Tim Pembangunan PPAG Tidak Penuhi Janji dengan PM Unpar

Suasana Sore Bersama (SOBERS) diskusi mengenai pembangunan PPAG antara Rektorat, Tim Pembangunan dan Mahasiswa. MP/ Gilang Ramadan Suasana Sore Bersama (SOBERS) diskusi mengenai pembangunan PPAG antara Rektorat, Tim Pembangunan dan Mahasiswa. MP/ Gilang Ramadan

STOPPRESS MP, UNPAR – Tim Pembangunan Pusat Pembelajaran Arntz-Geise (PPAG) tidak dapat memenuhi janji yang sebelumnya disepakati dengan PM Unpar. Salah satu janji yang tidak bisa dipenuhi ialah mengenai usaha meminimalisir debu melalui pemasangan jaring plastik.

“Kalau memang tidak mungkin, untuk apa dijanjikan?” kata Wendy Rasnoco (Ilmu Hukum 2012) selaku mahasiswa yang hadir dalam diskusi Sore Bersama (SOBERS) pada Kamis (1/10) di  student center (SC) Teknik. Selain mempertanyakan, ia pun juga mengingatkan kesepakatan yang tercipta antara Tim Pembangunan dan PM Unpar pada 28 April 2015 lalu. Salah satu poin kesepakatan tersebut membahas mengenai usaha meminimalisir debu, yaitu melalui pemasangan kelambu di beberapa titik dan pembagian masker.

Menurut Alex Hasan selaku wakil ketua Tim Pembangunan PPAG, pemasangan jaring tersebut tidak efektif karena tahap 1 ialah membuat basement dan 2 lantai ke atas saja. Ia menambahkan bahwa baru pada pembangunan tahap 2, jaring akan dipasang ketika akan membangun gedung belasan lantai. Jaring tersebut juga dianggap tidak bisa menyaring debu. “Jaring plastik ini untuk menghindari benda-benda jatuh dari atas, terlempar ke luar. Jadi, lebih ke masalah keamanan,” ujarnya.

Sedangkan untuk beberapa poin lain seperti pembagian masker, Robertus Wahyudi Triweko selaku ketua Tim Pembangunan PPAG mengatakan bahwa masker sudah dibagikan ketika ia masih menjadi rektor. “Waktu itu sudah, tetapi kalau sekarang diperlukan, saya kira rektor (red. Mangadar) pasti akan mendukungnya, jadi seharusnya tidak ada masalah,” ucapnya.

Terkait proyek pembangunan yang mengganggu jalannya kegiatan belajar mengajar, Alex kembali menjelaskan bahwa hal tersebut terpaksa dilakukan. Proses pembangunan pun berlangsung dari pagi hingga pukul 10 malam. Menurutnya, pengerjaan bisa saja dilakukan pada malam hari saja, tetapi akan sangat berat bila dilakukan. “Hal itu bisa memakan waktu yang lebih lama lagi dan biayanya juga bertambah banyak,” katanya.

Adapun isi kesepakatan yang telah tercipta yaitu penggunaan alat berat di siang hari akan diupayakan untuk diberhentikan mulai Rabu (29/4), pemasangan kelambu di titik-titik tertentu, dan penyediaan masker gratis agar meminimalisir debu. Disamping itu,  perkembangan informasi pembongkaran GSG dan pembangunan baru akan dipublikasikan melalui temu mingguan dan perwakilan PM Unpar.

ZICO SITORUS

Related posts

*

*

Top