Wawancara Dengan Jim Keady: “Saya Akan Tetap Mengajarkan Kebenaran”

Wawancara Dengan Jim Keady: “Saya Akan Tetap Mengajarkan Kebenaran” - MP/Harish Alfarizi Wawancara Dengan Jim Keady: “Saya Akan Tetap Mengajarkan Kebenaran” - MP/Harish Alfarizi

STOPPRESS MP, UNPAR – Jim Keady mencoba mengungkap hal-hal dibalik proses produksi perusahaan Nike. Dia datang ke Indonesia untuk memperjuangkan hak para buruh perusahaan tersebut yang diperlakukan tidak adil dan mengungkap tindak kekerasaan yang dialami oleh para buruh. Sebelumnya, Jim adalah seorang atlet dan sempat menjadi pelatih sepak bola di Universitas St. John. Dia memulai kampanyenya di Indonesia pada tahun 2000 setelah sebelumnya melakukan penelitian tentang Nike untuk program sarjana yang dia tempuh. Berikut petikan wawancara Radhitya Divaputra dari Media Parahyangan dengan Jim Keady beberapa saat setelah kuliah umum “BEHIND THE SWOOSH: “The Truth about Nike in Indonesia” yang dilaksanakan di ruang 2305 gedung Fakultas Hukum pada hari Rabu (11/09).

Apa latar belakang anda dalam melakukan kampanye ini?

Di tahun 1997, saya melatih Universitas St. John. Kami adalah tim sepak bola universitas yang ngetop. Kami memenangi kejuaraan nasional di tahun 1996 dan karena kesuksesan tim serta dukungan dari kampus, seperti basket, hoki, baseball, dsb, Nike ingin mengontrak kami. Dalam kontrak disebutkan bahwa seluruh tim harus memakai dan mempromosikan produk Nike.

Pada saat proses negosiasi kontrak, saya sedang melakukan program sarjana. Lalu saya mulai menulis penelitian tentang Nike;  bagaimana mereka memperlakukan pekerjanya di negara-negara seperti Indonesia, Vietnam dan juga Cina. Dalam penelitian, saya menemukan bahwa Nike melanggar semua hal yang menjadi prinsip universitas Katolik kami, dimana kami seharusnya menolong yang miskin, mempromosikan keadilan dan kedamaian, tapi Nike tidak melakukan hal-hal tersebut. Saya tidak berpikir kami harus beriklan untuk mereka. Akhirnya saya mengambil sikap dan mengatakan bahwa saya tidak akan menjadi bagian dari kontrak ini. Jadi saya adalah atlet pertama di dunia yang mengataan tidak kepada Nike karena perlakukan mereka terhadap pekerjanya. Hal tesebut sempat menjadi berita besar di New York Times, News Day, National Broadcasting Corp, dan American Broadacasting Company.

Saya lalu mulai berpidato di kampus mengenai isu ini. Ada yang mengkritik saya dan berkata, “Anda tidak tahu apa yang anda bicarakan! Di sana gaji mereka besar dan kondisinya pun bagus.” Saya tahu itu salah. Oleh karena itu, saya mengunjungi Indonesia segera setelah mendapatkan gelar sarjana. Saya ingin membuktikan yang mengkritik saya salah. Di akhir Juli 2000, saya pindah ke Tangerang, Indonesia. Di sana saya hidup dalam kondisi pekerja Nike; tinggal dengan pekerja industri dan berusaha untuk bertahan hidup dengan jumlah gaji mereka. Saya tinggal di rumah gubuk dengan tikus-tikus dan kecoa-kecoa.  Kemudian saya bertemu semua pekerja yang membuat produk yang saya pakai sebagai atlet selama bertahun-tahun.

Apa tujuan anda dalam kampanye tersebut?

Saya berjanji kepada para pekerja Nike di sana (Indonesia.red) bahwa saya akan membantu mereka. Saya telah melakukan advokasi ini selama 13 tahun.

Bagaimana anda dapat mengetahui bahwa para pekerja Nike dibayar dengan gaji dibawah standar?

Saya melihat penelitian yang saya lakukan, cerita-cerita yang pernah saya baca, dan hal tersebut menjadi kenyataan. Pekerja Nike bukan lagi hanya obyek penelitian saya, namun wanita yang duduk berseberangan dengan saya yang dapat saya sentuh, dengar, dan rasakan penderitaannya. Hal ini membuatnya semakin nyata dan semakin penting bagi saya untuk membantu kehidupan mereka.

Sejauh ini, apa halangan terbesar anda dalam berperang untuk hak-hak pekerja Nike?

Halangan terbesarnya adalah bahwa Nike merupakan perusahaan dengan pendapatan $22 miliar. Mereka punya lebih banyak sumber daya dari pada saya untuk menginformasikan kepada orang-orang. Namun, saya memiliki kebenaran dan kebenaran selalu menang. Mungkin akan lebih lama dan sulit.

Bagaimana  anda bisa membawa isu ini ke publik, sedangkan lewat kebohongannya (gaji buruh tidak rendah dan tidak ada kekerasan) Nike dapat membuat publik  percaya bahwa itu benar?  

Saya tetap mengajarkan kebenaran, baik di universitas-universitas Indonesia maupun di Amerika Serikat, baik itu pelajar di Indonesia atau pelajar di AS. Bisa juga dari pelajar ke pelajar, universitas ke universitas atau konsumen ke konsumen. 

Jadi itulah mengapa dibutuhkan bertahun-tahun untuk melakukan kampanye ini?

Kampanye ini telah memakan tiga belas tahun dan mungkin akan memakan waktu di sisa hidup saya. Saya tahu, mungkin saya tidak menang, tapi hal tersebut bukan masalah. Kita hanyalah pekerja, jadi saya akan melakukan tugas kecil saya sebagai pekerja untuk menolong mereka. Inilah hal terbaik yang bisa dilakukan dengan sumber daya yang saya punya, dan saya akan tetap melanjutkannya.

Apa ke depannya anda memiliki rencana besar?

Untuk langkah besar, tentu saja saya ingin melakukannya  apabila saya memiliki cukup sumber daya. Saya akan bisa berpidato di lebih banyak universitas, melakukan publikasi yang lebih, menyewa pegawai yang dapat membantu saya. Namun, jika saya tidak memiliki hal tersebut yang berarti hanya saya sendiri, saya akan tetap mengajarkan kebenaran.

Anda memiliki banyak likes di Facebook, jadi sepertinya cukup untuk anda melakukan kampanye dengan orang-orang yang mendukung di Facebook anda. Apa harapan terbesar anda untuk kampanye Team Sweat?

Ada banyak pendukung,  namun, ada perbedaan jika hanya mengklik di Facebook dengan mengambil aksi nyata. Saya pribadi senang dengan ribuan pendukung yang saya punyadi Facebook. Mereka membantu menyebarkan kata-kata dan keuangan saya untuk jalan ke Indonesia, tapi kami membutuhkan lebih. Sekali lagi ini hal yang perlu anda lakukan, aksi sederhana yang dapat anda lakukan. Di situs Media Parahyangan, anda dapat menaruh link ke Facebook kami. Apa cita-cita saya untuk Team Sweat? Untuk dapat menghentikan hal ini (Perlakuan tidak adil oleh Nike terhadap buruhnya.red), karena kami ingin memperbaiki masalah ini.

Pertanyaan terakhir, apakah anda berencana untuk pergi  ke Cina, Vietnam, dan India untuk melakukan kampanye ini?

Saya ingin bisa untuk mengeksplor dan membantu pekerja Nike di Cina, Vietnam, dan India, tapi saya pikir saya masih memiliki cukup banyak pekerjaan di Indonesia.

RADHITYA DIVAPUTRA/ ADYTIO NUGROHO

Related posts

*

*

Top