Tidak Hadir Di SOBERS, Pihak Yayasan Beri Klarifikasi

Diskusi Sore Bersama (SOBERS) yang dilaksanakan di Student Center Unpar. Dok/MP. Diskusi Sore Bersama (SOBERS) yang dilaksanakan di Student Center Unpar. Dok/MP.

STOPPRESS MP, UNPAR –Menanggapi ketidakhadiran perwakilan Yayasan pada acara SOBERS yang diadakan Selasa (07/02) lalu, Ketua Komisi 3 (pembangunan) yayasan menyatakan bahwa ia tidak dapat hadir lantaran sedang keluar kota. Terkait ketidakhadiran anggota komisi 3 lainnya, ia mengaku sudah menyampaikan undangan ini, tetapi tidak ada yang sempat untuk hadir.

“Saya diajak untuk hadir. Dapat pesan Whatsapp (WA) langsung dari Presiden Mahasiswa, tapi saya kebetulan berhalangan hadir karena keluar kota. Kebetulan saat diajak waktunya sedang tidak tepat,” ucap Iwan saat ditemui di ruangannya pada Kamis  (23/02) lalu saat mengklarifikasi ketidakhadirannya pada acara Sore Bersama (SOBERS) yang diadakan pada Selasa (7/2) lalu.

Karena ketidakhadiran pihak yayasan dan rektorat, SOBERS hanya dihadiri oleh supervisor EZ Parking, Ketua Biro Umum dan Teknik (BUT), kepala Kebersihan, Keamanan, dan Ketertiban (K3), dan supervisor satuan pengaman PT Garda Utama Arthadarma (GUA).

Selain itu, ketika ditanya mengenai ketidakhadiran perwakilan anggota komisi 3 lainnya, Iwan mengaku bahwa ia telah berusaha menyampaikan undangan SOBERS. Namun, sekitar tujuh anggota lainnya mengaku tidak dapat hadir pada acara diskusi itu. Meskipun demikian, ia juga mengaku jika SOBERS diadakan di kesempatan lain, ia akan mengusahakan untuk datang.

Iwan juga mengatakan bahwa dirinya memang ingin mengikuti rangkaian acara diskusi yang diadakan oleh Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) dengan alasan penasaran akan suasana diskusi dengan mahasiswa. Ketika ditanya mengenai ketidakhadiran pihak rektorat Iwan sendiri mengaku tidak tau. “Nanti  di lain waktu saya akan ajak mereka untuk hadir,” ucapnya.

(Baca juga : Sistem Parkir Diganti, LKM Adakan Diskusi SOBERS)

Adapun beberapa keinginan terkait hasil SOBERS tercantum pada poin-poin penting yaitu keinginan mahasiswa terkait kembali hadirnya fasilitas valet parking yang saat ini ditadakan, kejelasan mengenai pergantian vendor, dan keringanan tarif parkir.

Terkait pertanyaan mengenai tarif parkir, Iwan berpendapat bahwa dengan peningkatan tarif tentu akan memberi keuntungan tambahan bagi pihak Yayasan selaku pemilik lahan parkir. Namun, dengan adanya pembangunan tahap kedua PPAG, Iwan mengaku bahwa pemasukan parkir memang tidak sebanyak sebelumnya karena lahan parkir banyak yang ditutup untuk jalur keluar masuk kendaraan proyek.

Terkait pemasukan itu juga, Iwan menjelaskan bahwa pihaknya telah menetapkan target pendapatan bagi vendor parkir yang tengah beroperasi. “Nantinya Biro Keuangan akan mengevaluasi hasil dari pemasukan parkiran,” kata Iwan.

Terkait peniadaan valet parking, menurut Iwan pengelolaan fasilitas itu selama ini berada di luar tanggung jawab Unpar sehingga faktor keamanan menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Menurutnya, adanya jarak antara mahasiswa yang mampu secara finansial dan yang tidak mampu menjadi menjadi fenomena yang terjadi saat ini mejadi salah satu faktor mengapa valet parking diinginkan kembali.

“Kalau anaknya orang kaya mereka cenderung menggunakan mobil ke kampus lalu karena secara ekonomi mereka cukup jadi banyak yang main lempar kunci aja. Berbeda dengan yang kurang mereka sehari-hari saja sudah susah, ini yang disayangkan terjadi,” Tuturnya.

Sulitnya untuk menertibkan aturan seperti valet dan perekrutan sejumlah karyawan seperti petugas lapangan yang kini masih diperkerjakan oleh vendor parkir baru. Hal ini dibenarkan Iwan lantaran kebiasaan yang timbul selama ini menjadi menyulitkan untuk memelihara instansi agar tetap bersih dari kegiatan-kegiatan di luar kewenangan seseorang. “Saya sebenarnya juga mau memangkas perilaku-perilaku seperti ini. Saya ingin universitas kita itu clean dari hal-hal seperti ini,” katanya.

GALING GANESWORO | VINCENT FABIAN

 

Related posts

*

*

Top