Wawancara Dengan Ulber Silalahi

E : Selamat siang Bapak Ulber Silalahi, saya dari media parahyangan ingin mewawancarai anda perihal terpilihnya anda sebagai salah satu dari 3 calon rektor periode 2011-2015.

U : Oh iya silakan-silakan.

E : Pertama-pertama, anda sudah berapa lama dan menjabat sebagai apa di UNPAR ini?

U : Saya sendiri sudah dari tahun 1981 di UNPAR dan sekarang menjabat sebagai Dekan di FISIP.

E : Lalu, karena sudah terpilih menjadi calon rektor, visi misi apa yang anda punya?

U : Kalau bicara mengenai visi misi, setiap organisasi pasti memiliki visi dan semua kegiatan ditujukan kearah visi tersebut. Lalu, bila saya terpilih menjadi rektor untuk 4 tahun ke depan, misi yang dilatar belakangi oleh visi saya yaitu terwujudnya nilai-nilai fundamental UNPAR berdasarkan Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti dengan nilai ketuhanan dan katolik universal untuk penyelenggaraan universitas yang unggul dengan mengandalkan potensi lokal pada tataran internasional bagi peningkatan martabat manusia. Selain itu juga, saya memiliki misi yang cukup mendasar, yaitu “menyamakan” seluruh warga UNPAR.

E : Maksud “menyamakan” itu seperti apa pak?

U : Jadi seperti ini, seluruh warga unpar baik itu mahasiswa, mahasiswa baru, dosen, rektor, pekarya, yayasan, dan seluruh keluarga UNPAR diselaraskan agar tercipta suatu lingkungan dan kondisi kampus yang nyaman. Suasana seperti itu akan membuat UNPAR menjadi semakin efektif sebagai sebuah universitas dan juga akan timbul timbal balik kebutuhan yang semakin terpupuk antara keluarga UNPAR tersebut.

E : Menurut pandangan anda, kondisi UNPAR sekarang bagaimana? Dan mungkin permasalahan yang menurut anda ada pada UNPAR sekarang ini?

U : Nah UNPAR saya kira sekarang ini sudah sangat kompetitif dengan PTS yang lain. Namun, memang saya lihat bahwa apa yang dicapai oleh UNPAR sekarang ini belum sebanding dengan potensi yang dimiliki. Kita ini punya potensi yang hebat, tapi permasalahannya potensi tersebut belum tergali secara maksimum. Potensi yang dimaksud disini bukan hanya mahasiswa, tetapi juga dosen misalnya. Jadi yang ingin saya tekankan disini adalah bagaimana mensinergikan potensi itu secara optimum baik itu akademis – non akademis maupun nasional – internasional.

E : Lalu juga menurut pandangan anda, mahasiswa UNPAR sekarang itu seperti apa?

U : Menurut saya mahasiswa UNPAR secara umum adalah mahasiswa yang sangat kritis, cerdas, dan seperti yang sudah saya sebutkan tadi, terdapat banyak potensi yang sangat besar di dalamnya, walaupun mungkin belum secara optimal dipakai mahasiswa tersebut. Mahasiswa UNPAR juga bisa saya analogikan sebagai garam, garam UNPAR, untuk bisa membawa dan menyebar nama baik UNPAR maupun nama baik dirinya sendiri setelah digembleng di universitas ini. Maka dari itu kita usahakan agar tidak timbul citra buruk, bagaimana kita bisa membentuk mahasiswa yang bisa memberikan citra yang baik bagi UNPAR.

E : Lalu, itu bisa dibilang lebih ke arah akademis ya pak, bagaimana pandangan anda mengenai mahasiswa UNPAR dari segi perilaku dan pribadi secara umum-nya?

U : Secara yang saya liat, pribadi mahasiswa UNPAR ini masih bagus ya. Meskipun disana – sini saya kira masih banyak terjadi pengelompokan antara mahasiswa, hal seperti itu menurut saya tidak bisa dihindarkan. Tapi secara umum saya kira relative masih bagus, karena terbukti di UNPAR selama sekian puluh tahun ini tidak ada kasus – kasus yang membuat nama UNPAR menjadi jelek, entah tawuran atau pernak – pernik lainnya. Memang perilaku negative yang berskala kecil itu pasti ada, tapi itu kan suatu dinamika dari proses pendewasaan mahasiswa itu sendiri, saya anggap itu sebagai sebuah kewajaran.

E : Selanjutnya, menurut anda, mengapa anda bisa terpilih menjadi 3 calon rektor tersebut?

U : Haha, kalau menurut saya mungkin saya termasuk yang dianggap potensial untuk itu. Baik itu dari pengalaman, lalu bisa juga diliat pada saat beberapa diskusi, kemudian mungkin saya juga dinilai dari pergaulan, yang notabene saya mudah diterima oleh orang, dan juga terutama yang saya kira karena saya sudah 2 kali jadi dekan, mungkin ini yang dinilai oleh banyak orang, bahwa saya belum pernah ada kegagalan dalam menjabat posisi dekan tersebut. Ini menurut saya ya, lalu karena kalau saya ada cacat atau kegagalan sebagai dekan 2 kali orang tidak akan simpatik terhadap saya. Ya intinya disini adalah potensi saya dan 2 calon lainnya dipilih oleh senat karena kami berpotensi untuk menjadi rektor tersebut.

E : Pandangan anda pada 2 calon rektor lainnya?

U : saya kira mereka bagus-bagus, sangat bagus. Seperti yang saya sudah sebutkan, disini yang bermain adalah potensi, potensi sebagai rektor, dan kami bertiga memiliki itu. Tapi saya garis bawahi disini bahwa potensi kami masih harus dan akan digali disini, yang saya maksud adalah bahwa potensi kami itu sendiri belum mencapai puncaknya.

E : Menurut anda, bagaimana kepemimpinan ibu cecillia lauw sebagai rektor selama masa jabatannya?

U : haha, ya.. saya kira, saya sedikit sulit untuk menjelaskannya. Karena kadang-kadang kepemimpinan kan bersifat situasional, mungkin pada saat sekarang yang beliau anggap cocok atau tidak itu berdasarkan situasi yang beliau jalani pada masa jabatannya. Namun, misalkan saya terpilih sebagai rektor, jelas saya tidak akan memakai gaya yang sama dengan beliau. Karena gaya kepemimpinan setiap orang berbeda. Yang jelas saya tidak akan melakukan cara-cara yang sama seperti itu, saya akan membuat sesuatu yang lain dan baru. Kenapa demikian? Itu jelas karena visi misi saya berbeda dengan beliau. Walaupun pada dasarnya tidak berbeda secara total juga karena masih berkelanjutan. Yang pasti andaikan saya menjadi rektor, saya akan melakukan evaluasi secara keseluruhan. Memperbaiki yang buruk dan mempertahankan yang baik.

E : Lalu ini terakhir pak, pesan – pesan anda untuk seluruh wrga UNPAR?

U : Sekali lagi, kebersamaan adalah sesuatu yang penting dalam kebaikan UNPAR ini. Bukan dosen, bukan dekan, bukan rektor, bukan mahasiswa, bukan yayasan, bukan pekarya atau yang lainnya untuk memajukan UNPAR ini, ini adalah tanggung jawab bersama, bahkan mahasiswa merupakan peranan paling penting disini.

E : Baiklah, terima kasih banyak pak anda sudah menyediakan waktu untuk wawancara ini.

U : Oke tidak apa-apa de, terima kasih banyak.

(Eky Alkautsar)

Related posts

*

*

Top