Universitas Sebagai Praktik Penindasan Lanjutan

Unpar/ dok. MP Unpar/ dok. MP

Oleh: Vincent Fabian*

Sejauh yang diketahui, sorotan kritik pendidikan selalu diarahkan pada sekolah. Pada dasarnya, sekolah dari jenjang SD-SMA memiliki problematika yang kurang lebih sama yaitu pendidikan satu arah. Memang khusus siswa SD hal itu terlihat sepele, tetapi pada jenjang selanjutnya masalah itu mulai serius. Paulo Freire, pakar pendidikan Brazil menyebutnya sebagai pendidikan kaum tertindas.

Penindasan yang dialami bukanlah berbentuk kekerasan fisik, melainkan perendahan siswa hanya sebatas objek. Maksudnya, murid datang ke sekolah dalam keadaan bodoh dan guru adalah sang maha tahu. Sederhananya, selalu dengar dan jangan ragukan guru, ia selalu benar dan murid tidak boleh melawan hanya menerima. Soe Hok Gie pun mengkritik, “Guru bukan dewa dan selalu benar dan murid bukan kerbau.”

Persoalan menjadi semakin pelik saat mengetahui bahwa penindasan ini masih berlanjut pada tingkat universitas. Bukan oleh perpeloncoan senior, melainkan pihak universitas (rektorat dan yayasan). Dari pembelajaran satu arah yang masih belum terselesaikan, masalah merembet pada jati diri mahahasiswa sebagai intelek. Sifat asli intelek itu pun pudar, sikap kritis pun padam, dan pihak universitas leluasa bertingkah. Hal itu terlihat jelas pada hampir tidak adanya keterlibatan mahasiswa dalam pembuatan peraturan, kebijakan, rencana pembangunan, hingga kurikulum.

Sikap universitas itulah yang dikritik Paulo Freire drngan istilah “Gaya Bank”, memposisikan mahasiswa sebagai celengan. Ia memberi contoh, guru(universitas) berpikir, murid (mahasiswa) dipikirkan; guru membuat peraturan, murid diatur; guru memilih dan memaksakan pilihan, murid menyetujui. Hal itu lebih terlihat sebagai sikap pasif yang lebih mirip ketidakberdayaan terhadap situasi. Di sinilah dapat dipahami bahwa pihak universitas seakan tidak mau mahasiswa ikut campur atau menghalangi aksi penindasan mereka. Pelibatan mahasiswa hanya menyulitkan angan-angan golongan tua ini.

Penindasan ini memiliki artian bahwa mahasiswa terus mengalami dehumanisasi. Penindasan seolah telah menjadi hal lumrah dan dimaklumi. Bahkan seolah saat menandatangani surat perjanjian mahasiswa baru, kita seolah  setuju untuk ditindas. Contoh kecilnya, ancaman dan hukuman bagi mahasiswa yang mendemo. Serasa tiba di Orde Baru bukan?

Contoh konkrit permasalahan ini bisa dilihat jelas dari sikap tertutupnya pihak universitas terkait perobohan GSG. Perobohan dilakukan secara mendadak dan tanpa transparansi biaya, tender, detail gedung baru (jumlah kelas, lab, mahasiswa, dsb), hingga DKM (Dana Kegiatan Mahasiswa) yang tidak menentu. Di sini kita seolah harus setuju dengan dalih para birokrat kampus bahwa semua semata-mata untuk kebaikan mahasiswa. Namun, Freire pun mengkritik bahwa mendorong keterlibatan kaum tertindas (mahasiswa) dalam perjuangan revolusioner lebih berharga daripada seribu perbuatan mereka (yayasan) menurut seleranya tanpa kepercayaan untuk melibatkan kaum tertindas di dalamnya.

Hal lain juga terlihat pada sikap yayasan yang serba tertutup soal pemilihan rektor. Mahasiswa dan dosen hanya terlibat sebatas temu wicara dan menyampailan aspirasi, selebihnya yayasan bebas menentukan siapa yang mau dipilihnya sehingga bisa penulis katakan sia-sia. Di samping itu, pemilihan dikabarkan melibatkan konsultan dari luar, bukannya senat universitas apalagi meminta pendapat mahasiswa. Gila! Bukankah dengan demikian yayasan seolah mengabaikan kompetensi kita. Bukankah yang mau dipimpin adalah para mahasiswa, lantas mengapa harus meminta dari luar? Kan kita yang lebih tahu seluk beluknya. Sebutlah penulis terlampau idealis, tetapi setidaknya penulis menolak sikap fatalis dengan membiarkan orang lain menentukan nasib kita.

Selanjutnya, masalah penetapan statuta juga terbilang pelik. Seperti yang disebutkan sebelumnya, mahasiswa tidak masuk hitungan untuk turut merumuskannya. Tanpa keterlibatan mahasiswa, jelas peraturan dengan mudah menjadi otoritarian. Pada statuta saja disebutkan hanya rektor yang berhak memberi usulan. Itupun jika diterima, jika tidak yayasan masih berkuasa mengubah sesuai selera. Makanya tidak heran jika UNPAR bukanlah tujuan ideal untuk studi banding terkait statuta. Jangan bercermin, malu! Dibanding regulasi, peraturan dalam statuta terkesan memberi yayasan kekuasaan mutlak sehingga pembanguan gedung dan pemilihan rektor tidak mungkin diintervensi mahasiswa. Betapa situasi pembungkaman yang sempurna.

Berkaitan dengan hal di atas, penulis menagih tujuan pendidikan yang tidak lain membebaskan mahasiswa dalam bersikap dan berpikir kritis. Mahasiswa dipanggil untuk berbakti pada masyarakat dan menyikapi persoalan sosial, tetapi tidak sekalipun dituntut menyikapi kejanggalan dalam universitas. Masih dalam ranah Freire dengan idenya tentang kaum tertindas, pendidikan di universitas lebih menekankan pada rasa takut pada kebebasan karena harus berhadapan dengan realitas. Realitas itu dipandang kotor, jijik. Padahal guna mencapai citra intelek itulah harus bersedia melalui kubangan lumpur realitas. Penekanan juga dilakukan terutama pada pencapaian prestasi, sertifikat, dan peluang kerja. Namun, meninggalkan sebuah bahaya bahwa pihak universitas sedang mempertahankan kebebasan mereka untuk tetap menindas. Sikap yang serba patuh ini yang malah dianggap benar karena sikap mahasiswa yang menyesuaikan diri dengan penindasan dibanding memperjuangkan keadaan yang ideal.

Sebuah solusi masih tersedia selalu. Olah karena permasalahan yang dihadapi berupa penindasan, maka perlawanan dilakukan untuk mencapai pembebasan. Pembebasan ini tentu merisikokan bangkitnya citra mahasiswa sebagai kaum intelek muda. Kasarnya merekalah generasi belakangan yang harus mengkritik generasi terdahulu. Kursi birokrat kampus tidak lagi boleh diisi para penindas yang umumnya para pelaku bisnis. Sebaliknya, mahasiswa sebagai kaum tertindas hendaknya tidak mengimpikan kesempatan melakukan penindasan yang serupa, sebab perjuangan melawan penindasan bukan untuk menghasilkan penindas baru, melainkan mengubah situasi yang melahirkan penindasan.


* Penulis adalah mahasiswa Teknik Industri Unpar angkatan 2014

Related posts

*

*

Top