TOLERANTIA

Ilusrasi Tolerantia - Kemampuan Menanggung Penderitaan dan Rasa Sakit. Dok/ Keith Negley Ilusrasi Tolerantia - Kemampuan Menanggung Penderitaan dan Rasa Sakit. Dok/ Keith Negley

Hussss!!! Maneh tong ngomong kitu ka si Rico (hus, kamu jangan bicara begitu ke Rico).

Gelak tawa teman-temannya seketika  terhenti  setelah Rahman melerai perbincangan mereka tentang Rico, anak yang pendiam dan merupakan keturunan dari kaum sarane¹. Dia adalah Rico Sapullete anak dari Christian Sapullete yang tinggal di daerah Maluku.

Sapulette adalah nama fam yang turun terumun melekat pada nama setelah nama asli kelahiran anak. Di salah satu kerumunan ada Fatimah, orang terdekat dengan Rico. Fatimah juga orang maluku yang merupakan anak dari Hassan Tuharea. Berbeda dengan Rico, Fatimah adalah keturunan dari kaum Salam².

Di Maluku mereka berada di daerah yang sama, daerah yang kaya akan limpahan mutiara, emas dan cengkeh, juga termasuk ibukota Maluku itu sendiri, Ambon. Mereka sama-sama tinggal di Kota Dobo kepulauan Aru. Dengan berbagai alasan Rico menaruh perasaan pada Fatimah Tuharea.

Kampus terasa panas ditambah kemarau yang berkepanjangan. Pada pukul 11 siang gerombolan mahasiswa mulai menjamah kantin. Berdesakan-lah mahasiswa yang membludak, mulai memesan makanan dan minuman yang disediakan pedagang. Kantin ini begitu sempit hingga bernafas pun kesulitan.

Jarak dari ujung ke ujung kantin sangat minim dengan lebar yang tidak begitu luas, menjadikan suara-suara riuh rendah memasuki gendang telinga, disalip tetes keringat yang mengucur. Gerombolan orang yang tadi tertawa terbahak mulai merasa kegirangan. Rasa haus mengundang mereka bicara seenaknya. Wajar, di Indonesia masalah perut memang paling sensistif, suasana panas membikin orang menjadi-jadi.

Rico berjalan masuk menuju kursi kayu coklat lembab yang memanjang diiringi dengan suara adzan Jumat yang berkumandang. Di negara yang  mayoritas islam khususnya tanah sunda,  beribadah termasuk kewajiban yang diajarkan agama Islam. Kebudayaan yang ikut campur dalam peranannya juga mengambil sisi dari agamis yang dikolaborasi menjadi slogan kebudayaan.

Tak heran pada siang jumat panas ini diyakini sakral. Lambat laun pedagang dan mahasiswa mulai keluar dari sempitnya kantin. Para mahasiswa menuju kearah datangnya suara, masjid.  Rico yang masih terpampang di ujung mulai menghisap tembakaunya yang dikebulkan ke atas sambil bertiup sungut “cepak kecepuhhhhh, hssss hfffffuuuuuuu”. “tugas kelompok ini bikin saya mumet. Mana tugas harus dikumpul jam setengah dua, lagi..” celotehnya.

Celotehannya tak henti- henti sembari  bergumam lantaran tak berani menghardik. Usahanya kacau- balau, matanya masih setia pada layar laptop. Nalurinya habis terbuang kekesalanya. Pikirannya tak karuan lantaran kehabisan inspirasi. Beban muncul dimana-mana tatkala ia harus menelanjangi dirinya demi kepentingan  teman- temannya yang menjadikannya kuda tunggang.

Tembakaunya habis. Ia buang puntungnya bebarengan dengan buangan mukanya saat teman- temannya datang sehabis beres salat Jumat, dari kejauhan. Pikirannya terkoyak- koyak melampiaskan kekesalanya hanya dengan berdiam diri. Teman- temannya malah melanjutkan becandaan di ujung yang berlawanan. Rico menghampiri mereka.

Saat ditengah perjalanan Fatimah datang menyusul dan menyapa, Heh!. Rico sempat tersentak kaget. Tiada angin tiada hujan kagetnya seketika terganti oleh senyuman yang aneh. Ingin menyapa tapi tak lancar hingga muncul bunyi gugup.” Eh Fatimah” sapa Rico Assalamualaikum. “waalaikumslam” Jawab Fatimah. “Mau kemana?”tanya Fatimah.

Rico mencoba menjawab tenang tapi mulutnya menjawab dengan gemetar “eehhmm iii tuu mau ke ehhhh ke anak-anak, tugas mereka udah beres, tapi gaada inisiatif buat nanya dan di prin,” jawab dengan kesalnya. Fatimah canggung. Tapi dilihatnya muka Rico agak sedikit mesem melirik ke arah gerombolan sana. Reflek sebagai manusia mulai terjalankan. Fatimah mencoba melerai dengan bicara “Udah kamu print aja sendiri, nih uangnya aku kasih, jadi kalo misalnya ikhlas dapet pahala juga kan? Ilmunya juga dapet, mereka gak akan dapet keduanya. Tapi aku ikut bayar biar dapet pahalanya juga,” sambat Fatimah sambil sedikit tertawa.

Suasana cair dan mereka saling ketawa dengan omongan Fatimah tadi. Jika orang Ambon saling berinteraksi pasti tak lepas halnya dari candaan. Sifat humoris orang Ambon sangat melekat, ditambah lagi orang Ambon akan mengakui dirinya tidak berprikemanusiaan jika tak menolong orang yang kesusahan.

Waktu untuk masuk kelas tiba. Rahman dan kawan- kawan masuk kelas duluan. Kantin mulai sepi, pengamen juga mulai singgah ketempat lain. Hanya disanalah pengamen dapat masuk ke dalam kampus, tempat lahirmya gagasan- gagasan baru dan sumber ilmu pengetahuan. Selebihnya ada di buku.

Rahman sedikit menoleh kebelakang memperhatikan gerak- gerik Rico dan Fatimah. Nampaknya mereka sedang asik mengobrol tentang pengalaman yang sama saat mereka masih di Ambon.  Perbincangan sangat asik didengar Rahman. Rahman termasuk orang yang berbudaya dan mengerti suatu kebudayaan, hal yang sering jadi bahan tertawaan teman- temannya yaitu gaya bicara yang lantang dan kadang suka terkekeh.

Rahman awalnya risih, tapi setelah ia mendengar pembicaraan mereka tentang kebudayaan yang kuat dan sikap toleransi yang besar mengenai Sasahil dan Nekora³. Rahman begitu tertarik. Sambil tersenyum ia jalan menuju kelas.

Tugas terselesaikan, Rico mengakhiri perbincangan dan mulai berjalan masuk kelas. Dosen datang lebih awal. Pak Zaenal termasuk dosen yang memiliki integritas kuat dalam mengajar. Ia mengajar mata kuliah Komunikasi antar Budaya, tapi dalam bercakap mulutnya bak mulut tikus yang semena- mena dan tidak berbudaya. Semua mahasiswa sudah berkumpul dan Rico masih saja belum ada di kelas. Rahman terduduk resah. Beberapa sudah terpaku tegang karena dosen yang satu ini termasuk dosen yang killer (sebutan mahasiswa kepada Pak Zaenal).

Suara pintu mulai berdenyit. Terlihat dibalik pintu sosok dosen yang dengan muka mesem melirik kea rah Rico. Rico mengucapkan salam. Pak Zaenal hanya teracuh sinis sembari menolehkan kepalanya kea rah yang berlawanan, disitu terdapat jendela kelas yang terpampang silau hingga matanya menyipit. Semua yang berada di kelas ingin ketawa tapi ditahan.

Rico pun duduk di bangku paling depan tepat di depan muka sang dosen. “Presentasi pertama maju!” sentak pak dosen. Rico memberanikan dengan berdiri langsung dan menyolokkan Flashdisc-nya ke lubang laptop jadul milik pak dosen, yang jika dibuka aplikasi Microsoft-nya langsung ngehang. Lama menunggu akhirnya muncul juga teksnya. Teman- teman kelompok Rico hanya mengikuti dan jalan  berbaris kedepan layaknya biri- biri yang ikut kemana saja dan tak tahu arah tujuannya seperti apa.

Mulanya salam diberikan Rico dengan tenang. Ucapan terimakasih kepada pak dosen, dan kepada teman- temannya yang hadir. Saat menuju ke inti presentasi, Rico mulai memanas materinya yang ia kerjakan atas jeri payahnya sendiri ia luapkan lewat presentasi. Nada sentak, geram nan lantang ia gemakan hingga mengundang kaget sesaat.

Tapi teman- temannya yang duduk ada yang tertawa sedikit karena nada bicara Rico yang lucu. Pak dosenpun ikut menahan tawanya yang sedikit demi sedikit keluar juga ketawa sungutnya yang kecil tapi meledek. Rahman yang duduk paling belakang ikut merasakan kesal sama halnya yang dikesalkan Rico.

Rico membentak dan penuh rasa nafsu ia tinju papan tulis lalu keluar dari kelas yang penuh dengan gemuruh gelak tawa tidak mengenakan. Rico banting pintu sampai menghasilkan bunyi kecibak peluru yang ditembakan tentara ke massa demonstrasi. Pak dosen yang sedang terduduk seketika cengkat. Rico yang sudah keluar kelas dengan perasaan yang kesal, dendam dan sedih berjalan dengan cepat hingga ia tersandung dan bangkit lagi, lalu hilang dilihat dari kejauhan.

Suasana kelas mulai panas. Mahasiswa di dalam kelas itu sontak terdiam semua. Rahman angkat bicara, sembari berjalan perlahan ke depan kelas dan berteriak

“BHINEKA TUNGGAL IKA!!!”

“TOLERANSI YANG PALING UTAMA, KALIAN ORANG BODOH YANG HANYA BISA MENERTAWAKAN KEPRIBADIAN ORANG LAIN LEWAT PERBEDAAN BUDAYA DAN SUKU DI INDONESIA!!!” sentak Rahman sambil dia pergi meninggalkan kelas juga.

RAMPUNG

 

Tentang penulis :

Rizky Merdeka

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Konsentrasi Jurnalistik 2013

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Universitas Pasundan

Related posts

*

*

Top