Teori Saja Tidak Cukup

"teori saja tidak cukup"

Kampus itu lingkungan teoritis. Menjadi nyata sejauh masuk dalam lingkungan praktik. Pada titik inilah ada keseimbangan antara aspek teoritis di ruang kelas dan aspek praksis di ruang nyata bermasyarakat.

Berpaling ke Marz Wera, ‘’Dunia intelektual adalah dunia yang dinamis. Ia tidak statis. Dunia intelektual tidak hanya bergerak dalam konsep belajar di ruang kelas, tetapi terus berubah mengikuti jejak-jejak peradaban yang terus tumbuh dan berubah.’’

Itulah refleksi pengalaman belajar secara langsung ke dalam realitas hidup bersama masyarakat yang dikenal dengan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) berlangsung di desa Dawungsari, kecamatan Cilawu, kabupaten Garut, Jawa Barat selama sebulan penuh, dari tanggal 4 Juli sampai 11 Agustus 2017.

Di UNPAR Bandung, khususnya jurusan Ilmu Administasi Publik ada program KKL yang diadakan setiap tahun. Kegiatan ini sebagai salah satu persyaratan mata kuliah yang harus ditempuh oleh mahasiswa semester enam.

UNPAR memahami dan sadar betul bahwa, mendidik kaum intelektual tidak berhenti di sekitar ruang kelas, atau lingkungan kampus karena akan terjebak pada retorika semata. Bila itu tujuannya maka semua orang bisa. Namun intelektual yang diperoleh dari ruang kelas, perlu mengarah pada keterlibatan hidup bermasyarakat. Dengan terlibat, anak didik akan menumbuhkan naluri intelektualnya secara konsisten dan bermutu.

Kampus itu pijakan awal yang memberi gambaran, memetakan persoalan tentang realitas hidup kepada mahasiswa untuk menentukan dan menemukan jati dirinya, dan mencari sebuah pengakuan akan segala hal yang berhubungan dengan hakekat kodrati. Bukan hanya manusia yang bergelar. Bukan juga sekedar pribadi yang kita banggakan dan dapat membusungkan dada, melainkan pribadi yang menentukan dan menjalankan prioritas hidup baik secara pribadi maupun sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Di sinilah kampus menyediakan ruang bagi mahasiwa untuk berpikir, ajakan untuk berpartisipasi bersama masyarakat, memupuk semangat keterlibatan serta kepekaan menjawab setiap peristiwa hidup bermasyarakat di tanah Sunda dan Indonesia umumnya. Dengan program seperti ini, mahasiswa belajar menanamkan sikap kekeluargaan dan persaudaraan sebagai dasar ikatan untuk saling menyatukan ide dan gagasan antara kampus (sebagai komunitas akademik) dan lingkungan praktek (sebagai komunitas berinteraksi secara nyata).

Hal ini menjadi inspirasi bagi penulis secara pribadi terutama untuk membangun manusia yang berkarakter. Banyak hal yang di pelajari melalui KKL. Tidak semua teori yang diperoleh di ruang kelas bisa diterapkan di lapangan. Begitupun sebaliknya, dari interaksi dengan masyarakat, banyak hal dalam hidup menyangkut humanitas justru dipelajari mahasiswa dari sana. Ini menandai bahwa adanya pengalaman yang bisa membedakan mana tataran teoritis dan praktek serta mana ‘’pengajaran’’ dan mana ‘’pengalaman’’ sekaligus menempatkan mahasiswa pada pembedaan wilayah antara dunia ‘’abstraksi’’ dan dunia ‘’nyata’’.

Bisa belajar soal kearifan lokal, menimba teladan hidup harmonis dari masyarakat pedesaan, bisa mempraktikkan sopan santun, ikut bertani bersama warga, silahturahim dengan kultur religius yang berbeda, dan yang paling berkesan bagi saya adalah senyum-sapa yang tulus orang-orang desa, serta pengalaman kerjasama merenovasi Masjid.

Universitas sebagai lembaga utama yang menaungi tempat belajarnya kaum intelektual harus di tempatkan sebagai “jantung masyarakat”. Artinya terwujudnya nilai melalui karya nyata para dosen dan mahasiswa dari apa yang telah dipelajari di ruang kelas.  Terciptanya keseimbangan antara dimensi akademik dan dimensi nilai. Terus menggali dan menformulasikan semangat dasar pendidikan. Melalui KKL tersebut, secara tidak langsung menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk mengekspresikan pemikiran-pemikiran alternatif dan inovatif.

Apalagi, kini kita memasuki dunia yang terbuka dan kompetitif. Mahasiswa pun harus diarahkan pada kesiapan diri dengan keunggulan dan kecermerlangan sebagai penemuan jati diri untuk bergerak ke dunia yang lebih luas.

Intelektualitas akan bernilai bila dihadapkan pada realitas pengalaman. Menjelma sekaligus merangsang pemikiran-pemikiran baru. Hal ini diwujudkan hanya dengan keterlibatan proses belajar mahasiwa dalam masyarakat. Dengan terlibat, mahasiswa membiasakan diri untuk menghadapi persoalan hidup dari seluk beluk pranata sosial yang terjadi.

Hidup itu sebuah proses untuk terus bertumbuh. Tidak ada jalan pintas menuju jejak bertumbuhnya manusia beranjak dewasa dan matang dalam pranata sosialnya. Semua harus melewati proses demi proses pengalaman belajar. Dengan terlibat, kultur diskursif mahasiswa dibangun, mahasiswa juga memupuk semangat filosofis untuk berpikir secara mendasar mengenai pentingnya kematangan identitas lewat ruang dan waktu, berimajinasi dalam membangun tatanan nilai dan pranata sosial.

Dengan itu, kampus menjadi inspirasi untuk membangun manusia yang berkarakter dan berwatak dalam membangun masyarakat melalui semangat keterlibatan. Kecerdasan teori harus diimbangi dengan kecerdasan nurani. Kecerdasan nurani didapatkan hanya ketika mahasiwa berada bersama masyarakat dalam kenyataan hidup sehari-hari.  Nurani mahasiswa dirangsang untuk peduli dan bersolidaritas.

Karena pada dasarnya pendidikan itu keutamaan bagi kepentingan publik, dan kepentingan publik menjadi keutamaan dalam pendidikan, maka teori saja tidak cukup!

 

Tentang Penulis:

Gorgorius Sanpai

Mahasiswa Ilmu Administrasi Publik angkatan 2013