Tuhan Mau Pulang

Seorang bapak tua berbaju putih, berambut putih dan berjenggot putih duduk sendiri disudut sebuah perempatan jalan. Awan putih dan matahari silau sekali. Seorang anak laki-laki bersepatu putih berlari-lari terengah-engah dan berhenti tepat di hadapan bapak tua itu.

“Hei bapak, aku melihatmu dari tadi dari gedung bertingkat itu, dan aku bingung kepadamu, mengapa kamu diam saja dari tadi, aku merasa terganggu dengan silaumu!” anak laki-laki itu berbicara terburu-buru, nafasnya masih terengah-engah.

Bapak tua itu tersenyum melihat anak itu, “Aku sedang bingung nak. Aku tak tahu harus pulang kemana.”

“Bagaimana kamu tak tahu rumahmu? Setiap orang harusnya memiliki asalnya masing-masing! Ayo sebaiknya kamu lekas pergi, kamu mengganggu dengan silaumu!”

“Memang tiap orang memiliki asal dan tujuannya masing-masing, semuanya sudah tergariskan. Tapi bagaimana jika aku bukan orang?” Bapak tua itu menjawab anak kecil itu

“Memangnya bapak siapa?” tanya anak itu.

“Aku Tuhan” jawab bapak itu perlahan.

“Hah?? Kamu Tuhan? Mengapa kamu tidak tau kamu harus kemana? Kamu kan maha tau!” anak kecil itu tak heran sedikitpun berbicara dengan tuhan.

“Kamu seharusnya bertinggal di hati manusia”

“Tapi orang-orang tidak memberi ruang dalam hatinya lagi”

Anak kecil itu berpikir sejenak, “Aku mau memberi ruang di hatiku”

Tuhan pun tersenyum, “Baiklah aku pulang” Tuhan pun akhirnya berdiri, menyebrang jalan namun ditengah jalan Tuhan ditabrak sebuah mobil putih.

Fransiskus Adi Pramono

Related posts

*

*

Top