Wawancara MP dengan Monkey To Millionaire: “Lakukan Apa Yang Benar Selama Itu Masuk Akal”

Monkey To Millionaire / Dok ROI Radio Monkey To Millionaire / Dok ROI Radio

INTERVIEW MP – Monkey to Millionaire adalah band rock alternative asal Jakarta yang kini menyisakan Wisnu Adji (vokal dan gitar) serta Agan Sudrajat (bass dan vokal). Band yang terbentuk karena pertemanan semenjak di bangku Sekolah Menengah Pertama ini awalnya bernama Lucca. Namun Lucca kemudian memutuskan untuk vakum beberapa waktu hingga akhirnya di tahun 2004 mereka kembali dan memulai dengan bendera Monkey to Millionaire. Pada tahun 2006 mereka merilis EP dan melalui single Rules and Policy yang langsung masuk dalam kompilasi album LA Lights Indiefest.

Pada 22 Maret kemarin, Monkey To Millionaire baru saja berhasil menyabet piala Gold Award Best Rock Song untuk lagu “M.A.N” dalam VIMA Asia 2014 di di Platinum Club, One City Subang Jaya, Malaysia. VIMA Asia 2014 bukanlah ajang internasional pertama bagi band ini. Sebelumnya di tahun 2009 Monkey to Millionaire sempat masuk nominasi dalam Junksounds Awards Malaysia di kategori Best Breakthrough Act dan Best Album/ EP of the year untuk album Lantai Merah.

Berikut petikan wawancara eksklusif Media Parahyangan dengan Monkey To Millionaire yang ditemui seusai penampilan mereka di acara Malam Keluarga Unpar (Makelu) 2014 : “It’s Not About The Destination hari Jumat, 10 Mei 2014. Mereka bicara mengenai pergerakan, kebebasan individu, dan mahasiswa zaman sekarang yang dianggap kurang bandel.

Monkey to Millionaire sedang sibuk apa? Kenapa jarang manggung di Bandung?

Waktu itu kan lagi sibuk VIMA, tapi kita punya rencana buat semacam  free gigs di Bandung.

Ada bocoran tentang album baru?

Album baru pasti ada, materinya tetap dikerjain sama kita berdua. Yang jelas sih, mungkin di antara album pertama dan kedua lebih banyak slow-nya, jadi enak. Album berikutnya mungkin kita bakal lebih halus tapi kasarnya akan tetap ada dengan tempo yang mungkin lebih kalem.

Berangkat dari apa sampai bisa buat lirik yang meaning banget di lagu-lagu kalian ini?

Berangkat dari sekitar kita. Orang itu suka banget  mengeluh dengan pekerjaannya sendiri. Kalau memang kamu ngeluh dan merasa berat, ya, keluar aja. Karena pada akhirnya kalian bilang “ga bisa gue iniitu.” Mereka seperti menempatkan pada posisi di tempat yang enggak ada jalan keluarnya sama sekali. Sebenernya ada, hanya memang mereka tidak mau melihat itu. Nah, dalam lirik rules and policy itu kita mau ngasih tahu kalau ada jalan keluar jika memang kalian ingin cari itu.

Tanggapan kalian tentang Monkey to Millionare yang dianggap menjiplak Wezzer?

Terserah orang mau ngomong apa, tapi memang sebelum kita buat Monkey to Millionaire, kita udah suka sama lagu-lagu Weezer. Dari mulai nama band kita dulu masih Lucca. Memang gue mengambil beberapa unsur dari mereka kaya harmonisasi vokal, suasana lagu dan juga suasana lirik.Tapi kalau menyontek Weezer seratus persen itu enggak. Karena memang enggak ada orang yang mengerjakan sesuatu dari 0, pasti ada influence-nya. Weezer pun kalau kita liat lagi mereka terpengaruh oleh The Beats Boys.

Apa lagi influence bagi kalian secara universal selain pengaruh dari Weezer dan peristiwa-peristiwa di sekitar kalian?

Apa yang lagi kita alamin aja sih, kaya sosial dan lain-lain. Kalau gue sama Agan sering banget ngomong contoh paling besar yang buat kita bikin lagu itu, misalnya kita lagi di cuaca yang panas banget dan ada orang pakai coat. Gue sama Agan buat lagu karena buat apa sih pakai coat? ini tuh lagi panas, kita  ingin kaasih tahu kalau ini bukan di Amerika, ini di Indonesia. Kita lebih ngasih tahu aja kalau di sini enggak cocok pakai itu. Inspirasinya lebih kepada apa yang menurut kita itu enggak bener, ya, kita tulis. Terserah orang mau nangkep itu apa. At least, kita udah kasih opini.

Apa yang ingin kalian sampaikan dari keseluruhan musik kalian?

Kaya kalian baca cerita atau baca novel, kan ceritanya sama tapi imajinasinya beda. Kalau yang gue tangkap sih apa yang kalian baca itu membiarkan imajinasi masing-masing yang  membawa kalian ke mana, biarkan perspektif  itu berbeda-beda aja. Mungkin kita hanya ingin menunjukan bahwa sesuatu yang kalian kerjakan karena kemauan sendiri itu hasilnya akan jauh lebih bagus daripada kalian mengerjakan sesuatu karena disuruh. Kalau memang ternyata gagal, at least, kita udah tahu. Intinya kalian coba sesuatu aja dulu karena kan kita enggak tahu hasil akhirnya gimana.

Sebenarnya esensi apa yang ingin kalian sampaikan sampai musik kalian itu mampu menginspirasi kita untuk membuat pergerakan?

Gue pribadi terus terang seneng banget kalau sampai kalian mau bergerak gara-gara lirik kita. Ibaratnya gue ngasih tahu kalau di depan itu ada lubang. Kalau orang itu sampai berputar dan nurutin itu, gue seneng banget. Karena pada akhirnya apa yang kita lakukan hanya untuk ngasih tahu aja. Kalau memang kalian mau, kalian pasti bisa kok, enggak usah terpengaruh sama orang lain.

Menurut tanggapan kalian bagaimana dengan mahasiswa sekarang yang jatuhnya lebih apatis, males-malesan untuk buat pergerakan, dan mahasiswa yang belum memiliki idealisme?

Gue tau pandangan ini dari satpam  sekolah gue dulu di AL-Azhar.  Dia bilang kalau anak-anak zaman sekarang beda dengan dulu. Dia lebih senang sama anak-anak zaman dulu karena mereka bandel-bandel. Karena kalau mereka mau sesuatu, mereka kejar itu. Misalnya, pada saat kabur sekolah, mereka mau sampai buat si satpam ngejar merek. Kalau anak-anak sekarang malah bikin satpamnya itu enggak kerja sama sekali. Mereka tuh manut, dia ngomong anak-anak sekarang itu kaya robot.

Apakah mahasiswa sekarang itu lebih terperangkat dengan sistem?

Ya Itu tadi, anak-anak sekarang itu seperti robot. Mereka kurang nanya kenapa.Mereka tuh lebih sering kalau dilarang akan ngomong “iya,” enggak mau ngomong kenapa merkea dilarang. Kan, sebenarnya lebih baik “kenapa?” dari pada “apa?” Bukan berarti menentang, tapi kalau memang larangannya masuk akal, ya, udah gue turutin. Jangan jadi orang yang terima gitu aja. Ambil sesuatu yang masuk akal menurut kalian.

Menurut kalian kebebasan individu itu seperti apa dan sejauh apa?

Kebebasan individu itu adalah pada saat kalian punya opini dan dapat mengutarakan itu. Ya, ini opini gue, terserah orang mau ambil atau tidak, kalau emang kalian enggak mau ambil, ya, udah enggak apa-apa. Setidaknya gue udah ngasih tau apa yang salah dan apa yang benar. Kalau kalian mau ambil yang salah,  terserah.

Untuk kebebasan Indonesia dalam masyarakat, menurut kalian apakah Indonesia sudah bisa dibilang memiliki kebebasan individu yang bebas atau belum?

Kalau di Indonesia dari contoh buang sampah, olah raga, sama melihat fenomena sekitar, kita masih based on trend. Kita mau sehat kalau sekitar kita udah mikirin mau mulai hidup sehat. Kita mau buang sampah pada tempatnya ketika sekitar kita mulai mau buang sampah pada tempatnya. Atau sebenarnya orang mungkin tidak suka melakukan satu hal, tapi karena mayoritas melakukan itu, ya, gue juga mau ikut. Nah, kebebasan individu di Indonesia itu masih terhambat karena rasa malu untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya kita suka dan enggak suka. Kita masih takut sama judgment orang  untuk membuat kita bisa melakukan kebebasan individu.

Menurut kalian seberapa besar peranan musik untuk menggerakan masa?

Gede banget. Misalnya seperti musisi mancanegara yang enggak mau datang ke sini karena mereka tahu kalau negara kita belum aman. Coldplay enggak mau datang ke sini karena Indonesia masih ada budaya mempekerjakan buruh anak kecil. . Itu kan dari mereka, kalau mau dateng sama aja mereka udah open sama buruh anak kecil. Peran musik itu besar, jika Indonesia sudah mulai diakui oleh artis luar negeri untuk menjadi medan promosi yang baik, itu berarti kita udah bagus.

Pesan untuk mahasiswa-mahasiswa di Indonesia khusunya di Unpar?

Semua manusia pada dasarnya jangan jadi robot, kalian lakukan apa yang benar selama itu masuk akal.

KRISTIANA DEVINA

 

Related posts

*

*

Top