Wawancara Dengan Robertus Wahyudi Triweko

Robertus Wahyudi Triweko, Rektor Unpar yang baru terpilih, segera menghadapi situasi serius: Wabah hepatitis A yang menjalar cepat dikalangan mahasiswa, dan warga sekitar Unpar. Memasuki November, korban sudah mencapai ratusan, baik yang masih diopname, atau rawat jalan.

Pada hari Rabu, 9 November, akhirnya surat edaran rektor berisi perkembangan situasi terkini diterbitkan. Dalam surat edaran tersebut, Triweko antara lain menjamin kualitas air Unpar, dan menjamin kebersihan lingkungan kampus Unpar. Selain itu, ia merencanakan subsidi untuk para mahasiswa yang terkena hepatitis A, ” kami sudah membicarakan dengan yayasan untuk  memberikan subsidi sebesar Rp100.000,- untuk mahasiswa agar meringankan biaya. sehingga mahasiswa yang ingin di vaksinasi hanya membayar Rp 130.000,- saja” ujarnya ketika ditemui Stoppress! pada Kamis, 10 November di ruang kerjanya.

Berikut petikan wawancara Stoppress! dengan Robertus Triweko, mengenai subsidi untuk mahasiwa yang terkena hepatitis A, dan juga mengenai salah satu misinya untuk meringankan biaya kuliah di Unpar.

Media Parahyangan (MP) : Apakah benar ada subsidi untuk mahasiswa yang berkaitan dengan hepatitis?

Robertus Triweko (RT) : Iya memang benar, ada subsidi untuk vaksinasi hepatitis A  yang dilakukan di ruang piala GSG (Gedung Serba Guna). Harga yang diberikan dari Borromeus adalah Rp 230.000,- kami sudah membicarakan dengan yayasan untuk  memberikan subsidi sebesar Rp100.000,- untuk mahasiswa agar meringankan biaya. sehingga mahasiswa yang ingin di vaksinasi hanya membayar Rp 130.000,- saja.  hanya memang kapasitas vaksin terbatas, karena untuk mendapatkan vaksin harus pesan dari jakarta. sehingga hingga hari sabtu nanti targetnya sekitar 200 mahasiswa yang mendapat vaksin.

MP           : Mengapa hanya 200 orang saja?

RT             : Ya sementara ini untuk 200 orang dulu, karena dari segi waktu, kesiapan batin, kesiapan Borromeus hanya dapat dilakukan untuk 200 orang.

MP           : Ada isu bahwa bila mahasiswa sakit hepatitis dan kemudian dirawat di rumah sakit menggunakan ruangan kelas 3 maka biaya perawatannya akan diganti?

RT             : Bukan diganti sama sekali ya, kami belum menghitung dengan pasti berapa. Tapi memang ada keinginan kami dengan yayasan  untuk membantu biaya rawat inap bagi mereka yang dirawat di kelas 3.

MP           : Tapi itu masih belum pasti nominalnya berapa?

RT             : Persisnya belum pasti berapa, karena kami juga belum menhitung. tapi, prinsipnya adalah kami ingin membantu meringankan. Nanti Pastor Tarpin (Laurentius Tarpin – Wakil Rektor 3 – Red) yang saya minta untuk mengurus hal ini. apakah mencari informasi ke borromeus atau bgaimana nanti menjadi urusan Pastor Tarpin.

MP           : Di Rumah Sakit Borromeus saja atau di rumah sakit lainya juga bisa di subsidi pak?

RT             : Seharusnya bisa di rumah sakit lainnya juga. tapi ini masih merupakan prinsip dari kami dan yayasan. bagaimana pelaksanaan oprasionalnya masih di bicarakan lagi. nanti pastor tarpin

MP         : Apakah rencana ini pasti akan dilaksanakan pada bulan ini atau bagaimana pak?

RT          : Iya tentu dalam waktu dekat ini akan segera dilaksanakan. kami berkonsultasi dengan borromeus  kira-kira masalah apa yang harus di dahulukan, ternyata vaksin harus segera diberikan makanya kami langsung mengadakan vaksin untuk 200 mahasiswa.

MP          : Beralih ke hal yang lain,  masalah biaya, waktu itu bapak bilang ada 3 keinginan bapak untuk Unpar salah satunya adalah biaya studi yang ringan. Bagaimana cara riil untuk melaksanakan biaya yang ringan untuk mahasiswa?

RT             : Kita masih harus menghitung persisnya berapa. hal ini bisa dikatakan adalah keinginan dan keyakinan bahwa itu bisa dicapai. tapi, operasionalisasi masih harus di rumuskan lagi. Sebagai gambaran kan bila mahasiswanya banyak maka biayanya juga rata-rata akan lebih murah.

Bagi saya adalah bagaimana saya memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi kaum muda untuk mencapai pendidikan setinggi mungkin. karena cita-cita saya adalah bagaimana menambah lulusan di level master. ini merupakan visi saya. tapi implementasinya, ini akan diturunkan berapa, ya nanti dulu saya masih memprosesnya. nanti kita hitung. konsepnya adalah seseorang melanjukan studi ke lever master butuh pertimbangan yang banyak salah satunya, biaya yang cukup besar, kebnyakan  orang tua hanya sanggup membiayai pendidikan sampai level S1. kemudian bisa jadi mahasiswanya belum merasa perlu wong, dengan lulus S1 aja masih bisa dapat kerja kok. Mungkin juga ada pertimbangan lain yang saya tidak tahu juga, tapi di lain pihak saya merasa bahwa akan jauh lebih baik kalau lebih bnyak mahasiswa menyelesaikan pendidikan di level S2, yah katakanlah 20% mahasiswa menyelesaikan di level S2. jadi itu adalah suatu cita-cita.

MP           : Lalu, untuk biaya semester depan apakah akan ada penurunan atau relatif tetap?

RT             : Biaya studi relatif tetap. ada kenaikan memang kita jaga untuk menutup inflasi. karena inflasi pasti terjadi. bisa dikatakan untuk program S1 tidak ada pengaruhnya, biaya studi kurang lebih akan tetap. tetap dalam arti nilai uangnya seperti sekarang. kalau tahun lalu ada kenaikan 5% atau 6% mungkin tahun ini juga akan tetap seperti itu. saya ga mau ubah-ubah itu. tapi yang S2 itu yang saya mau tinjau kembali.

MP           : Berarti  akan lebih fokus untuk membangun S2-nya dulu?

RT            :Memang arah kebijakannya kesana. Kita tidak bisa merombak semuanya. Menurut saya sejauh ini  S1 ini sudah baik. karena dibandingkan dengan perguruan tinggi lain  memang ada yang lebih murah tapi dari segi kualitas kita masih unggul. Begitupun dengan pergruan tinggi negeri  mereka masih lebih rendah. Kalaupun ada kesulitan biaya disini pun ada jalan keluarnya yaitu lewat beasiswa. jadi menurut saya untuk kondisi saat ini masih cukup baik. saya tidak akan membuat suatu kebijakan yang membuat orang bingung. kita ikuti saja apa yang ada, kalau bisa kita perbaiki kita perbaiki.

(Kania Mamonto)

 

 

Related posts

One Comment;

*

*

Top