Wawancara dengan Dhiora Bintang Riezki, Pemenang Kompetisi Esai Mahasiswa: Menjadi Indonesia

Dhiora Bintang Riezki, 21 tahun, merupakan pemenang dari Kompetisi Esai Mahasiswa: Menjadi Indonesia yang diselenggarakan oleh TEMPO Institute untuk ketiga kalinya di Jakarta pada Rabu, 30 November 2011. Dengan esainya ‘Mengeja Indonesia di Sekolah Persatuan’, Dhiora mengangkat tema pluralisme dan fenomena toleransi agama di Indonesia.

Menjadi Indonesia merupakan sebuah kompetisi esai yang diselenggarakan oleh TEMPO Institute untuk seluruh mahasiswa di Indonesia. Kompetisi ini sudah berjalan untuk ketiga kalinya dengan 937 esai masuk dan 20 nominasi terpilih. Tahun ini acara puncak penghargaan diselenggarakan di Hotel J.W Mariott, Jakarta.

Berikut wawancara Media Parahyangan dengan Dhiora Bintang Riezki, selepas acara penghargaan Kompetisi Esai Mahasiswa: Menjadi Indonesia, mengenai pluralisme dan Pemuda Indonesia.

Media Parahyangan (MP): Apa yang menjadi ide dasar dalam proses penulisan esai anda?

Dhiora Bintang (DB): Proses menulis ini merupakan inspirasi dari pengalaman hidup atau pengalaman pribadi, dan bentuk realitas kehidupan yang saya coba tuangkan ke dalam tulisan.

MP: Apa yang anda harapkan dari Pembaca?

DB: Saya ingin pembaca ter-inspired, ter-drive melihat kenyataan bahwa pluralisme saat ini sudah sobek. Saya ingin mencoba untuk menjahit seperti yang Saya terima dulu di SD Persatuan dan juga di SMA Katolik Mardi Yuana. Pluralisme bukan yang kita lihat di Cikesik, kasus-kasus Ahmadiyah maupun seperti yang dilihat di GKI Yasmin. Ada contoh-contoh yang dapat membuat masyarakat Indonesia sejuk dengan mengatakan pluralisme di Indonesia masih bagus.

MP: Melihat fenomena terdekat, misalnya clash antar mahasiswa dari berbagai daerah, bagaimana tanggapan anda?

DB: Dalam esai saya, saya juga tuliskan bahwa Indonesia berasal dari kata ‘kita’ bukan kata ‘kami’. Biasanya orang-orang dari daerah itu selalu menyebut kata ‘kami dari Papua, kami dari Jawa’, mengapa tidak kita coba sebut ‘kita disini dari Indonesia’. Ego daerah, ego angkatan, dan ego organisasi selalu mendominasi, setiap orang ingin tampil dan merasa hebat sendiri namun mereka lupa esensinya bahwa yang terpenting adalah bekerja-bekerja-bekerja dan action-action-action!

MP: Dari realita tersebut, bagaimana anda melihat Pemuda Indonesia saat ini?

DB: Saya ingin jujur saja, untuk calon aktivis, banyak Pemuda Indonesia yang sering tampil panggung, menjadi aktivis selebritis, ingin tampil di media tetapi mereka lupa action. Contohnya banyaknya Pemuda Indonesia yang sering mengikuti acara diskusi, seperti Forum Pemuda Indonesia, kompetisi-kompetisi, dan ramai tampil di forum diskusi. Namun setelah itu, ngapain lagi? Mereka lupa esensinya. Dan yang paling gawat adalah ketika mereka merasa sudah paling jago dan bangga atas prestasi mereka, memang kenapa kalau mereka jago dan jadi juara? Tujuannya apa? Terkadang mereka tergelincir dalam personal achievement ketimbang social achievement. Maka hal yang terpenting saat ini adalah otokritik. Sebelum mengkritik orang lain cobalah untuk mengkritik diri sendiri.

MP: Pesan yang ingin disampaikan kepada Pemuda Indonesia?

DB: Action-action-action! Saya ingin menekankan bahwa saya menulis disini bukan bentuk action, Ini hanya menulis dan saya harus menindak lanjutkan. Kadang orang bangga ketika menang dan keluar negeri, ‘Saya sudah paling hebat’ kata mereka. Tetapi kata orang jalanan, ‘Emang lo pikir apa gunanya buat masyarakat? Apa pentingnya? Apa manfaatnya buat kita?’ Disitulah mahasiswa terjebak dan tergelincir. Lebih baik menekankan dan mengajak Pemuda Indonesia untuk beraksi untuk masyarakat meskipun kecil. Misalnya saja dengan membuat sekolah dan mengajar membaca. Hal inilah yang membawa dampak lebih besar dan berguna bagi masyarakat.

(Banyubening)

Related posts

*

*

Top