Rocky Gerung : Satu – satunya Tempat Paling Bebas di Alam Semesta adalah Ruang Kelas

STOPPRESS MP, UNPAR –  ” Satu – satunya tempat paling bebas di alam semesta adalah ruang kelas, sebab di ruang kelas orang hanya bertumpu pada kekuatan argumen. Jadi apapun pikiran orang harus bisa disajikan untuk dibantai, termasuk pikiran tentang surga dan nasionalisme” ungkap Rocky Gerung dalam Diskusi Politik Akal Sehat Vs Politik Akal Miring pada hari Minggu(5/2) di Rumah Integritas JAWA BARAT , Bandung, Jawa Barat.

MP berhasil mewancarai Rocky setelah diskusi berakhir. Dalam wawancara dengan kami, Rocky memaparkan tentang fungsi universitas, dan artikulasi politik kepada kami. Simak video SorgeMagz – VISI.  http://www.sorgemagz.com/?p=233

Rumah Integritas Jawa Barat, 5 Februari 2012.

MP (Media Parahyangan): Tadi Mas Rocky berbicara mengenai politik di kampus, namun sekarang di lingkungan kampus, belum ada kesadaran untuk menganalisis situasi, bagaimana menumbuhkan pikiran kritis di mahasiswa?

RG (Rocky Gerung): Pertama, kan kita mesti bilang bahwa kritisisme itu harus dioperasikan  melampaui ruang kelas. kalau dalam metodologi diajarkan tentang critical thinking, itu juga critical thinking terhadap fenomena sosial. Justru fungsi dari Universitas selain pendidikan dan penelitian adalah pengabdian masyarakat. Nah, dharma ketiga itu  harus dimaksimalkan dalam bentuk kritik sosial. Dalam keadaan Indonesia carut marut semacam ini, dan problem utamanya ada di partai politik, maka sasaran kritik terpaksa harus ke partai politik, ‘kan? Nah, itu yang sebetulnya saya katakan bahwa kampanye yang paling bermutu adalah kampanye di kampus. Sebab kampanye politik di kampus pasti dua arah, kalau di lapangan terbuka ‘kan cukup penyanyi dangdut taruh di situ, joget-joget, selesai. Tidak ada pembahasan, tidak ada skrutinisasi tentang ide.

Saya katakan tadi bahwa partai politik nature-nya adalah menipu. Dan penipuan itu hanya bisa dicegah oleh critical thinking. Critical thinking itu adanya di kampus. Dengan kata lain, kalau mahasiswa mengucapkan kritik terhadap partai politik, atau mengundang partai politik di kampus dalam upaya debat rasional, itu satu bentuk dari pelaksanaan fungsi ketiga dari perguruan tinggi, yaitu pengabdian masyarakat. Itu aja dasarnya. Jadi kalau rektornya bilang ga bisa, dasarnya apa rektor bilang ga bisa? Kalau begitu, politik akan diuji dimana? Diuji di lapangan terbuka pakai penyanyi dangdut apa? Gitu aja, gampang itu.

MP: Kalau fakta bahwa sekarang banyak nasionalisme buta dan syariat islam beredar di kampus, bagaimana cara menghadapinya?

RG: Satu-satunya tempat paling bebas di alam semesta adalah ruang kelas. Sebab di ruang kelas orang hanya bertumpu pada kekuatan argumen. Jadi apapun pikiran orang, dia harus bisa disajikan untuk dibantai. Termasuk pikiran tentang surga, pikiran tentang nasionalisme. Jadi, ga ada alasan bahwa kampus itu menutup diri dari semacam “oh canggung, hari ini soal agama segala macem” Enggak! Agama itu dibahas di kampus bukan keyakinannya, tetapi argumen tentang agama, argumen tentang keyakinan. Jadi, itu sebetulnya yang menyelamatkan dunia Eropa dari perkelahian perang agama disana. Karena kampus membuka diri untuk memeriksa argumentasi yang teologiskah, yang metafisik. Jadi biasakan aja mengundang orang, Anda punya pandangan tentang nasionalisme, oke. Letakkan di meja, kita diskusikan sampai betul-betul telanjang. Anda punya pandangan tentang agama, tentang keyakinan, tentang alam semesta, tentang Tuhan. Taruh di meja, kita diskusi. Syaratnya adalah: jangan marah kalau diskusi. Diskusi ditujukan untuk memperhalus argumen. Jadi argumen makin lama makin halus – kita bisa lihat serat-serat dari isi pikiran itu. Kalau dia menutup diri artinya dia tidak siap hidup didalam tradisi intelektual. ‘Kan dasarnya begitu.

Di kampus, ukuran pertama adalah anda intelektual. Intelektual berarti force of the better argument. Hanya argumen yang bermutu yang boleh diucapkan di kampus. Apa ciri argumen bermutu? Argumen bermutu adalah argumen yang membuka diri untuk dikritik ulang. Dengan cara itu ada dialektika ilmu pengetahuan. Jadi kalau bilang, “pokoknya gue yakin ya begini” you jangan debat. You bilang “pokoknya” itu artinya you menutup peluang untuk bertengkar secara rasional. Gitu, dong.

MP: Saya juga pernah datang ke seminar di ITB, mereka membagikan semacam flyer (selebaran – red) menyebarkan syariat islam dan anti-pluralisme. Bagaimana kita menyikapinya?

 RG: Saya kira biasa aja orang mengedarkan itu, tapi mesti ditekankan bahwa anda mengedarkan artinya anda ingin terbuka untuk dipersoalkan. Kalau anda edarkan itu sebagai kebenaran absolut, maka saya tidak akan mengkonsumsi itu. Sebab yang diedarkan di ruangan kampus adalah sesuatu yang sifatnya falibilis. Falibilis artinya bisa dibuktikan salah. Kalau ga bisa dibuktikan salah, dirawatlah itu di ruang ibadah masing-masing. Supaya tidak ada problem dengan argumentasi. Jadi mau edarin proposal tentang negara islam, negara kristen, negara hindu, boleh aja tapi prinsipnya adalah kita mau debat tentang ide itu. Dalam islam misalnya juga, banyak ayat yang bisa diperdebatkan: ayat-ayat yang bersifat sosiologis, muamalah, soal  -apa namanya –  hukum waris kan bisa diperdebatkan.Yang ga bisa didebatkan adalah ayat-ayat yang sifatnya akidah, yang vertikal. Yang udah pasti. Kita ga bisa debatin tentang ada tidaknya Tuhan, dalam keyakinan. Di dalam teori evolusi boleh didebatkan. Jadi kalau dia datang dengan prinsip “Oke, ini ada pandangan saya” Oke, boleh ga itu dibicarakan secara akademis? Kalau enggak, oke, terimakasih tapi itu adalah keyakinan. Keyakinan tidak mungkin diperdebatkan. Tapi pengetahuan harus terbuka untuk diperdebatkan.

Simple aja, bilang aja oke, leaflet anda menarik. Saya mau bertanya Saya mau ajukan problem. Saya undang anda masuk kelas, kita debat disitu. ‘Kan itu gaya yang biasa, di luar negeri juga begitu, banyak pandangan yang absolut. Tapi kalau dia dipersiapkan untuk dipertengkarkan secara akademis, yang absolut juga bisa jadi relatif. Jadi ga ada pengentalan ideologi yang habis-habisan dikampus. ‘Kan kampus tempat orang menikmati masa muda. Masa muda adalah masa dimana semua kemungkinan harus diperlihatkan sebagai milik bersama. Hanya dengan cara itu, kampus bisa tumbuh. Kampus adalah tempat kemungkinan diolah dengan akal, bukan tempat keyakinan. Kalau keyakinan adanya di ruang-ruang privat. Ruang agama masing-masing orang. Jadi saya kira mesti terus terang mengatakan: “Apa yang anda sodorkan mengundang pertanyaan saya, kalau anda terbuka dengan pertanyaan itu, kita bisa bercakap-cakap. Kalau anda menutup diri, Saya juga mengembalikan aja.

MP: Berbeda dengan generasi sebelumnya, mahasiswa kini lebih apatis. Tak banyak yang concern  pada masalah-masalah politik. Apa Mas optimis bahwa Indonesia bisa menuju arah yang lebih baik?

RG: ‘Kan saya selalu anggap bahwa kita harus tumbuh lebih berkualitas. Kita harus berpikir lebih tajam. Kenapa? Sebab mahasiswa, kalau dia mahasiswa Unpad, misalnya, saingannya ‘kan bukan mahasiswa ITB. Saingannya adalah mahasiswa Boston, Saingannya adalah mahasiswa NU (Northeastern University – red) di Australia. Jadi dia mesti melihat bahwa kompetisi itu sekarang sifatnya global. dengan cara itu, kita bisa produksi apa yang disebut ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan, ruang kelas itu ‘kan selebar wikipedia, seluas Stanford Encyclopedia, bukan sekedar apa yang ada didalam kelas. Kalau dulu misalnya, gerakan mahasiswa tahun 80’an jelas lebih susah, lebih keras. Misalnya kalau dulu ada mau baca buku Das Kapital, itu mesti dibungkus pakai kertas, supaya ga kelihatan judulnya. Buku-buku kiri misalnya, buku yang anti militer. Kalau lagi diskusi kayak begini sekarang, kita mesti pastikan kalau jendela belakang itu dibuka, karena kita mau loncat, sekarang kan justru ga ada, ‘kan?   Jadi justru di jaman sekarang, kita lebih produktif dengan alam pikiran kita. Dulu, diskusi begini, 2 jam kemudian udah dipanggil. Dengan  daftar resmi yang hadir ini ini ini. Intel udah kemana-mana. Jadi kesempatan mahasiswa untuk berinvestasi menumbuhkan infrastruktur politik akal sehat ada hari ini. Itu lebih penting kita pikirkan. Tapi ada aja orang yang berinvestasi untuk perbaikan hidup kedepan, oh iya, tapi kalau politik ga berubah, seperti saya katakan tadi, ya kita jadi profesional yang sebetulnya tidak tumbuh dari dalam, dengan enersi kita sendiri. Kita berharap nanti dunia akan berubah, enggak. Dunia ga akan berubah, kita yang mesti merubah dunia itu.

MP: Sekarang gerakan politik mulai viral, merambah ke internet, tapi skadang-kadang saya melihat keengganan dari mahasiswa untuk politik yang tadi mas bilang face-to-face, jadi ada istilah clicktivism, tinggal klik, dan beres. Kira-kira bentuk ideal politik kewargaan untuk mahasiswa seperti apa?

RG: Tetap yang ideal adalah pertemuan pikiran sekaligus pertemuan wajah. Sebab argumentasi bisa diedarkan lewat buku, tetapi politik artinya memahami manusia. Dan manusia itu ada di matanya. Penderitaannya kita baca di matanya. Bukan pada keluhannya di Facebook. Nah, inti dari politik sebetulnya adalah itu. Kita ingin agar supaya the unspeakable akhirnya mengucapkan sesuatu. Dulu perempuan dianggap sebagai non-factum dalam politik, karena dia dianggap – perempuan, apa perempuan? perempuan ‘kan bayi yang bertubuh besar. Jadi pikirannya juga pikiran bayi sebetulnya. Tapi kemudian politik berubah, sehingga sekarang kita punya affirmative action, bahwa politik harus bisa diisi 30 persen minimal oleh perempuan. Orang protes, lho, kenapa ga free-fight? Lho, enggak. Karena selama 25 abad, perempuan disisihkan dari politik, oleh karena itu dia berhak untuk memperoleh apa yang dicuri oleh kaum laki-laki. Jadi kalau disebut, misalnya, perempuan berpolitik, itu artinya laki-laki harus bayar utang peradaban yang dulu dia nikmati. Nah, sekarang bahkan, utangnya aja dibayar, utang berbunganya, bangkrut si laki-laki. Dia udah mulai marah. Jadi affirmative action itu adalah hasil dari perjuangan perempuan untuk mengatakan bahwa kebijakan publik hanya bisa disebut demokratis, kalau sebagain besar penerima kebijakan publik ikut melakukan penyusunan kebijakan itu. Siapa mereka? Ya perempuan. Nah, ini sebetulnya contoh bahwa yang tadinya tidak potential maju untuk mengucapkan kepentingannya.

Sekarang mahasiswa dianggap sebagai the marginal , karena dia dianggap ga matang dibanding politisi. Betul, tetapi potensi kritisisme hanya ada pada mereka yang punya jarak dengan politik. Jadi justru dengan jarak itu, kesempatan selama 3 tahun dalam aktivitas mahasiwa, 2 tahun sibuk dengan skripsi, saya kira ruang itu yang disediakan oleh sejarah untuk diisi oleh mahasiswa. Yaitu bertengkar secara rasional, ucapkan kepentingan atas nama kewarganegaraan, bukan atas nama primordialisme.

Ya kalau soal kampus prinsip saya satu, kita mesti hidupkan pluralisme dalam kampus, terutama cara berpakaian, cara berpikir, orang ga dinilai karena celananya butut (pewawancara bercelana butut tertawa) Profesor Zizek (Slavoj Zizek, pemikir asal Slovenia -red) yang you sebut tadi, ada di tengah-tengah Occupy Wall Street, setiap hari pakai jins butut sama kaos oblong tapi bukunya ada kira-kira 500 yang dia tulis. Jadi bukan itu ukurannya, kita kadang-kadang judge orang dari penampilan segala macem. Juga ga bener orang yang pakaiannya kuyu-kumuh dianggap proletar misalnya. Jadi selalu mengukur orang di dalam debat dalam ruang kelas. Dengan cara itu kita tahu apa sense of justice dia, apa metodologi reasoning dia, apa logic dibelakang argumen. Nah yang beginian, pasti sedikit dimana-mana. The priviliged few, namanya privileged few pasti sedikit. Tapi diseminasi dari pikiran kritis, begitu ada kesempatan sejarah, itu dia tumbuh lebih cepat dari virus. Dalam semua kesempatan, begitu critical mass-nya tumbuh, critical times-nya tersedia, maka yang tadi sedikit pasti, dalam istilah akademis, berkembang biak sebagai pikiran yang subversif dalam arti positif.

 

Top