu gerakan, mari membangun bangsa lewat kampus dengan orang-orang yang jujur. Tidak perlu IP tinggi tapi jujur. Apalagi lembaga kepresidenan semakin direduksi kewibawaannya. Harapannya adalah ini menjadi kasus yang positif dan menjadi bahan pembelajaran. Bagaiaman leadership dari seorang leader. Bila pemimpinnya korupsi maka kebijakannya juga akan koruptif dan menguntungkan sendiri.

MP : Dengan kondisi sekarang, apa pilihan yang dimiliki mahasiswa ?

PS : Terpaksa saya mengatakan bahwa tidak ada hal yang sifatnya terlambat untuk mengambil keputusan ketika kejadian ini menjadi suatu proses pembelajaran, maka saya berharap dia akan tetap baik. Tapi jika ia meminta maaf, ingin menjaga kewibawaan lembaga kemahasiswaan tapi juga menjadi suatu proses pendewasaan yang luar biasa untuk dirinya sendiri, bagus jika dia mundur. Anda menempa dengan pedang yang anda ciptakan sendiri.

Tapi jika dia tetap maju, akan menjadi seolah-olah berpolitik praktis tanpa idealisme sehingga mencari celah-celah dengan mempertanyakan dimana sanksinya?mana aturannya? Toh saya punya pendukung yang banyak dan lainnya. Please don’t do that. Masukan itu ke laci, just think about yourself dan jadikan bahan refleksi.

Menjadi besar bukan karena melakukan pekerjaan besar tetapi ketika seseorang mau mengatakan bahwa pengalaman yang terjadi dalam diri saya, saya introduksikan pada pihak lain agar tidak melakukan. Ini kan bukan skenario kan? Ini natural dan riil. Mari kita belajar dari hal-hal yang alamiah.

MP : Terjadi perdebatan mengenai ada atau tidaknya sanksi akademik untuk yang bersangkuatan mengingat capresma tidak bisa maju jika pernah terkena sanksi akademik. Informasi yang kami dapatkan, ada intervensi dari pihak mahasiswa yang menyatakan bahwa situasi bahaya bisa terjadi jika Unpar tidak punya Presma sehingga sanksi tidak diturunkan. Apakah benar?

PS : Saya tidak tahu mengenai intervensi tersebut. Tapi nanti bisa dicek mengenai kriteria formalnya seperti apa. Tapi sebenarnya tidak ada satu hal yang masuk dalam kategori bahaya. Misalnya bisa dengan mengundur pemilu sebentar atau mencari calon lain. Tetapi menjadi sangat bahaya dengan situasi yang sudah terjadi sekarang ini. Tapi bila hanya mengenai scheduling yang mundur sedikit kemudian mencari calon lain atau resiko dana, menurut saya tidak ada masalah.

Urusan dana saya kira Romo Tarpin tidak akan merasa kesulitan. Saya tidak membesar-besarkan bahwa ini akan menjadi situasi yang sangat bahaya tapi ini suatu hal yang tanpa harus banyak berkelit-kelit tau benar salahnya. Saya menjadi prihatin ketika hal seperti menyontek dianggap biasa. Yang salah pendidikan ini, lembaga pendidikan ini atau yang bersangkutan? Saya ingin membawa anda kepada suatu titik yang ekstrim; yang ini jangan! Bahwa orang pernah mengalaminya dan sebagainya oke, tapi maling mencoba membuat suatu titik balik ada sebuah kesadaran baru. Ini yang disebut pendidikan memerdekan. Pendidikan yang kemudian tidak membelenggu, artinya orang tidak terbelenggu pada argumentasi-argumentasi yang sifatnya tidak substansial.

Ketika anda semakin mau keluar dari luar diri anda sendiri, maka anda akan semakin menemukan diri anda, tetapi ketika anda semakin masuk pada diri sendiri, dengan berbagai macam kepentingan dan dalih, semakin anda tidak bisa menemukan diri anda sendiri.

MP : Kami menerima surat keluhan dari ikatan alumni Unpar 98 yang mengeluhkan perihal masalah ini. Apa tanggapan bapak?

PS : Dia akan menjadi suatu representasi dari mahasiswa. Ketika nanti dia harus bicara didepan mahasiswa baru misalnya, maka dia akan menjadi salah satu sosok ideal yang merepresentasikan kita. Ini kan harapannya akan ada imajinasi yang ideal mengenai representasi mahasiswa. Nanti kalo ngomong didepan mahasiswa baru dan romo menyinggung dalam misalnya sebuah tayangannya tentan nilai-nilai salah satunya tentang integrity dan saya menggalakan ajakan jangan nyontek dan ada presma disitu, lah saya mau ngomong apa?

MP : Apakah jajaran rektorat concern mengenai hal ini?

PS : concern sekali. Romo Tarpin ngomong di depan saya dengan nada tinggi menyalahkan MPM. Wong MPM nya keras kepala. Ada interview itu dengan kepala KPU nya membicarakan hal ini. kita sama jadi kita tidak diam. Artinya bagus bahwa ini bisa menjadi proses pembelajaran tapi jika hanya dibiarkkan lewat saja dengan dalih-dalih sangat, katakanlah permukaan dan alsan2 yang sangat praktis yang lebih mereduksi idealismenya ya sayang sekali. Ini saya prihatin. Saya ingin, mahasiswa lama kelamaan tanpa perlu ada aturan untuk hal-hak tertentu bisa menilai baik buruknya suatu masalah. Kita tidak terlalu sederhana untuk pertanyaan seperti itu.

SHERLY NEFRIZA | CHARLIE ALBAJILI

Related posts

One Comment;

  1. alumni Unpar & Eksponen 98 said:

    Dear redaksi,
    Sungguh senang mendengar kommitmen pejabat Rektorat ternyata sangat concern dengan fenomena calon tunggal Presma dan kasus keterlibatannya pada kegiatan akedemis tak terpuji.
    sikap semacam ini memang harus ditegakkan agar tidak semakin banyak pihak terutama keluarga besar almamater Unika Parahyangan kecewa melihat perkembangan yang ada. Kampus atau Universitas adalah suatu house of values and progressive cultures dan house of learning, serta house for agents of changes, maka sejatinya praktek-praktek yang bertentangan dengan akal sehat dan nilai-nilai keadilan dan demokratis layak ditentang dengan tegas dan diminimalisir dari kehidupan kampus.
    Namun pihak rektorat mesti juga sadar bahwa kekeliruan yang terjadi pada mahasiswa dan institusi kemahasiswaan tentu tak lepas dari budaya politik pendidikan yang dikembangkan dalam dan oleh kampus itu sendiri. kekeliruan mahasiswa adalah juga kekeliruan pihak penyelenggara pendidikan. Namun belum tentu kekeliruan pihak penyelenggara pendidikan adalah kekeliruan mahasiswanya. Ini terkait hubungan mahasiswa dan rektorat sebagai pengajar dan pelajar.
    Setelah beberapa kali berdiskusi dengan para aktivis kegiatan kemahasiswaan, penulis dapat menemukan kekeliruan tersebut bahkan ada pada tingkat institusional penyelenggaraan pendidikan. Bagaimana penulis menemukan terdapat pelbagai peraturan universitas yang banyak bertentangan dengan peraturan di atasnya, terutama peraturan terkait kemahasiswaan.
    Kekeliruan tersebut tampaknya sudah berlangsung lama dan mendiamkannya terus berlanjut adalah dosa besar setiap pejabat rektorat yang bertanggungjawab. Fenomena sosialnya akibat dari dampak kekeliruan itu sudah tampak semakin nyata terutama dalam peristiwa calon tunggal dan kasus pencontekan.
    Penulis perlu rasanya memberi peringatan kepada para pejabat rektorat terkait masalah ini. Sikap tegas para pejabat rektorat ini akan kontra produktif apabila tidak dilakukan suatu tindak pelurusan yang memadai dan bahkan dapat menjadi bumerang atau menyerang balik wibawa dan moral rektorat apabila bapak rektorat dan jajaran tetap melantik Presiden mahasiswa bermasalah ini secara resmi.
    Mari bersama-sama kita tunggu langkah selanjutnya pihak rektorat dan mari pula sama-sama kita mengawal sebagai upaya kita menjaga nama baik almamater tercinta.
    Demi Bangsa, negara dan almamater tercinta….

*

*

Top