Wawancara Dengan Robertus Wahyudi Triweko

Z : Terimakasih pak, sebelumnya saya ingin tahu Nama lengkap bapak, dan bapak menjabat sebagai apa di unpar dan sudah berapa lama?

R :   Saya Robertus Wahyudi Triweko, lahir di Karanganyar, Surakarta 6 juli 1954. wah jabatan.. panjang itu ceritanya. saya itu tahun 1985 pembantu dekan kemahasiswaan di fakultas teknik Unpar, setelah itu tahun 1986-1987 Ketua Jurusan Teknik Sipil, kemudian setelah itu studi di Amerika tahun 1992, lalu mulai menjabat lagi desember 1994 menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Administrasi dan Keuangan sampai tahun 1998. Dari Wakil Rektor Bidang Administrasi dan Keuangan diminta menjadi Wakil Rektor Bidang Kerjasama, itu diantara tahun 1998 sampai tahun 2002. Di desember 2002 saya diminta menjadi Dekan Fakultas Teknik sampai 1 Maret 2010, lalu setelah itu kosong. Dan disini baru dari 17 Januari 2011 diminta menjadi Ketua Lembaga Pencaharian.

Z: Oh, lalu apakah bapak mempunyai aktifitas atau kegiatan lain selain di Unpar

R:  hmm, bisa dikatakan saya yang utama 100 %  waktu disini di unpar, yah sesekali diminta membantu di Sekertariat Dewan sebagai narasumber di Litbang Sumber Daya Air,  atau diminta membantu pemerintah menguruskan sesuatu.

 

Z: Seperti proyek-proyek begitu?

R: Ya proyek, mereka meminta saya karena saya dosen Unpar, kalau saya bukan dosen Unpar, mereka tidak akan meminta, karena mereka mengenal keahlian saya.

Z: Sekarang kita beralih ke inti wawancara Pak, bagaimanakah tanggapan bapak tentang Unpar? cakupannya seperti mahasiswanya bagaimana dan segi kualitasnya bagaimana?

R: yah, sampai saat ini menurut pandangan saya, Unpar ini masih menjadi universitas swasta terfavorit diantara universitas swasta yang lain, baik diantara yang lain di Bandung, jadi kalau mau masuk universitas swasta itu ya harus masuk unpar, unpar itu menjadi trademark bagi universitas swasta yang lain meskipun dalam beberapa hal mereka lebih baik. Sementara itu dari pemerintah melihat unpar sebagai suatu contoh, tiap kali ada apa-apa itu pasti arahnya ke unpar,harapannya ke unpar. Misalnya sekarang Unpar itu diminta untuk ikut didalam Internasional Researching di perguruan tinggi, nah itu kan mestinya yang diajukan perguruan tinggi negeri, negeripun bukan sembarang negeri. Tapi ternyata unpar diberi kepercayaan. Unpar itu kan masuk dalam 50 Promising University, ya tidak heran sih dari segi usiapun unpar masuk perguruan tinggi swasta paling awal tahun 1955 sementara itu kita merdeka tahun 1945.

Sementara dari mahasiswa, mereka disini pasti mengalami dan merasakan suasana pembelajaran yang katakanlah khas unpar dalam arti ada kebebasan tapi juga ada tanggungjawab. Tapi kadang-kadang karena kebebasan dan jiwa muda terkadang ada tindakan yang sedikit berani. Tapi secara keseluruhan saya liat masih baik, terdapat semangat belajar. Secara umum dilihat dari kelancaran studi, rata-rata studinya lancar tak ada masalah. Lalu terhadap mahasiswa merokok, saya kadang-kadang kesal sekali terhadap mahasiswa yang merokok didalam gedung, jadi ini menunjukan kok tidak peduli, tidak mengerti terhadap kedisiplinan, lebih-lebih sebagai seorang mahasiswa yang nantinya akan menjadi pemimpin. Cuma ya itu tidak mengerti terhadap perilaku menyesuaikan diri.

 

Z: Ya penyesuain diri itu harus, lalu pak kita masuk dalam pemilihan rektor. Apakah bapak siap untuk kalah dan siap untuk menang?

R: Untuk saya itu bukan masalah menang atau kalah. Jadi untuk saya, itu merupakan amanah.  Saya kan sudah pernah ikut tahun 2006 lalu, tidak terpilih itu sih bukan jadi soal. Kalau saya dipercaya, ok saya terima dan pasti akan saya laksanakan dengan baik karena itu amanah, tapi kalau misalnya tidak, ya tidak apa-apa saya tetap menjadi guru besar Teknik Sumber Daya Air, tugasnya tetep banyak.

 

Z:  Saat bapak misalnya terpilih menjadi rektor apakah bisa bapak membangun prasarana gedung kuliah tanpa membebani mahasiswa.

R: Sebetulnya ya urusan prasarana itu ujungnya  yayasan yang mengurus, tapi ya tentu saja atas persetujuan dari rektorat dengan meningkatkan agar kampus ini ada sesuatu yang baru dan yang lebih nyaman. Hingga tidak tertutup kemungkinan bahwa memang kadang-kadang kita perlu untuk membangun kembali, merombak juga merenovasi. Pengelolaan keuangan di yayasan sudah dilaksanakan dengan baik, kita mengelola uang dengan sangat hati-hati dan juga sangat efisien dan lagipula kita tidak mentolerir orang yang korupsi. Sehingga jika ada proses pembangunan, seperti unpar membangun 10 lantai uang kuliahnya dinaikan menjadi 2x lipat itu takan terjadi.

 

Z: Bisa dideskripsikan secara singkat, jika bapak terpilih menjadi rektor Unpar, visi dan misi bapak kedepan seperti apa?

R: Begini , saya itukan bisa dikatakan orang yang dibesarkan di Unpar. Jadi kalau saya terpilih itu merupakan amanah, saya siap laksanakan sebagai keluarga besar Unpar. Lalu yang menjadi pertanyaan Unpar ini mau dibawa kemana? Yang menjadi keprihatinan saya yang paling besar adalah bagaimana perguruan tinggi di Indonesia itu bisa berperan didalam pembangunan masyarakat, ini keprihatinan saya, bukan hanya untuk Unpar tetapi juga untuk perguruan tinggi yang lain. Bahwa sampai saat ini perguruan tinggi itu belum dimanfaatkan secara penuh. Memang perguruan tinggi/ universitas sudah mendidik kaum muda seperti kalian, ini merupakan salah satu peran.

 

Dengan kalian mengikuti pendidikan disini setelah lulus lalu siap untuk berpartisipasi di masyarakat bukan hanya masalah kalian dapat pekerjaan, tapi kalian berpartisipasi social itupun juga bentuk berpartisipasi. Kitakan mendidik mahasiswa menjadi seorang pribadi yang utuh, pribadi yang utuh memang mempunyai kualifikasi sebagai sarjana, tapi setelah menjadi sarjana urusannyakan bukan hanya dalam pekerjaan, urusannya adalah kehidupan dalam masyarakat. Jadi itu salah satu peran, dalam hal ini ini kita sudah meluluskan lebih dari 45.000 alumni dan itu tersebar di berbagai pelosok tanah air, itu merupakan kebanggan kita juga, mempunyai lulusan dimana-mana dan lulusan itu juga ada yang bekerja sebagai wirausaha, karyawan swasta, ada juga yang menjadi pegawai negeri, LSM, lembaga internasional, perusahaan internasional juga ada.

 

Kita ini mempunyai lulusan yang bervarian, masing-masing orang berpatisipasi di kehidupan masyarakat. Itu salah satu tugas dari perguruan tinggi. Tapi di bidang lain ini manurut saya masih kurang, kalau misalnya pemerintah punya masalah, bagaimana pemerintah menyelesaikan masalah, sejauh mana mereka memanfaatkan keahlian diperguruan tinggi, sejauh mana mereka menanyakan perguruan tinggi, ini masih sangat kurang.

 

Bisa dikatakan seperti tadi saya diminta untuk menjadi narasumber bagaimana memperbaiki kualitas karya ilmiah, itu merupakan hal yang baik dan positif. Tapi masih kurang, lebih-lebih kalau kita bandingkan dengan perguruan tinggi di negara maju, perguruan tinggi di Inggris, Amerika atau Jepang itu menjadi tumpuan harapan negaranya dalam pembangunan sosial ekonomi, misalnya ya saya pernah ke jepang disana ada satu pusat penelitian, dan penelitian itu ada peneliti dari perguruan tinggi, dari industri, pemerintah, jadi peneliti dari ketiga sumber bertemu disana, bukan hanya bertemu tetapi bekerja bersama disana selama berbulan-bulan,bertahun-tahun untuk menghasilkan sesuatu, menghasilkan produk artinya melalui penelitian itu orang melakukan inovasi untuk mendapatkan  produk, kemudian produk itu diserahkan ke industri untuk diproduksi, antara lain yang waktu itu saya liat produk smartcard, jadi kartu yang bisa membuka pintu kamar atau sensor seperti itu, itu semua dikembangkan disana. Itu contohnya dan tentu saja hal–hal yang terkait dengan kebijakan pemerintah, jadi saya itu menggambarkan perguruan tinggi itu menjadi jantung hati masyarakat ditengah-tengah segitiga.

 

Nah, segitiganya kearah mana? yaitu sudut pertama  kearah masyarakat, sudut kedua ke arah pemerintah dan sudut ketiga ke dunia industri/usaha. Jadi untuk masalah menghasilkan SDM yang berkualitas ya itu tadi ketiga arah. Tapi juga dalam menyelesaikan masalah, ada masalah yang berasal dari masyarakat kita bisa bantu menyelesaikan, masalah pemerintah kita bisa membantu bagaimana membuat kebijakan yang adil yang mensejahterakan, lalu juga ke industri bagaimana membuat industri yang efisien. Sesuai dengan bidang keahlian kita masing-masing. Ini yang belum terwujud dari perguruan tinggi. Kenapa misalnya di Amerika ada Landgren university, universitas itu merupakan universitas yang dibentuk oleh pemerintah untuk memajukan kegiatan pertanian, ada berupa lahan yang sangat luas untuk mendirikan universitas. Tapi mengapa pemerintah Amerika melakukan itu? sederhana saja tujuannya, yaitu sebagai swasembada pangan, jadi pada waktu itu persoalannya disana masih urusan swasembada pangan yang artinya harus mengembangkan pertanian. Dibangunlah Landgren University itu, tapi sebagai universitas tugasnya mendidik kaum muda di negara itu supaya menjadi lebih pintar, kalau pintar kegiatan pertanianpun akan menjadi lebih baik.

 

Yang kedua menjadi sumber tempat bertanya bagi petani-petani, jadi kalau petani menghadapi masalah datanglah ke universitas, tanyalah kesana. Tapi juga ada masalah yang tidak bisa diselesaikan seperti itu, untuk mengkaji itulah digunakan penelitian. Jadi menurut saya tridharma perguruan tinggi itu muncul pertama kali ya di Amerika itu dengan konsep pembelajaran memberikan pengajaran dan yang kedua tadi kalau universitas menyediakan diri sebagai tempat pertanyaan tadi jadi itu merupakan pengabdian terhadap masyarakat, bagaimana universitas menyelesaikan masalah yang langsung terkait dengan masyarakat.

 

Dan yang ketiga itu penelitian, jika jawaban dari permasalahan tadi belum ada, belum diketahui, untuk mengetahui jawabannya apa orang melakukan penelitian, dan itulah yang kemudian menjadi inti kegiatan perguruan tinggi yang dibawa sampai sekarang,termasuk juga di Indonesia yaitu tridharma perguruan tinggi. Namun sekarang bagaimana tridharma ini kita implementasikan dengan sungguh-sungguh dengan baik sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini dan tentu saja berbeda dengan kondisi Amerika.

 

Z: Wah, visi yang luar biasa sekali dari bapak. Terima kasih atas waktu yang bapak sudah sediakan untuk Media Parahyangan.

R: Tidak masalah, semoga sukses selalu.

(Undzhira Adzrani)

Related posts

*

*

Top