Wawancara Dengan Pius Sugeng Prasetyo

M: Apa yang melatarbelakangi bapak untuk mencalonkan diri sebagai Rektor Unpar Periode 2011-2015?

P: Berangkat dari sebuah keinginan supaya UNPAR bisa lebih baik atau lebih maju lagi atau tidak semata-mata baik tapi lebih baik lagi, from Good to Great, kira-kira begitu.

M: Maksudnya baik yang seperti apa?

P: Baik disini tentu saja melihat bagaimana kondisi internal Unpar itu sendiri. Ada berbagai macam aspek dari kondisi internal mulai dari yang paling penting yaitu kondisi sumber daya manusianya, maupun yang bukan manusianya. Ini yang harus dikembangkan, dikonsolidasikan supaya menjadi kekuatan bersama namun hanya tidak menjadi kekuatan yang terpisah-pisah atau individual tapi ditransformasikan menjadi sebuah kekuatan organisasi baru. Apa yang dilakukan ditingkat internal ini tentu saja juga melihat bagaimana dinamika ditingkat eksternal artinya  pada lingkup mana unpar itu berada. Mulai dari lingkup yang paling dekat masyarakat sekitar, kemudian makin luas katakanlah di masyarakat kota Bandung, Jawa Barat, tingkat nsional sampai pada tingka internasional.

M: Dalam hal pencalonan ini apakah murni inisiatif bapak untuk mencalonkan sendiri atau diajukan oleh pihak lain?

P: Ada yang mencalonkan, dari salah satu unit yang tidak perlu disebut, artinya memang ada dicalonkan oleh salah satu unit.

M: Apa yang menjadi Visi dan misi bapak dalam pencalonan rektor ini?

P: Saya membuat semacam tag line dalam bahasa Latin yaitu Humanum et qualitatif. Artinya adalah unpar harus menjadi sebuah komunitas yang humanis- manusiawi yang sesuai dengan prinsip-prinsip, nilai-nilai dasar yang dibangun oleh para pendiri unpar yakni spiritualitas yang memang didasarkan kepada nilai-nilai kekatolikan yang universal untuk mengangkat martabat manusia. Unpar juga harus menjadi sebuah komunitas akademik yang berkualitas makanya disebut kualitatif. Ini sudah menjadi sebuah tuntutan mau tidak mau, suka tidak suka bahwa unpar harus bisa memberikan sebuah jaminan bahwa unpar itu bermutu- berkualitas. Hal ini hanya bisa dicapai apabila kita menerapkan apa yang disebut dengan quality assurance atau sistem penjaminan mutu internal. Adapun  yang harus dibuatkan standar mutu yaitu adalah semua aspek yang ada di unpar ini, mulai dari aspek yang akademik maupun yang non akademik, mulai dari isi atau kurikulumnya, proses pembelajarannya, kemudian dosennya, termasuk dengan kemahasiswaannya, karyawan non-dosennya, fasilitas-fasilitasnya, keuangan unpar, kerjasama unpar dan kesejahteraan warga unpar. Itu harus distandarkan semua, standar mutu hanya kemasannya, ini semua harus dikemas dalam konteks yang humanis tadi itu.

M: Sejauh ini bapak melihat apakah Unpar sudah memenuhi poin-poin yang bapak sebutkan tadi?

P: Melihat internal unpar, dimana kondisi internal unpar itu terdiri dari berbagai macam aspek maka kondisi sumber daya manusianya harus dikembangkan dan dikonsolidasikan supaya sikap individual bisa ditransformasikan menjadi kekuatan bersama menjadi kekuatan organisasi. Apa yg dilakukan di tingkat internal ini tentu melihat dinamika eksternal atau dimana unpar itu berada. Tidak fair juga apabila mengatakan bahwa unpar tidak melakukan apa-apa, tapi kita juga harus sadar bahwa ada yang kurang. Saya pikir keterbukaan untuk mengatakan harus ada upaya terus menerus untuk meningkatkan kondisi dari yang sekarang ini menjadi kondisi yang lebih baik.

M: Selanjutnya bisakah bapak menceritakan sedikit mengenai kertas posisi dan evaluasi diri bapak?

P: Mirip visi dan misi yakni megenai program-program apa yang akan dilakukan artinya bagaimana saya melihat unpar ini dan kemudian apa yang akan saya lakukan terhadap unpar ini. Kalau evaluasi diri lebih merupakan gambaran tentang diri saya sendiri mengenai hal-hal ada berbagai komponen yang ditanyakan mulai dari istilahnya bagaimana sikap saya dalam menjunjung tinggi kebenaran, bagaimana diri saya dalam konteks negara kesatuan RI dan kesetiaan pada pancasila. Normatif tapi yang dialami, kemudian bagaimana loyalitas saya pada unpar, dan kemampuan kemimpinan saya dari perspektif saya sendiri.

M: Bapak sendiri meraih skor kedua tertinggi yakni dengan skor 47, apakah hasil skor tersebut berpengaruh pada tahapan seleksi selanjutnya?

 

P: Tentu saja merupakan salah satu komponen pertimbangan yayasan, bukan yang paling menentukan tapi menjadi suatu pertimbangan dari yayasan untuk menentukan keputusannya nanti.

 

M: Apabila bapak terpilih menjadi rektor, program-program apa yang menurut bapak belum dimiliki unpar yang ingin bapak tambahkan?

 

P: Pertama memang kita sudah memiliki apa yang disebut dengan sistem penjaminan mutu, namun pengelolaan penjaminan mutu inilah yang akan menjadi kekuatan ketika kita mengatakan bahwa unpar itu berkualitas, maka harus ada jaminannya.

 

M: Dalam hal ini jaminan apa yang bapak tawarkan?

P: Tentu harus ada suatu sistem penjaminan mutu yaitu misalnya semua serba distandarkan. Saya ambil dalam salah satu contoh, IPK Mahasiswa kita buat target, katakanlah tahun depan harus ada peningkatan misalnya rata-rata indeks prestasi harus berapa, atau mungkin juga dosen, standar untuk tahun depannya harus ada yang sekolah jumlahnya berapa. Kemudian mahasiswa harus diberi pelatihan akan hal peningkatan karakter,  jelas sekarang standar ini belum ada.

M: Pada tanggal 13 April mendatang agendanya ialah pengenalan mengenai calon rektor ke Masyarakat unpar, apa saja persiapan bapak?

P: Ya, tentu saja pertama ingin memperkenalkan apa yang menjadi harapan saya ketika saya diangkat menjadi seorang rektor. Kemudian,  mengenalkan program-program yang memang bisa dicapai apabila terpilih menjadi rektor dan pastinya lebih mngenalkan pribadi. Pasti ada orang yang belum mengenal, tapi upaya mengnalkan diri dalam konteks publik penting juga ‘oh ini loh kira-kira sosoknya atau  figurnya yang akan dipilih nanti’.

 

M: Terakhir, dalam tahapan penyeleksian ini apakah bapak mengalami kendala-kendala?

 

P: Tidak. Saya pikir sudah bagus artinya adalah tidak ada suatu hal yang menjadi suatu kendala yang signifikan. Mulai dari panitia, sosialisasi, kemudian di senat, nampaknya iklimnya juga bagus, yayasan juga semarak dalam arti ada kegairahan untuk melakukan ini dengan cara yang tampaknya menyenangkan dan semua orang bisa menerima.

(Martha Kailuhu)

Related posts

*

*

Top