Wawancara MP dengan Griffin’s Holy Grove: Arief Sidharta adalah Inspirasi Besar bagi Kami

Acara perilisan album Griffins Holy Grove ini diberi tajuk Mala Release Showcase dan diselenggarakan di IFI Bandung, Jumat (12/12) lalu/dok. Axel Gumilar Acara perilisan album Griffins Holy Grove ini diberi tajuk Mala Release Showcase dan diselenggarakan di IFI Bandung, Jumat (12/12) lalu/dok. Axel Gumilar

Grup musik bernuansa progressive rock asal Bandung, Griffin’s Holy Grove, baru saja melangsungkan acara perilisan album pertama mereka. Album yang dirilis melalui Sorge Records ini berjudul “Mala”. Acara perilisan album ini diberi tajuk Mala Release Showcase dan diselenggarakan di IFI Bandung, Jumat (12/12) lalu. Total 8 lagu yang ada di album Mala dibawakan semua pada malam itu. Sebelum penampilan Griffin’s Holy Grove, malam itu juga dimeriahkan oleh penampilan grup musik asal Jakarta, Avhath, dan grup musik asal Bandung lainnya, Lizzie.

Seusai acara, MP berkesempatan untuk mewawancarai Mas Joko Jodi Satriya (Gitar, Vocal), Ferdi Adriansyah (Bass) dan Yusuf Zulkibri (Drum) mengenai perilisan album, perjalanan band, hingga pengaruh guru besar Unpar, Almarhum Arief Sidharta kepada band. Berikut petikan wawancaranya.

Mengapa album ini diberi judul Mala?

Mala berasal dari kata malapetaka. Tanpa malapetaka, tidak akan ada kehidupan. Secara konsep kita suka hal-hal yang katanya negatif.

Apa penyebab penundaan Mala dirilis walaupun merupakan album pertama setelah sekitar 7 tahun Griffin’s Holy Grove berdiri?

Banyak faktornya, mulai dari waktu, bongkar pasang personil, materi berubah, hingga yang mau bantu kita juga baru ada sekarang,

Album ini merupakan pencapaian untuk kita dan kita pun bersyukur bisa rilis sekarang, di waktu yang tepat. Kalau kita dulu punya album, siapa juga yang mau rilis, Sorge Records mungkin saat itu belum ada. Selain itu, sekarang secara materi dan persiapan dari band juga sudah matang, jadi berkesinambungan, waktunya pas. Tujuh tahun tidak masalah, yang penting puas.

Sejak kapan memiliki rencana untuk membuat album?

Sudah lama. Sejak 2012 sebenarnya kita mulai buat lagu dan memilahnya, hingga akhirnya jadi 8 lagu yang ada di album Mala.

Untuk showcase hari ini, apa konsepnya?

Lebih ke vintage dan simpel, ingin menunjukkan raw dan old school. Misalnya dengan penggunaan backdrop dibandingkan memakai visual.

Selain itu juga memberi konsep di merchandise. Untuk yang beli album, akan dapat semacam dupa/menyan. Konsep ini digunakan agar menikmati album tidak hanya dengan indera pendengaran saja, tapi juga indera penciuman. Membantu mendukung imajinasi masing-masing pendengar, biar ada vibe yang berbeda.

Lagu terakhir tadi, Hitam Terang dipersembahan untuk Arief Sidharta, Seberapa besar pengaruh Arief Sidharta ke Griffin’s Holy Grove?

Mas Joko: Sebelumnya selama berkuliah saya belum pernah diajar oleh beliau, tapi Arief Sidharta itu dosen penguji saya. Saat sidang skripsi, saya ambil hal yang tidak umum, yaitu hukum adat yang sudah hampir 20 tahun tidak dijadikan bahan skripsi oleh orang lain. Apa yang saya sampaikan, dia setuju dan seluruh masukan yang dia berikan adalah inspirasi besar untuk saya. Untuk menjadi manusia, saya belajar banyak dari dia walaupun cuma ketemu sekitar 1 jam, namun karyanya juga berpengaruh besar. Dia juga dosen filsafat, dan kalau baca lirik Griffin’s Holy Grove, memang banyak menyentuh area itu.

Secara lirik, apakah Hitam Terang khusus diciptakan karena Arief Sidharta?

Dia yang memperkuat keyakinan saya. Saya kira dia akan tersenyum dengan lirik ini karena saya memutar pola pikir orang. Ada 1 kemungkinan yang sudah bisa dipastikan, yaitu pintu neraka adalah pintu utama menuju surga. Itu yang saya pelajari dari Pak Arief. Kayak main logika sih. Dia yang memperkuat saya, bahwa dia sepakat dengan pola pikir saya. Dia yang memperkuat keyakinan saya utk berpikir sekeras itu dan sejauh itu. Sebagai guru besar, dia memberi saya keyakinan dan kenyamanan untuk hidup di area itu meskipun sebagai minoritas.

Kalian sempat bilang bermusik lebih ke kepuasan sendiri, setelah tadi selesai melakukan showcase dan dihadiri banyak orang, bagaimana pendapatnya?

Kita sih senang, paling utama tetap adalah bagaimana kitanya, kalau kita senang, Insya Allah yang lain senang. Kesenangan orang lain adalah poin tambahan.
Showcase ini juga sebagai langkah awal ke pintu scene yang lebih luas lagi. Dari pembuka saja kita ada teman baru seperti Avhath dan Lizze. Dengan rilis ini, sebagai langkah baru untuk bisa membangun relasi dan memperluas jaringan.

Mengapa memilih bekerjasama dengan Sorge Records?

Ada beberapa alasan, pertama, kita tumbuh di dalam Sorge juga. Kita main di Sorge Gigs yang pertama, jadi dari perubahan musik, materi, dan personel, Sorge juga sudah tau. Sorge tahu perkembangan kita, kita juga tahu perkembangan Sorge. Terus kedua, secara tali pertemanan juga dekat, sudah saling mengerti. Kita sekampus, kenal satu sama lain, mindset, cara bekerja, dan visi kita sama. Untuk berbisnis, modal awalnya kan trust, hal itu yang kita miliki.

ZICO SITORUS

 

Related posts

*

*

Top