Wawancara Mahesa & Arifin, Tentang “Sinergis” dan Sikap Terhadap Permasalahan Kampus

Mahesa (Hukum 2014) dan Arifin (Fisika 2014) Pasangan Calon Tunggal Presiden Mahasiswa PUPM UNPAR 2017. Dok/MP Mahesa (Hukum 2014) dan Arifin (Fisika 2014) Pasangan Calon Tunggal Presiden Mahasiswa PUPM UNPAR 2017. Dok/MP

“Sinergis” adalah tagline dan diksi yang di gaungkan oleh pasangan Calon presiden mahasiswa (Capresma) dan calon wakil presiden mahasiswa (Cawapresma) nomor urut satu. Mereka adalah Mahesa Aditya Pratama (Hukum 2014) dan Muhammad Arifin Dobson (Fisika 2014) yang kini menjadi calon tunggal pada Pemilihan Umum Persatuan Mahasiswa (PUPM) UNPAR periode 2017/2018

Reporter Media Parahyangan mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai Capresma dan Cawapresma calon tunggal tersebut pada Senin (17/04) di Gedung 45 lantai 2. Untuk menjelaskan visi dan misi yang diusung serta membicarakan mengenai fenomena yang terjadi di Unpar dewasa ini. Berikut ini kutipan wawancara Bersama calon tunggal PUPM 2017/2018.

 

Media Parahyangan (MP) : Apa maksud dari “Sinergis” yang ada di visi yang kalian bawa?

Mahesa (M): Sinergi buat kita sendiri ini sebenarnya berpatok kepada hubungan antara kita antara Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) dan seluruh elemen UNPAR, baik itu dengan mahasiswa UNPAR, pengurus organisasi lainnya yang ada di PM UNPAR maupun non pengurus juga dengan pihak kampus.

Maka kita butuh semua elemen unpar baik dari secara struktural organisasinya sampai teman-teman mahasiswa lainnya buat bantu kita bergerak bersama mencapai tujuan kita yaitu menjadikan kampus ini menjadi kampus idaman semua mahasiswa. Diminimalisir segala kekurangannya, fenomenanya kalo bisa di-prevent (dicegah semua) dan kalau memang kalau ada kita selesaikan bersama-sama.

Arifin (A): Dan jika kita bersama-sama yang bisa kita lakukan bisa lebih besar daripada jika LKM berdiri sendiri. Sinergi ini juga buat kita adalah sebuah singkatan, jadi tagline juga yang insya Allah bisa dijadiin tagline juga buat setahun kedepan. Sinergi ini buat kita adalah siap berintegrasi dan giat beraksi.

MP : Berbiacara Sinergi, keberadaan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Unpar ini minim ruang geraknya, bagaimana pendapat kalian mengenai hal itu?

A: bisa dibilang kita melupakan fungsi UKM. UKM itu kan menyalurkan minat dan bakat kayak misal Medpar kita kayak kurang mengerahkan potensi dan minat medpar untuk meliput dan mempublikasikan dan juga UKM-UKM lainnya.

Jadi disini seperti tadi PSC misalnya kita berencana menginovasi sistem dari Parahyangan Sport Combat (PSC) sendiri. Jadi kita ingin melibatkan sinergi dari partisipasi aktifnya UKM-UKM sesuai dengan fungsinya. Jadi kita bisa menghasilkan sebuah program kerja yang gak hanya dari satu pikiran LKM saja. Tapi kita bergabung dari UKM-UKM bersamaan.

MP : Bagaimana pendapat kalian mengenai kampus yang tidak mendengar aspirasi mahasiswa? Misalnya SOBERS yang dibuat untuk dialog dengan rektorat, tapi selalu diakhiri dengan “Kita akan usahakan” dan tidak ada tindak lanjut dari hal itu

M : Kalau itu memang jadi masalah dari tahun ke tahun. Terkesannya kampus kayak gak tersentuh nih, kita gak bisa otak-atik nih kampus.

Yang mau kita tingkatin adalah gimana power mahasiswa lewat organisasi buat naik ke atas, gak selemah itu lagi. salah satu yang ditekankan sama Arifin adalah kita bawa data dong. Jangan cuma bawa notulensi yang isinya cuma omongan-omongan orang. Kita bawa data misalkan sekian persen mahasiswa setuju parkir dinaikan dan sekian persen apa gitu jawabannya.

Kita bawa ke atas, kita kasih tau ke rektorat. Dan kalau memang dari atas apalagi di bidang kemahasiswaan sadar diri dan bijak dalam menanggapi data, harusnya mereka menanggapi lebih.

MP : Kebijakan yang dikeluarkan pihak kampus selalu tidak mengikutsertakan mahasiswa salah satunya peraturan rokok. Bagaimana pendapat kalian?

M: Jadi ketika kampus ingin membuat suatu peraturan atau kebijakan, mereka pasti ngolah dulu, dimana kita harus menyesuaikan cara kita berpendapat dan cara kita memberikan pendapat kita ke pihak kampus.

Jadi misal ketika berpendapat, kita gak setuju misalnya, itu alesannya apa. Jadi kita sudah bawa data. kita sudah bawa dasar hukum. Jadi ketika misalnya peraturan rokok kenapa gak kita kaji dulu bareng-bareng bahkan melibatkan kampus. Bandingkan dengan kampus-kampus lain. Bandingkan dengan kampus yang sudah terimplementasikan kebijaknnya.

Jadi kita ngasih pendapat atau kontribusi kita udah punya modal buat ngomong ke kampusnya.

A: Jadi sebenarnya tadi kalau ngomongin tentang perumusan sebuah kebijakan, di anggaran dasar anggaran rumah tangga (AD/ART) itu juga sudah dikatakan bahwa kita itu setara dengan kampus. Kita boleh memberikan usulan untuk masalah perumusan kebijakan. Jadi yang seharusnya kita usahakan adalah waktu kebijakan keluar bukan kita teriak-teriak , tapi sebelum kebijakan keluar kita bekerjasama dengan kampus. Kita bikin kampus percaya, yang harus kita lakukan adalah kita harus turut berkontribusi. Berkontribusi dari awal perumusan bukan akhir.

Juga untuk masalah rokok itu sebenarnya pengetahuan mahasiswa yang masih kurang. Itu kebijakan gak boleh merokok itu bukan pure dari hasil kebijakan dari kampus tapi hasil undang-undang (UU) dari  kemenristek DIKTI bahwa kalau mau ngerokok itu Cuma boleh di garis terluar kampus.

Hal lain yang bisa dilakuin sama LKM buat ngasi pengertian ke mahasiswa ya kita ngasih tau, kalau dari kampus ya bisa kita usahakan langkah-langkah seperti pembuatan area merokok dan lain-lain. Kita kaji dari pertama sidang perumusan kebijakan, bukan saat kebijakan keluar, kita nolak.

MP : Bagaimana tanggapan kalian mengenai kampanye “selfless”?

M: Kampanye selfless menurut kami itu bagus banget sih. Ide movementnya bagus karena dia gak menghujat perokok tapi dia juga gak ngebela sepenuhnya yang non perokok. Yang dia pingin tekankan ke kampus adalah, “Pak disini ada dua golongan mahasiswa untuk masalah rokok, gimana  mahasiswa yang merokok bisa memenuhi hasratnya dan mahasiswa yang tidak merokok ini gak terganggu dengan hasrat itu,”

itu kan yang mau ditekankan dalam selfless gimana caranya kita misahin kedua mahasiswa ini dan dua-duanya bisa dapet kenyamanan di kampus. Itu dari yang saya tau setelah ngobrol dengan mereka. Tapi belum follow up lagi itu petisinya sudah ditanda tanganin berapa orang. Hasilnya gimana belum tau lagi.

MP : Pendapat anda mengenai keadaan pembangunan PPAG?

A : Waktu itu kita penah ngobrol sama Rafi dan Syauqi, Ketua Himpunan Program Studi Arsitek dan Sipil. Mereka cerita kalau mahasiswa dan dosen Fakultas Teknik sama-sama ngeluhlah ya tentang PPAG ini. Tentang pembangunan PPAG, hukum kan ngeluh juga. Sebenarnya yang sampe sekarang kami yakinin adalah ini pasti buat mahasiswa. Itu dulu.

Kebijakan gimana teknis kerja dan bagaimana pas belajar gak kena berisiknya dan lain-lain itu belum pernah kita dengar LKM pernah tanyakan ke pihak kampus. Jadi kalau untuk masalah berisik ini Cuma baru bisa dikomunikasiin dulu lah ya ke pihak rektorat.

Tapi kalau ruang komunal, Ini yang memang selalu kita pertanyakan ya supaya mahasiswa bisa kumpul. Kalau kita liat sekarang itu kita punya banyak ruang-ruang kosong yang bisa dijadiin ruang komunal tapi kenapa gak bisa. Kita sebenarnya ada satu program unggulan namanya Unpar box. Dimana kita membuat sebuah kursi tapi kursinya bukan sekadar kursi tapi kalau ditumpuk bisa jadi sebuah meja.

Ketika dikumpulin bisa jadi sebuah panggung. Kursi ini tuh bentuknya box kubus gitu. Itu bisa ditumpuk. Jadi rencana kita itu adalah pingin ada lemari yang di dalamnya ada 10 kubus. Dimana anak-anak ada ruang kosong ini mahasiswa bisa kumpul dan tinggal ambil ini kubus.

MP : Pendapat kalian sebagai pasangan Capresma tunggal?

M: Pendapat kami tentunya jadi lebih merenung lagi karena kok kita gak punya saingan. Berarti bener nih fenomena yang disebutin dimana-mana kalau euphoria politik kampus kita ini nih mulai turun. Ya itu memang tugas kami nantinya kalau terpilih gimana caranya kita bangkitin yang itu.

Tapi kalau buat kami ya ini tanggung jawab lebih ya. Karena hiasanya kalau ada dua calon aja, untuk memilih tinggal membandingkan dengan calon yang satunya lagi. tapi untuk sekarang yang kami pingin adalah kami ini benar-benar selera unpar. Kami ini benar-benar tepat sasaran dalam bekerja.

Makanya kita sekarang ya ingin ngobrol baik-baik ke mahasiswa. Denger pendapat mereka dari berbagai golongan. Anak kupu-kupu (kuliah pulang), anak organisasi, anak UKM, anak yang sering ikut lomba, ya kita dengerin semua. Lu mau kampus yang kayak gimana? Dan menurut kita itu sebuah hal yang berat sih.

Walaupun nantinya gak semua orang bisa kita penuhin kemauannya. Tapi kami ingin mayoritas orang-orang memilih setuju kami sebagai presma adalah karena memang kami pantas.

FIQIH RIZKITA

 

 

Related posts

*

*

Top