Uang Titip Kunci Sempat Digunakan Untuk Tutupi Kekurangan Penghasilan Karyawan

Box parkir secureparking Unpar. Dok/MP Box parkir secureparking Unpar. Dok/MP

STOPPRESS MP, UNPAR –Sebagai efek dari turunnya pendapatan parkir, sejumlah karyawan diliburkan untuk mengurangi biaya operasional. Hal itu pun ternyata berkaitan dengan valet parking (titip kunci) yang sempat dinyatakan illegal. Kaitan itu menunjukkan selama ini, uang titip kunci digunakan untuk menutupi kekurangan penghasilan karyawan yang diliburkan.

“Jadi, uang titip kunci kita kumpulin. Nanti kalau pas blank gak kerja (red. karena karyawan diliburkan), duit penghasilan dari mana? Jadi buat menutupi kekurangan penghasilan gitu,” ucap Rudi Sucipto selaku Cark Park Manager (CPM) saat ditemui di ruangannya pada Kamis (6/10) lalu.

Rudi menjelaskan bahwa uang titip dianggap sebagai upaya “tambal sulam” guna menutupi kekurangan penghasilan karyawan. Tambal sulam itu lantaran diakibatkan terdapat bulan-bulan tertentu ketika kendaraan yang masuk minim.

Bulan-bulan yang tergolong minim itu antara lain, Mei saat Ujian Akhir Semester (UAS), Juni-Juli saat Semester Pendek (SP), Agustus ketika SIAP, Desember hingga Januari ketika libur semester ganjil. Rudi pun mencontohkan pada bulan Agustus, sekitar 36 dari 40 karyawan diliburkan selama dua minggu penuh guna menutupi kekurangan pendapatan parkir pada bulan itu. (Baca juga : Pendapatan Secure Parking Menurun, Sejumlah Karyawan Diliburkan)

Di kesempatan lain, jumlah karyawan yang diliburkan mencapai 20 orang yang merupakan Pekerja Harian Lepas (PKHL) dan mencapai tiga hari kerja (red. Kamis Jumat Sabtu). “Iya, uang titip kunci itu kembali ke mereka (red. karyawan yang diliburkan). Kalau gak gitu siapa mau kasi gaji. Mereka punya anak istri,” ucap Rudi.

Selain minimnya kendaraan pada bulan-bulan tertentu, ketidaknaikan tarif parkir juga menjadi penyebab.  Menurutnya, ketika setiap tahun terjadi kenaikan upah, hal itu tidak diimbangi dengan kenaikan tarif parkir sehingga di saat kekurangan lahan parkir, pendapatan parkir pun turut minim. (Baca juga : Kekurangan Lahan, Pendapatan Bulanan Secure Parking Mulai Alami Penurunan)

Terkait “tabungan” uang titip kunci, Agres selaku Secure Parking mengaku hal itu tidak hanya diketahui pihak secure parking, tetapi juga sejumlah nama mengetahui tabungan itu. Nama-nama itu seperti Bawono (mantan kepala BSP), Wakil Rektor Sumberdaya yang sempat menjabat seperti Tan Lian Soi dan Dharmo Lesmono. “Kalau sekarang Ibu Orpha Jane (red. Wakil Rektor Sumber Daya yang menjabat sekarang), saya tidak berhubungan lagi,” ucapnya. (Baca juga : Simpang Siur Aturan Titip Kunci)

Agres juga menuturkan bila terdapat karyawan yang ingin menggunakan uang tersebut, penggunaan uang itu juga melalui prosedur. “Saya harus prosedural mas. Tidak bisa langsung meminjamkan. Saya minta tanda tangan kepala biro, wakil rektor 2 yang menjabat pada waktu itu. Baru saya kasih ke yang bersangkutan,” jelasnya.

Meskipun demikian, Agres mengaku semenjak sejumlah lahan parkir dikosongkan, ia tidak lagi memungut uang titip kunci di lokasi yang telah dikosongkan. Terkait kabar pelarangan titip kunci, Agres juga mengakui bahwa ia siap menurutinya. ”Pada dasarnya jika Unpar tidak mau titip kunci, saya siap, tapi jangan salahkan kami kalau banyak efek samping,” ucap Agres.

Menanggapi hal itu, Igansius Susanto selaku kepala Kebersihan, Keamanan, dan Ketertiban  (K3), mengatakan bahwa kebijakan yang muncul pada masa Cecillia Lauw menjadi rector itu, awalnya tidak ada. Menurutnya, di tengah jalan terdapat banyak penyimpangan sebab layanan valet memerlukan orang-orang terlatih. Salah satunya, apabila terjadi risiko dengan mobil, perusahaan secure parking tidak mau menanggung. (Baca juga : Sebelum Dikelola Staff Lapangan, Valet Sempat Dikelola Perusahaan Legong)

“Jadi ya itu oknum. Transaksional, ketika mahasiswa juga butuh sehingga dia memilih jalan itu (red. valet) sementara oknum di lapangan diuntungkan,” ucap Santo.

 

VINCENT FABIAN

Related posts

*

*

Top