Wawancara Media Parahyangan Dengan Andrew Renaldy dan Eldiansyah Prawira

STOPPRESS MP, UNPAR – Media Parahyangan (MP) berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan salah satu calon Presiden dan calon Wakil Presiden  Mahasiswa Unpar periode 2013-2014,  Andrew Renaldy (Hukum 2010) dan Eldiansyah Prawira (Akuntansi 2010). Berikut petikan wawancara MP dengan keduanya ketika ditemui di Plasa Hukum hari Rabu (17/04):

Media Parahyangan (MP): Apa alasan kalian maju menjadi Calon Presiden dan Wakil Presiden tahun ini?

Andrew (A): Alasannya sih dari diri sendiri yang ingin maju, karena dari awal saya belum pernah berkecimpung di Himpunan, tapi langsung ke LKM. Dari situlah saya bertemu teman-teman, dari mulai menteri-menteri periode Hans-Kanius hingga Petra-Bobby. Kita banyak ngobrol dan belajar juga dengan mereka. Dan hasilnya, yang saya inginkan adalah terjadi kesinambungan antara pembangungan lembaga dan lembaga ini (LKM-red) harus melihat jauh ke depan, salah satu contohnya mungkin nanti akan tercermin dari program-program kita. Kita ingin suatu saat nanti teman- teman kita angkatan 2020 bisa tahu sejarah, karena menurut saya sejarah itu hal yang sangat penting. Selama ini kita tidak tahu apa sebenernya sejarah PM Unpar secara jelas.

Eldiansyah (E): Karena jujur saya merasa ini kan tahunnya. Pertama kali, karena saya tahun lalu juga mencoba untuk menjadi seorang Ketua Himpunan. Kebetulan memang tahun lalu udah bawain konsep, tapi mungkin kurang persiapan, dan mungkin saya kurang berhasil juga. Dari situ, saya dan teman-teman belajar terus. Dan intinya adalah dari saya pribadi dan juga melihat lingkungan. Ideologinya ya rasa tanggung jawab sih.

MP: Fenomena Apa Yang kalian Lihat?

A : Banyak, salah satunya mengenai mahasiswa Unpar yang sering dibilang apatis. Kita lalu menelaah, sebenernya apa itu apatis. Disebut apatis itu karena kita mungkin melihat dari kacamata sebagai aktivis kampus, karena mahasiswa pada dasarnya adalah mengembangkan diri, baik dari ruang kuliah maupun di luar ruang kuliah. Jadi, ketika mereka ga aktif dikampus, bukan berarti mahasiswa apatis. Mungkin saja mereka memiliki kegiatan diluar dalam usaha mengembangkan dirinya masing-masing. Tergantung dari sisi mana kita melihat.

E : Terus juga kalau sesama mahasiswa mungkin yang terlihat juga dekat – dekat ini tuh apresiasi sih, kita melihat sesama mahasiswa dari sebelah fakultasnya atau temannya sendiri udah dapet juara apa kita gatau dan menurut kita ketika orang mendapatkan suatu apresiasi, orang itu akan lebih menghargai orang lain karena dia merasakan di hargai, karena apa karena menurut Abraham Meslow kebutuhan pokok manusia itu ada empat dan salah satunya adalah kebutuhan akan penghargaan nah kita ngeliat disini tuh (apresiasi) di unpar masih kurang sehingga kita mau coba buat peningkatan, ada pemberian apresiasi secara jelas atas prestasi itu terhadap pengorbanan dari mahasiswa Unpar sendiri. Setiap mahasiswa (yang berprestasi) jika ditanya “lu kuliah dimana?”, dengan bangganya dia bakal bilang “gua anak unpar”, karena mereka juga meraskaan di hargai di dalam kampus mereka sendiri.

A : kalo kita kasih contoh misalnya temen saya ada yang juara nasional, Tyas “Best Oralist”, yang tahu tuh cuman sekitar aktivisnya saja dan teman – temannya, tapi dari jurusan lain tidak tahu, sedangkan mahasiswa lain ketika ditanya mengenai prestasi Unpar, kalo tidak Mahitala, ya PSM, sebenernya kita tuh punya prestasi banyak dan itu tuh kurang di apresiasikan sendiri oleh mahasiswa Unpar. Lebih parah lagi ada teman saya (tyas) dan teman-temannya yang juara tiga Mahkamah Konstitusi dulu justru gak dapet beasiswa padahal harusnya mereka dapet beasiswa disitulah kalo seandainya mereka tidak mampu mengakomodasinya, kita akan bantu mereka untuk mendapatkan beasiswa itu.

MP: Bagaimana Awalnya kalian bertemu dan memutuskan untuk mencalonkan?

A : Pertama gua dan Eldi baru bertemu sewaktu memimpin KCK “Kampanye Cinta Kampus”, itu baru pertemuan pertama, lalu ketemu lagi sewaktu di forum osjur forkom inap 2012 kemarin, sekitar bulan September. Ternyata lingkaran pertemanan antara saya dan dia (Eldi) itu sama, sehingga kita saling bertukar pikiran dan mengetahui kalau karakter Eldi seperti ini, yang gua inginkan adalah tujuan lembaga yang seperti ini, ini dan ini, dan ternyata bentukannya sama dengan bentukannya dia. Yaudah kita akhirnya bertemu di SB untuk ngajakin Eldi menjadi Wakil Presiden mahasiswa.

E : Jadi dulu saya udah pernah kepikiran buat program kerja di  himpunan tapi lingkupnya kan kecil. Sekarang saya juga punya cita – cita begitu, oke tahun ini mungkin gabisa di himpunan tapi saya tetap berkontribusi menjadi wakil ketua himpunan terus di tahun depan saya berpikir kalo tahun ini saya berhasil di himpunan dan kebetulan emang beberapa sistem yang mau kita terapin itu berhasil di himpunan saya, saya kepikiran bagaimana kalo sistem ini, kita kembangin buat satu unpar kenapa enggak kesuksesan ini kta bawa untuk unpar, ngobrol-ngobrol dan nyambung, jadilah sekitar bulan november awal.

A : Jadi pokoknya tujuan kita menelaah konsepnya dahulu.

MP: Apa Sistem yang dibawa oleh kalian?

E: Sistem administrasi kita, sistem kerja kelembagaannya.

MP: Menurut kalian apabila sisi lembaganya sudah bagus maka pihak mahasiswanya oke oke saja?

A : Belum tentu, jadi kalo menurut kita kalo salah satu dari visi, kita punya tiga poin: peduli, inisiatif dan tanggungjawab, dan semua ini berkaitan. Jadi pertama dari sebuah sikap dulu yang dinyatakan dalam sebuah tindakan dimana ia harus sesuai dengan pertanggungjawaban kita. Itulah visi kita, bertanggung jawab untuk berkordinasikan semua Himpunan dan UKM, dan sampai saat ini masih ada beberapa teman kita yang belum merasakan kinerja LKM.

Kenapa HMPS dan UKM terlebih dulu karena kita tidak muluk – muluk. Mahasiswa Unpar ada ribuan, jadi prinsipnya adalah ‘bahagiakan dulu yang dekat, yang jauh akan mendekat’. Dengan kita membantu Himpunan dan UKM dengan lebih baik, mahasiswa itu akan lebih tertarik untuk bisa masuk ke organisasi tersebut lebih dulu dan diharapkan berikutnya akan datang ke LKM.

E : Kita juga mikir, saya selalu ingat proses dalam suatu sistem yaitu input, proses dan output. Ketika proses itu baik memang belum tentu menghasilkan output yang baik, tapi ketika proses itu buruk sudah pasti outputnya juga buruk nah makannya disini juga kita mau mencoba sistem, yang kita kejar itu sistem, proses di kitanya.

MP: Kemudian Visi dan Misi kalian sendiri?

A : Visi-misi kita itu simpel seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, yaitu ‘peduli, berinisiatif dan bertanggung jawab’ dan itu direalisasikan dalam misi. Misi itu adalah :

1. Menjadi sarana penggali potensi diri, pada dasarnya organisasi mahasiswa adalah           menjadi tempat bagi mahasiswa untuk berkembang, itu adalah tujuan utamanya.

E :     2. Kritis dan tanggap terhadap isu yang terjadi di dalam dan luar lingkungan PM Unpar, karena kita melihat fenomena  sekarang ini mahasiswa mulai terbuka terhadap kejadian dan berbagai isu, mungkin perlu dilakukan peningkatan lagi untuk menanggapi hal tersebut, apa yang masih di butuhkan, apa yang harus dilakukan, kordinasi apa dengan siapa untuk bisa menyelesaikan isu-isu ini terus apa yang bisa kita lakukan, kalo isunya ada di luar unpar, apa yang bisa kita lakukan.

3. Memperkuat struktur informal, ini pokoknya bisa dibilang sebagai janji untuk memperkuat hubungan antar seluruh elemen.

A : Memperkuat antar seluruh elemen, baik dalam PM Unpar maupun pihak universitas. Kenapa informal, karena kita membandingkan dengan formal, ketika formal itu memiliki garis tegas dari atas ke bawah, kalo informal kita pendekatannya seperti teman karena ketika kita santai atau ngobrol itu akan lebih enak dibandingkan dengan  lu dateng disaat butuh doang. Sewaktu saya di mendagri, banyak komentar kalau LKM datang pada saat butuhnya saja, dan hal itu menjadi evaluasi bagi kita, bagaimana ternyata lebih baik ketika kita datang sebagai teman dengan cara santai, gausah menjadi orang yang sok pinter, ya kita pokoknya sama disini.

MP: Jadi disini tidak adanya kasta birokrasi di dalam organisasi?

A & E : Iya benar.

MP: Dengan adanya Forum komunikasi online, apakah itu akan membuat interaksi secara langsung menjadi berkurang meski sebenarnya dapat mendekatkan secara tidak langsung? Ada interaksi yang hilang pada dunia kenyataan 

A : Istilahnya seperti asalnya kita berenang di sungai bareng – bareng mendadak karena dibangun jembatan, kita jadi pergi ke sekolah itu sendiri lewatin jembatan sendiri. Disini ada plus minusnya, tapi tujuan utama forum ini adalah agar teman-teman kita yang bisa dari segala penjuru, hingga teman kita yang berada di luar Ciumbuleuit sekalipun.

E : Dan kita juga ga mungkin bertemu selama 24 jam dan lewat forum komunikasi ini kita harapkan dari sisa – sisa 24 jam yang kita tidak dapat bertemu langsung. Dengan ini kita dapat tetap berhubungan dengan forum tadi. Logisnya ketika kita bertemu seperti ini tidak mungkin menggunakan forum juga.

A : Nah, forum ini juga berkaitan dengan fenomena tadi yaitu paradigma apatis, disini forumnya bukan forum komunikasi, jadi forum online, gambarannya tuh ada forum utama yang di kelola oleh LKM dan ada 16 sub forum yang di kelola himpunan dan forum – forum yang di kelola khusus oleh ukm, setiap elemen lembaga di unpar itu bebas untuk mengelola forum yang, apa aja yang boleh di posting dan tidak, jadi tujuannya jika mendadak ada komunitas memancing misalnya, ternyata mereka bisa mengembangkan komunitasnya.

E : Forum itu juga bisa jadi pencetus, jadi disitu juga bisa menimbulkan tatap muka yang baru.

MP: Bedanya dengan forum terdahulu (student.unpar.ac.id)? Apa kalian akan membangkitkan lagi forum terdahulu ini atau membuat yang baru?

A: Waktu itu saya sudah coba buka, dan ternyata forum itu dibuat sebelum LKM ada.

E : Bahkan forum tersebut belum jadi sebenarnya, hanya ada halaman pertama aja dan setiap link yang diklik itu masih bertuliskan page not found. Kalau kita mau akses forum itu lagi, sulit, karena kita masih belum tahu siapa yang meng-coding­-nya. Ya, hampir sepertiwebsite percobaan sih. Seperti hyperlink yang sudah dibuat itu ketika di klik, mati semua.

A : Jadi kesimpulannya, forum ini bakalan jadi inovasi berkaitan dengan web PM Unpar yang sudah ada pada saat ini.  Forum ini adalah bagian dari web PM Unpar itu sendiri. Log in-nya dengan menggunakan NPM.

E : Kita akan bekerja sama dengan BTI. Dari web PM Unpar yang biasa diakses, kita ada hyperlink dari CAS (Central Authentification Service). Dari situ, ada pilihan untuk masuk ke web PM Unpar. Di dalam web akan ada fitur baru yaitu, laman untuk forum baru tersebut. Jadi kita saling mendukung, agar nantinya enggak saling berdiri sendiri. Supaya bisa menjual juga.

MP: Bagaimana tanggapan kalian tentang kinerja LKM periode sebelumnya?

A: Pertama-tama dari sistem pendeketan LKM ke Himpunan dan UKM itu yang masih kurang. Soalnya pada saat ini diterapkan sistem yang sama seperti periode Hans dan Kanius. Itu perlu di sempurnakan lagi

E: Jujur saya dari Ekonomi, saya melihat progress dia (Said, Presma periode 2012-2013) dari pertama sampe sekarang, perbedaan banyak banget dari periode sebelumnya. Jadi saya pikir butuh penerus bukan sekadar perubah saja. Kita butuh satu generasi yang bisa melakukan evolusi, bukan revolusi secara cepat. Kita harus meningkatkan ini dan mempertahankan lagi, inovasi.  Kebetulan saya sudah berada di Himpunan selama dua tahun, saya melihat kok di Himpunan Akutansi bisa melakukan sistem yang lebih baik daripada LKM. Oleh karena itu, kita mencoba melakukan pengembangan-pengembangan dari Himpunan kita ke LKM, karena menurut saya dan teman-teman juga ada beberapa sistem yang kita punya itu lebih baik. Contohnya dari sistem-sistem kerja, seperti go public-nya, transparansinya.

A : Secara sistem dan program kerja sudah bagus namun mungkin masih ada beberapa sedikit miss kordinasinya. Itu yang menyebabkan hal-hal yang seharusnya  bisa membuat sistem berjalan baik, tapi sebaliknya. Dari situ poin-poin yang harus diperbaiki

E: Kordinasi antar lembaganya juga sih, kita melihat ada beberapa yang kurang. Contohnya mungkin yang saya sendiri lihat itu dari lembaga yang diatasnya, mungkin kadang-kadang ada beberapa program yang kurang kordinasi jadi terkadang menjadi salah tafsir sama orang-orang juga.

A: Jadi ada suatu perasaan gak enak yang berujung sedikit slek. Padahal sebenarnya itu bukan masalah, hanya karena kurang dikordinasikan saja.

MP: Terobosan baru apa yang kalian bawa untuk mahasiswa?

A : Kita ada satu program baru lagi berkaitan dengan penerusan pewarisan lembaga, namanya Catatan Akhir Periode. Karena selama ini yang kita rasakan adalah ketika kita membuat suatu acara dan kita ingin belajar dari kepanitiaan tahun lalu, masih ada catatannya. Nah, itu kepanitiaan, tapi kita menganalogikan kepada lembaga, apabila ada Presiden mahasiswa baru dan ada ketua-ketua Himpunan baru, dalam LPJ terbatas hanya pada kekurangan, kelebihan dan keuangan. Jadi saya contohkan isi catatan akhir periodenya tuh seperti ini; “Bagaimana hubungan lemabaga dengan dekanat?”, “Apakah ada penolakan?”, jika ada, “Seperti apa?”, “Solusi apa yang sudah dilakukan dekanat?”. Itu poin pertama. Kedua, dalam membentuk program, “Apakah sudah menerima aspirasi dari masyarakat?”. Iya atau tidak, terpikirkan atau tidak terpikirkan. Hal-hal seperti itu yang tidak ada di LPJ. Itu semua perlu dicatat, dibukukan dan di wariskan kepada periode berikutnya.

E : Intinya yang dibahas adalah kinerja. Selama ini kan di LPJ isinya hanya target tercapai, target tidak tercapai,  lalu hambatan dan solusi. Nah, kalau ini tuh yang dibahas bukan program kerjanya, tapi kinerja dari lembaga secara keseluruhan.

A : Karena ini berkaca dari isu yang pernah saya dengar bahwa PM Unpar dulu pernah dibekukan. Tapi apakah hal itu benar-benar terjadi?, kita tidak tahu. Kalau pun itu sampai benar-benar terjadi, apa penyebabnya?. Disitu tidak ada pencatatan, kita tidak bisa mengetahui sejarah. Jadi idenya adalah mulai sekarang kita ingin mencatatnya agar adik-adik kita di maasa datang bisa tahu.

MP: Terkait permasalahan SP dan KKBM, Rektorat tidak mengadakan dialog dengan mahasiswa terlebih dahulu, padahal keputusannya sangat vital bagi mahasiswa? Jika terpilih nanti, bagaimana kalian menghadapi hal serupa jika terjadi di masa kepengurusan kalian?

: Ini bukan pertama kalinya soal SP kan? Kalau kita berkaca lagi ketika kita bertemu. Waktu itu INAP jurusan, hari H-seminggu ada kebijakan bahwa INAP dikurang harinya tanpa ada kordinasi terlebih dahulu. Wah, itu keselnya setengah mati.

E : Padahal sempat mengeluarkan tanda tangan juga, harinya udah keluar, tapi tiba-tiba keluar SK rektornya yang lain.

A : Intinya, ketika membuat suatu kebijakan yang berdampak ke semua elemen mahasiswa, tapi gak ada kordinasi, kita akan melakukan, pertama adalah, langkah preventif, yaitu, kita akan membuat sebuah perjanjian dengan pihak rektorat. Kita akan buat parameter, misalnya, jika ada perubahan yang nantinya berdampak pada semua elemen mahasiswa, maka minimal harus dikordinasikan lebih dahulu dengan pihak MPM, LKM dan Himpunan terlebih dahulu. Apabila tidak, maka kita akan buat kesepakatan, Rektorat pertanggung jawabannya apa?, sesuai perjanjian tersebut. Langkah berikutnya, jika itu terjadi lagi kita hanya menjalankan apa yang sudah ada di dalam kontrak.

E : Ya, itu gimana pendekatan dari kitanya seperti apa sih. Agar dari Rektorat juga bisa terbuka dan cerita sama kita, jadi bisa tahu jika mereka ingin mengeluarkan peraturan dan kebijakan seperti apa. Menyangkut SP, ternyata di setiap fakultas memiliki kebijakan yang berbeda. Misalnya, di fakultas saya sendiri emang nilai D dan E aja yang bisa di-SP, dan itu tuh dari pertama kali saya masuk. Nilai C hanya untuk tahun keempat dan mahasiswa tingkat akhir. Makanya mahasiswa fakultas Ekonomi bingung mendengar kebijakan SP Unpar tahun ini, soalnya kita dari dulu hanya nilai E dan D yang bisa di-SP. Tetap intinya adalah kita harus tahu informasi dari pihak Rektorat.

MP: Bagaimana mengenai pernyataan kalian pada saat debat Capres dan Cawapresma yang siap untuk di DO (Drop Out) dalam memperjuangkan kepentingan mahasiswa?

A : Ini udah dua kali saya jawab pertanyaan seperti itu (siap di DO-red). Pas semester pertama, sebagai ketua Makrab dan Eksistensi, waktu itu ketika minta izin dari Wakil Rektor, Romo Tarpin, dia mengatakan seandainya pada saat acara ada masalah, misalnya, ada pemukulan, saya dakan di DO. Ya sudah, mau bagaimana pun acaranya harus tetap berjalan. Hanya waktu itu kan masih anak semester satu, jadi saya siap aja kalau di DO. Berkaca dari kasus itu, jadi saya sekarang berani untuk ngomong itu lagi.

E : Kalau saya sendiri, sempat ditanya beberapa kali waktu jadi ketua TNT dulu. Ditanya sama dosen, “Gimana kalau saat kalian mencari dana di luar, terus bawa anak orang dan terjadi hal yang tidak diinginkan, misalnya cedera?” Yaenggak apa-apa, saya yang akan bertanggung jawab. Buat apa saya sudah tanda tangan disini sebagai pengurus, tapi saya tidak bertanggung jawab. Kalau saya ditanya siap di DO, itu sudah menjadi bagian dari tanggung jawab, saya udah tau konsekuensi dan segala macem.

MP: Jika terpilih, kalian tidak takut kuliah akan keteteran? Apakah sudah membayangkan resiko-resiko yang akan terjadi?

A : Saya dan Eldi waktu itu sepakat untuk menunda kelulusan setengah tahun. Jadi dari target saya yang tadinya empat tahun menjadi empat setengah tahun.

E : Intinya selama kita masih bisa membagi waktu, kita bakalan bagi waktu. Kalau masalah akademik terkorbankan, itu sudah menjadi resiko. Pengalaman saya, selama dua tahun sampai sekarang menjadi pengurus, masih bisa kok membagi waktu.

A : Dan meskipun selama ini saya aktif di organisasi, untungnya masih bisa maintanance nilai sih, walaupun tidak sesuai keinginan.

E : Kalau pahit-pahitnya mundur setengah tahun, ya sudah tidak masalah, itu wajar kok. Intinya ada cost and benefitCost yg dikeluarkan mungkin saya jadi, misalnya, terlambat lulus, tapi semoga sih enggak. Tapi jika hal tersebut itu cost-nya,  untuk mendapatkan ada benefit yang ini (terpilih menjadi Presma dan Wapresma-red), why not?

MP: Lalu bagaimana soal hubungan pertemanan? Karena jika terpilih, pasti akan menambah banyak kesibukan kalian?

A : Hubungan dengan teman memang sudah konsekuensi, ketika saya mulai aktif di Hukum, pertemanan saya yang seharusnya bisanongkrong sana sini mungkin berkurang. Ya, itu sudah konsekuensi, tapi tetap menjaga hubungan baik.

E : Kau untuk bagi waktu dengan teman, kan masih ada satu malam dalam satu minggu untuk bareng dengan teman-teman, yang pastikan ada malam minggu. Intinya adalah bagi waktu.

MP: Sudah mempersiapkan orang – orang untuk mengisi kabinet ?

E : Jujur dan kita berani sumpah, kita masih bingung siapa saja yang nantinya akan diajak. Masih kosong melompong.

: Karena kita punya sistem dengan kriteria yang kita inginkan. Saat ini mungkin langkah taktis aja yang bakal dilakukan. Apabila kita menang nanti, kita akan meminta rekomendasi dari LKM yang sekarang.

E : Dan memang dari bulan November, persiapan kita lebih ke konsep untuk kedepannya nanti.

A : Kita buat detail per detail  dari yang terkecil.

E : Makanya kalau diperhatikan, spanduk kita paling ketinggalan dari calon yang lain, soalnya kita memang dari kemarin fokusnya ke konsep.

MP: Apakah sudah ada janji-janji politik yang diberikan?

E : Jujur sampai saat ini belum ada, mungkin aneh kali kalau mendengar ini pada masa pemilu politik. Tapi, daripada ngejanjiin apa-apa, taunya enggak jadi dan udah bekerja, kasihan juga. Pokoknya lihat dulu tangal 24, baru kemudian kita akan maju ke langkah selanjutnya

: Mungkin kalau diliat dari bukti kongkritnya, waktu kita orasi yang datang itu memang orang-orang yang mau bantu dan yang memang kenal aja. Itu pun yang memang niat untuk buang keringat jumlahnya sedikit.

MP: Rencana untuk bertanya perihal rekomendasi ke LKM sekarang sudah ada?

A & E : Sampai saat ini belum, tapi sudah ada rencana bakal tanya tentang rekomendasi.

MP: Dana untuk kampanye itu bagaimana?

A : Kebetulan kita untuk masalah percetakan, kita ada teman yang keluarganya punya percetakan. Jadi kita buat dengan harga yang jauh lebih murah di pasaran. Kita sendiri menggunakan dana pribadi, dan itu ternyata tidak sebesar apa yang dibayangkan, kalau memang punya kenalan di percetakan.

E : Kita nabung dari pertama kali sepakat sampai sekarang.

MP: Motivasi untuk menjadi seorang pemimpin itu bagaimana menurut kalian?

A : Saya sendiri merupakan tipikal yang selalu melawan arus dan punya pemikiran-pemikiran ekstrem di mana pun saya berada. Ini terlihat ketika saya memutuskan untuk memilih ke LKM dan tidak terlalu aktif di Hukum. Di fakultas Hukum kebetulan dipilih jadi Ketua Angkatan dan mulai aktif dibeberapa acara, dari situ mulailah terbuka bahwa kenyataanya tidak seperti apa yang dikatakan orang, makanya saya memilih ke LKM. Ketika SMA pun, saat teman-teman kerjaannya nongkrong, saya memilih untuk ikut OSIS. Sebenarnya motivasi awal saya adalah menjadi ketua himpunan. Saat itu menurut saya Himpunan Hukum perlu diperbaiki karena budaya yang sudah ada. Itu juga alasan saya ke LKM, untuk mempelajari sistemnya dan membawa kembali ke Hukum. Tapi ketika saya di LKM, ada beberapa hal dan ide yang tadi saya harap perlu direalisasikan di Himpunan, ternyata sudah ada orang yang bisa merealisasikannya.

E: Saya dari SMA tidak pernah jadi pengurus inti atau ketua, selalu jadi staf. Setiap kerja selalu merasa, “Kenapa sih ketua buat seperti itu? Harusnya kan seperti ini”. Karena banyak pengalaman di lapangan tersebut kemudian mulai berpikir, mungkin yang di atas (Ketua-red) belum pernah turun ke lapangan, meskipun dia punya pendidikan dan konsep yang bagus. Oleh karena itu, saya denganbackground yang banyak menjadi staf di lapangan, ditambah di Akuntansi kan kita banyak belajar tentang menejemen juga. Disitu mulai berpikir konsep untuk menjadi seorang pemimpin, dan konsep itu coba saya kembangkan. Saya sudah belajar, saya sudah di lapangan, dan ini waktunya saya untuk naik ke tingkat, sesederhana itu sih, belajar dari pengalaman.

(Intan Mutia/ Adytio Nugroho)

Related posts

*

*

Top