Wajah Nusantara: Paduan Seni, Drama, dan Tari ala Listra Unpar  

Suasana Pementasan Wajah Nusantara 2017 Suasana Pementasan Wajah Nusantara 2017

 

Resensi – MP,

“Mereka bukan seniman, tapi mereka hanya mencintai seni.”

Begitu cara Rizal Sayjulfianur merangkum rasa bangganya terhadap Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lingkup seni tradisional (Listra) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Ungkapan penuh haru ini ia sampaikan seusai pagelaran sendratari tahunan Listra, Wajah Nusantara (Wanus) 2017 diselenggarakan. Sebuah kisah klasik bertajuk “Dewi Citraresmi Sekarning Belapati” berhasil dipotret dalam sudut yang pas, meninggalkan penonton terpukau dalam diam.

Teater tertutup Dago Tea House, Sabtu (9/9) lalu dipenuhi penonton yang menantikan pertunjukan Wajah Nusantara (Wanus). Sebelum masuk ke agenda utama, penonton dibuat menunggu dengan menyaksikan rangkaian acara pembuka. Dimulai dari permainan perkusi, penampilan tari leungiteun, hingga sambutan dari berbagai pihak yang banyak ambil andil dalam penyelenggaraan Wanus 2017.

Sendratari (Seni Drama Tari) ini sendiri dibagi menjadi empat babak, di mana tiga babak pertama memiliki tiga adegan dan babak keempat memiliki lima adegan. Babak dan adegan ini terpecah menurut urutan kronologis sehingga apa yang ditampilkan dalam tarian dan juga musik tersalurkan dengan baik. Tak lama kemudian, pemandu acara membacakan sinopsis yang menjelaskan alur cerita sendratari dan mengajak penonton untuk masuk ke dalam pertunjukan.

Kehidupan di Kraton Majapahit dan Kerajaan Sunda Galuh menjadi sorotan utama dalam pagelaran ini. Hayam Wuruk (Bobbyansyah) sebagai raja Majapahit jatuh cinta dan ingin memperistri Dewi Citraresmi (Widya Kurnia) dari Kerajaan Sunda Galuh. Walaupun penolakan sempat datang dari hati Dewi Citraresmi, bujukan dari ayah dan ibunya, Maharaja Linggabuanawisesa (Dirga Febrian) dan Permaisuri Lara Lingsing (Ghautami Rama Putra Udnaka) mampu meluluhkan hatinya. Dewi Citraresmi kemudian pergi mengunjungi Kraton Majapahit untuk menemui Hayam Wuruk.

Tapi sayang, Mahapatih Gajah Mada (M. Irvan Hidayat) beserta pasukannya menemui Maharaja Linggabuanawisesa dan memberikan syarat agar pernikahan antara Hayam Wuruk dan putrinya dapat tetap terjadi. Kerajaan Sunda diminta untuk mengakui kekuasaan Majapahit dan harus bersedia untuk menjadi bawahannya. Syarat ini tentu ditolak mentah-mentah oleh Maharaja Linggabuanawisesa. Akhirnya, perang hebat pun terjadi di antara dua kerajaan ini.

Mahapatih Gajah Mada berhasil melenyapkan Maharaja Linggabuanawisesa, disusul oleh Permaisuri Lara Lingsing yang melakukan bunuh diri. Dewi Citraresmi kemudian menjadi satu-satunya yang tersisa untuk menjaga kehormatan dari Kerajaan Sunda Galuh. Tidak ingin menjatuhkannya ke tangan Majapahit, Dewi Citraresmi pun bunuh diri.

Sendratari berjalan seiring dengan alur yang ditawarkan. Pada awal pagelaran, ditunjukan foto pemeran beserta juga dengan nama tokoh yang diperankan. Sesekali pemeran berbicara dalam bahasa Sunda. Tidak sering, hanya pada bagian-bagian yang dianggap krusial saja. Meski tidak ada dialog yang signifikan selama pertunjukan, cerita yang berusaha disuguhkan dengan mudah dapat dibaca.

Tidak hanya berfokus pada tarian, musik yang dimainkan pun tak kalah menarik. Bahkan, musik yang diaransemen oleh Yosep Nurdjaman ini menjadi faktor yang paling menarik dalam pagelaran ini. Sejak masuknya Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada pada adegan pertama, permainan musik seolah mendinginkan atmosfer di dalam ruangan. Kebesaran Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada yang dihormati para abdi dan rakryannya tercermin karena megahnya alunan musik yang dimainkan.

Konsistensi permainan musik juga bertahan hingga akhir pertunjukan. Hal ini terlihat jelas ketika hanya Maharaja Linggabuanawisesa dan Mahapatih Gajah Mada tersisa dalam pertempuran. Bunyi pedang yang berhantukan terdengar persis dengan yang kelihatan. Itu hampir seperti “dubbing” yang sempurna.

Belum lagi dengan detail-detail lainnya pada pementasan Wanus 2017: lighting yang menghidupkan suasana dramatis pada sendratari, hingga mimik dan gerak tubuh penari yang seolah membawa penonton untuk merasakan emosi pada setiap adegan. Sebut saja cara Maharaja Linggabuanawisesa melihat Permaisuri Lara Lingsing dengan penuh cinta dan ketika Permaisuri Lara Lingsing yang tetap melihat ke belakang kala diajak Maharaja Linggabuanawisesa meninggalkan Dewi Citraresmi yang tengah sedih karena harus menikah dengan Hayam Wuruk, seolah tak kuasa menyaksikan putrinya sendirian dalam penderitaannya.

Teriakan pecah Hayam Wuruk di akhir ketika mendekap Dewi Citraresmi yang telah tiada menjadi momen paling ikonik sepanjang pementasan. “Kegagalan”nya untuk mempertahankan mulus suaranya adalah titik di mana penonton merasakan getir kesedihannya. Pementasan pun ditutup dengan standing applause dari penonton.

ERIANA ERIGE

Related posts

*

*

Top