Untuk Mahasiswa Yang Amnesia

STOPPRESS - Cakahim Hukum Janjikan Maba Tanpa Partai STOPPRESS - Cakahim Hukum Janjikan Maba Tanpa Partai

Oleh: Lalola Easter Kaban (Alumni FH 2008)

Maafkanlah jika saya seolah latah menulis tentang presiden mahasiswa terpilih yang tertangkap menyontek pada masa pencalonannya. Tapi saya harus menulis surat ini agar kita sama-sama tahu bahwa meloloskan calon tunggal yang tertangkap basah menyontek adalah pertaruhan besar terhadap nama baik Unpar sebagai lembaga pendidikan tinggi.

Civitas academica Unpar tentu masih ingat apa yang terjadi dengan Anak Agung Banyu Purwita, mantan dosen Hubungan Internasional Unpar, salah satu profesor muda di bidang yang sama, yang ketahuan melakukan plagiarisme. Sebuah kehinaan besar, hingga akhirnya langkah yang harus diambil oleh Unpar ketika itu adalah mendepaknya keluar dari institusi ini. Sehina itulah tindak plagiarisme dalam dunia pendidikan, apalagi pendidikan tinggi.

Melihat tetap majunya Presiden Mahasiswa Terpilih versi mahasiswa Unpar, membuat kita perlu merenungkan kembali, seamnesia itu kah kita? Kita bisa saja berkoar-koar melawan lupa ketika pembunuh aktivis HAM Munir Sahib, belum juga ditemukan dan diadili, begitu pula dengan rekam jejak salah satu Calon Presiden Republik Indonesia sebagai pelanggar HAM, tapi kita sungguh mudah lupa dengan rekam jejak Presiden Mahasiswa, yang ironisnya dipilih sendiri oleh mahasiswa Unpar, tanpa ada tawaran lain terhadap pencalonan tunggalnya.

Mahasiswa Unpar yang mudah amnesia menjadi gambaran ideal apa yang terjadi pada bangsa ini, ketika pelanggar HAM justru dijadikan calon presiden. Pencalonan tunggal dan tindakan menyontek Presma adalah dua hal yang berbeda, tapi sama merusaknya. Merusak akal sehat dan nilai demokrasi, nilai-nilai yang dibayar mahal oleh para senior di tahun 1998.

Pembelaan yang diberikan oleh Presiden Mahasiswa Terpilih seolah mengingatkan kita kepada pernyataan-pernyataan koruptor yang meminta kesempatan kedua untuk memperbaiki bangsa yang telah lebih dulu dirusaknya melalui tindakan korup, atau pada wajah sumringah Angelina Sondakh sebelum Hakim Artidjo Alkostar mengganjarnya dengan hukuman 12 tahun penjara di tingkat kasasi. Ia tahu tindakannya busuk, tapi tidak merasa bersalah tampil di hadapan publik sebagai mantan wakil rakyat yang melakukan korupsi.

Menyontek adalah bentuk ketidakadilan yang paling nyata, dan menjadi langkah pertama menuju pemberhentian terakhir sebagai koruptor. Jika kita masih permisif pada tindakan menyontek dan berjanji menebusnya dengan tetap menjadi Presiden Mahasiswa yang akan bekerja dengan baik demi menebus kesalahannya menyontek, maka pemberantasan korupsi kembali menjadi wacana, yang kali ini dijual oleh pemimpin mahasiswa. Presma Terpilih akan dimaafkan justru ketika ia mundur sebagai Presiden Mahasiswa, karena memang itulah yang sepatutnya dilakukan oleh orang yang sadar akan kesalahannya dan kualitas dirinya yang belum pantas menyandang jabatan sebagai Presiden Mahasiswa.

Timpangkah penilaian saya? Mungkin ya, mungkin tidak, tapi saya tidak sudi kompromi dengan calon koruptor. Saya bekerja di tengah orang-orang yang mempertaruhkan nyawa dan keselamatan keluarganya dalam memberantas korupsi, orang-orang yang dituduh melakukan pencemaran nama baik oleh pelaku korupsi yang menunggu waktu diungkap sebagai tersangka oleh aparat penegak hukum, dan orang-orang yang melakukan bunuh diri kelas untuk Indonesia yang lebih baik dan bebas korupsi.

Tindakan Presiden Mahasiswa Terpilih Unpar adalah salah satu bentuk mandeknya akal sehat dan besarnya egoisme individu yang bisa mencelakakan lembaga pendidikan tinggi. Jika yang bersangkutan tetap bertahan pada pendiriannya menjadi Presiden Mahasiswa, maka saya justru mempertanyakan kesadarannya untuk memperbaiki Unpar, karena ia telah lebih dahulu merusak kepercayaan dan bertindak tidak adil kepada konstituennya.

Tentang Penulis: Lalola Easter Kaban adalah alumni Fakultas Hukum Unpar angkatan 2008. Ia turut merintis adanya Kelompok Pengkaji Pemikiran Arief Sidharta semasa berkuliah di Fakultas Hukum. Saat ini ia menjadi Peneliti di Indonesia Corruption Watch (ICW).

Related posts

*

*

Top