Wawancara dengan Muhammad Sidharta (Serikat Pekerja Forum Komunikasi Karyawan PT DI): Proyek Indonesia Harus Dilanjutkan

“kami akan berdiri di sini, tak sendiri, hingga nafas penghabisan. Kebebasan yang datang saat kau tak lagi memiliki harapan. Saat tak ada opsi yang tersisa selain berdiri menantang para tiran, saat momen terhidupmu adalah memasang badan di tengah medan kawan, mana kepalan kalian !” – [Homicide–tantang tirani]

Ini adalah sebuah cerita tentang satu manusia dari ribuan manusia, salah satu manusia yang menempa dirinya dalam pergulatan konsistensi perjuangan dan dialektika tanpa henti. Adalah Muhammad Sidharta (M Sidharta) salah satu “jenderal lapangan” dari SP-FKK -PT DI (Serikat Pekerja – Forum Komunikasi Karyawan – PT Dirgantara Indonesia), sebuah organisasi yang berhasil membuat ‘prestasi’ taraf nasional dengan mempailitkan PT Dirgantara Indonesia, sebuah BUMN, dengan alasan tidak mampu untuk membayar kewajiban utang terhadap karyawannya sendiri. Pertemuan dengan M Sidharta adalah sebuah pertemuan dengan manusia yang menolak menyerah dan tetap bertahan atas ketidakpastian, ketidakadilan, kehilangan, dan krisis yang menerpa, bergerak atas dasar keyakinan bahwa “kita tidak pernah sempurna tapi kemarin, kini, dan esok : kita mampu”. Berikut ini wawancara Media ParaHyangan (MP) dengan M Sidharta, yang mengajak kita untuk tetap percaya dan memelihara gagasan bahwa “dunia yang lebih baik itu mungkin”:

Keyakinan seperti apa yang membuat bapak bertahan, sejak dirumahkan dan di-PHK pada tahun 2003 hingga saat ini terus berjuang dan tetap konsisten dalam garis perjuangan seperti ini?

Pertama memang perjuangan ini adalah perjuangan antara hidup dan mati, kedua memang kita meyakini apa yang kita perjuangkan adalah sebuah kebenaran. Dari kacamata hukum positif : Undang-Undang dan regulasi yang ada, apa yang kita perjuangkan benar. Tapi terutama kepada keyakinan perjuangan adalah sesuatu yang benar dan tidak akan salah. Dengan dasar semua itu dilandasi dengan Undang-undang, perjuangan kami dibangun. Lalu, selain itu kita juga harus bisa meyakinkan anggota – anggota kita bahwa yang kita lakukan adalah sebuah kebenaran dan perjuangan yang bermartabat. Ini dilakukan pada tahun ke 1, 2, dan 3; setiap malam ke basis-basis untuk membangun kesepahaman persepsi tentang nilai-nilai yang kita perjuangkan. Membangun Serikat sebesar ini membutuhkan waktu yang lama, membangun basis-basis, memperkuat kapasitas individu, dan melakukan advokasi-advokasi. Selain itu juga membangun jaringan-jaringan di mahasiswa, wartawan, semua yang kita bisa jaring karena kita tidak bisa berjuang secara parsial, harus dilibatkan elemen lain dan pada akhirnya terbangun kepercayaan antar elemen. Jadi yang pertama membangun konsistensi, komitmen, dan integritas.Lalu keyakinan secara religious, bahwa manusia kalau belum seharusnya mati tidak akan mati, jangan takut terhadap bayang-bayang ketakutan sendiri, dan itu dibangun dengan keyakinan religious. Hal itu juga harus ditambahkan dengan keyakinan bahwa yang kita lakukan merupakan sebuah kebenaran di tengah situasi yang tidak benar ini. Pemimpin membohongi rakyat, korupsi,dan lain lain; kita harus yakin bahwa apa yang kita lakukan merupakan sesuatu yang benar. Pasti kalau kita mengada-ngada sudah pasti akan diciduk dan dihabisi, makanya yang paling penting adalah keyakinan dalam diri kita bahwa kita melakukan sesuatu yang benar, bahkan menurut islam yang namanya mempertahankan hak adalah jihad. Kita juga harus membangun kesadaran di masyarakat dengan memberikan informasi tentang realitas yang sebenarnya, hal itu diberikan untuk pendidikan dalam konteks membangun kesadaran masyarakat. Lalu kita juga harus melakukan sesuatu yang spektakuler, bahwa kita mampu berbuat dan bertindak; seperti longmarch dari Bandung – Jakarta, mempailitkan PT.DI. Jangan menunggu momentum tapi harus membuat momentum

Bagaimana bapak memandang krisis yang terjadi di Indonesia saat ini.

Krisis ini adalah tidak kesiapan negara menghadapi globalisasi, krisis ini sudah multidimensi, dan ini skenario dari Negara-negara kapitalis dan korporasi asing. Termasuk PT DI, bahwa IMF tidak mau mengucurkan dana untuk PT DI. Bagaimana Texmaco yang ingin membuat mobil sendiri tidak dikucurkan dana, pada akhirnya Texmaco hanya produksi tekstil saja, ini scenario Negara maju dan korporasi asing agar terus membuat Indonesia terus tergantung. Belum lagi mental-mental korupsi dalam pemerintah kita, ini menambah krisis. Dalam hal ini rakyat harus berani berpartisipasi mengawasi negara, membangun kesadaran bersama untuk kedaulatan rakyat. Negara kita ini sebenarnya semua sudah ada, konstitusi bagus; tapi pemimpinnya tidak mau melaksanakan konstitusi. Kita perlu pemimpin kuat,mempunyai visi ke depan; tapi jangan sampai mengorbankan demokrasi lalu menjadi otoriter. Rakyat harus diajak, dicerdaskan dan dilibatkan secara aktif; dengan membangun demokrasi, penegakan hokum, dan pengimplementasian konstitusi yang benar.

Berarti krisis ini juga diakibatkan konstitusi kita tidak dijalankan ?

Karena itulah konstitusi itu tidak pernah dilaksanakan, kalau pun dilaksanakan oleh eksekutif, legistatif, dan yudikatif itu diselingkuhkan dengan kaum pemilik modal. Contohnya kalau tidak diselingkuhkan, tidak akan ada outsourcing. Konstitusi kita kan baik, tapi disamping itu juga harus ada figur pemimpin yang berani untuk menjalankan konstitusi dengan baik.

Inisiatif – inisiatif apa yang harus dilakukan ?

Kesadaran masyarakatnya yang harus dibangun, masyarakat yang cerdas akan melahirkan pemimpin yang cerdas. Kalau masyarakatnya kuat akan ada perubahan yang mendasar, karena Negara ini bukan hanya milik pemodal, politisi, tetapi milik semua rakyat. Makanya kesadaran rakyat harus dibangun, dan kesadaran bahwa berjuang tidak bisa sendiri-sendiri dan parsial. Makanya harus banyak orang-orang yang terpelajar untuk mentransformasikan kesadaran-kesadaran ini ke masyarakat. Lalu harus dibangun kemandirian gerakan, jangan tergantung funding dari asing, harus kreatif membangun usaha ekonomi mandiri. Hal ini juga untuk membangun solidaritas di masyarakat. Kenapa harus ada kemandirian ? karena harus disiapkan logistic untuk jangka panjang, karena perjuangan itu butuh waktu lama. Makanya perlu dibangun komitmen, konsistensi, dan integritas.

Setelah malang melintang dalam aktivitas perjuangan ini, apa yang bapak renungkan di malam hari ?

Saya dalam satu hari bisa 4-5 agenda, karena sudah komitmen tidak akan berhenti berjuang selama hayat saya dikandung badan. Setelah sholat, setiap mau tidur saya melakukan evaluasi-evaluasi. Orang yang bisa dipercaya bukan karena pintar dan cerdas, tetapi bagaimana membangun dan menjaga komitmen, integritas, dan konsistensi. Saya tidak punya apa-apa, saya miskin; buat saya harga diri dan martabat adalah komitmen saya; dan saya pertahankan habis-habisan. Komunikasi harus dibangun dengan baik dan terus menerus, agar kepercayaan terbangun, begitu pula dengan keluarga; harus terus berkomunikasi dengan baik dan menumbuhkan nilai-nilai perjuangan. Menurut pendapat saya, seorang aktivis bila keluarganya tidak beres akan rusak, meskipun dahulunya seorang yang militansinya teruji.

Nama bapak sudah berkibar di catatan – catatan intelejen sebagai salah satu tokok dari gerakan buruh, apakah bapak punya rasa takut ?

Sebagai manusia perasaan takut pasti ada, dan itu dari sananya. Cuma tidak banyak orang yang bisa mengeleminasi rasa takut tersebut, jujur saya punya ada rasa takut. Tapi bagaimana rasa takut itu tidak menghambat kita untuk bersuara tentang kebenaran. Takut mati begitu ? semua orang pasti mati kok, buat apa takut. Saya ini tidak memperjuangkan sesuatu yang salah, saya tidak ingin mengkudeta pemerintah. Saya hanya memperjuangkan hak-hak saya yang diatur oleh undang-undang. Konstitusi menjamin hak – hak kita, masalahnya tidak banyak yang dilaksanakan. Buat apa takut?

Bapak percaya krisis ini akan berakhir?

Dalam realitas, saya tidak percaya bahwa krisis ini akan berakhir. Semuanya tidak akan berakhir, masyarakat, perangkat hukum, pemimpin tidak ada indikator untuk berakhir untuk jangka pendek ini. Dari presiden hingga lurah, Kapolri hingga pangkat terendah, melihat gurunya bagaimana, masyarakatnya bagaimana, tidak indicator untuk berubah. Saya tidak menyalahkan mereka-mereka, tapi anda dapat melihat sendiri kan ? Tapi sebagai manusia bagi saya harus tetap berjuang, walaupun tidak akan memetik hasilnya. Mungkin generasi-generasi selanjutnya yang akan memetik hasilnya.

Apakah proyek bernama Indonesia ini harus tetap dilanjutkan?

Wajib dilanjutkan, nasibnya seperti apa, seberapa jauh usaha komponen bangsa ini mau memperjuangkannya secara kolektif. Indonesia ini ada karena ada kesepakatan nasional,kesepahaman nasional, kalau tidak dilanjutkan itu namanya frustasi. Walaupun realitasnya sulit tapi tetapi tidak boleh berhenti berjuang, mungkin kita tidak akan memetik buahnya, tetapi nilai-nilai itu harus kita perjuangkan terus menerus. Indonesia merdeka itu seperempat masalah yang terselesaikan, tiga perempat lagi yang belum diselesaikan; seperti keadilan social, kesetaraan sosial, dan keadaan yang lebih manusiawi harus tetap diperjuangkan.

Related posts

One Comment;

*

*

Top