Tanggapi Gugatan Danger dan Bioree, KPU-PM Adakan Forum komunikasi

STOPPRESS MP, UNPAR – Menanggapi gugatan yang dilayangkan tim sukses pasangan Danger dan Bioree pada jumat (26/4), Komisi Pemilihan Umum Persatuan Mahasiswa (KPU-PM) Unpar adakan forum komunikasi. Forum ini dilaksanakan pada hari rabu (1/5) bertempat di depan sekretariat Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM).

“Di dalam surat gugatan kami menuntut diadakannya forum yang terbuka bagi seluruh mahasiswa karena memang teman-teman (mahasiswa-red) yang menanyakan perihal inkonsistensi KPU itu”, ujar David Christian saat ditemui MP sebelum forum dimulai. Forum yang dimulai pukul tujuh malam tersebut dihadiri oleh anggota KPU , tim sukses Danger dan Bioree serta mahasiswa. Sempat terjadi debat mengenai status pertemuan yang terbuka atau tertutup, pertemuan akhirnya dilanjutkan menjadi forum diskusi terbuka dengan penunjukan juru bicara dari masing-masing pihak.

Pihak KPU diwakili ketua KPU Chandra Sudiro dan Ketua Bawaslu Anggi Andrianisari. Pihak penggugat diwakili oleh dua calon kandidat yang hadir  yaitu David Christian dan Igantius Andree serta kedua tim suksesnya diwakili oleh Adhiguna Ilyasa dan Paulus Siregar. Forum ini juga menunjuk Presiden Mahasiswa periode 2012-2013,  Andrew Ryan Sinaga yang turut hadir sebagai mediator. Agenda forum membahas tentang isi surat gugatan yang berjumlah 21 poin dan pertanggung jawaban KPU terkait masing-masing poin dalam gugatan.

Poin pertama posita mempertanyakan tentang ketiadaan dialog terkait pembahasan rencana penggunaan sistem pemilihan baru. “Kenapa dari awal ga ada sosialisasi atau dialog bersama? Karena setau gua waktu forum komunikasi di Siete itu semua (penggunaan sistem baru-red) udah fix dan ga bisa diganti”, ujar Said, panggilan akrab dari Andrew Ryan.

Menanggapi pernyataan tersebut, Anggi mengatakan, ”Kami dari KPU sudah mengadakan forum sosialisasi pada 1 maret 2013, yang juga diadakan sesi tanya jawab yang dihadiri MPM, LKM, HMPS, dan UKM”. Anggi juga mengatakan bahwa untuk masyarakat Unpar yang lain juga sudah diadakan sosialisasi pada 20- 22 maret.

David kemudian turut menambahkan, “Saya terus terang kecewa, pada forum itu saya hadir dan saya ingin menanyakan bagaimana caranya, prosedurnya, tapi jawabannya hanya ‘maaf nanti aja ditanyakan langsung ke mpm’, dan di sana dijawab bahwa nanti juga bakal ada forum sosialisasi lagi setelah hasil fit and proper test diumumkan , namun tidak pernah ada. Inimiskomunikasi atau inkonsistensi?”.

Selain itu, isi gugatan tersebut juga membahas ketidakjelasan alasan penggantian sistem pemilihan secara manual menjadi E-Vote. “Satu hal yang paling menggelitik disini adalah, seberapa urgent nya sih ada perubahan ke e-vote untuk menggantikan esensi demokrasi?”.

Chandra mengatakan bahwa alasan diubahnya sistem Pemilu menjadi e-vote adalah untuk efisiensi waktu, inovasi dan sistem e-vote dianggap ramah lingkungan (go green). “Kalau kita mau ubah sesuatu kenapa harus nunggu urgent?”, ujar Chandra menguatkan pernyataanya.

Menanggapi pernyataan Chandra tersebut, mahasiswa yang hadir mulai terpancing untuk memberikan argumen argumen mereka, namun pihak KPU tetap bersikukuh bahwa pendapat hanya boleh dikemukakan melalui juru bicara yang telah ditunjuk.

Di tengah forum yang berlangsung ‘panas’ dengan saling adu argumen antara pihak KPU dan penggugat,  Andrew Renaldy selaku Presma terpilih Pemilu 2013 datang ke dalam forum. Andrew terlihat hanya hadir mengawasi jalannya forum dan tidak ikut  menanggapi isi surat gugatan.

Lebih jauh lagi, kedua pihak juga mempermasalahkan buruknya pelaksanaan pengawasan saat pemungutan suara serta diragukannya validitas rekapitulasi suara yang beredar. “Gue  ngerasain ada pihak BTI selaku pembuat sistem ikut ngawasin pemilihan di FE, tapi gue ga ngerasain ada BTI di FISIP”, terang David menjelaskan kepada Chandra perihal lemahnya pengawasan.

Paulus Siregar sebagai juru bicara tim sukses Danger juga menemukan ketidaksamaan hasil rekapitulasi suara yang dikeluarkan KPU. “ gue ngumpulin data dari 4 sumber,  pertama dari website PUPM, PJPF (Penanggung  Jawab Pemilu fakultas – red) , MP dan kertas yang ditempel di papan pengumuman KPU,  Gue melihat ada beberapa perbedaan disini, dan yang paling esensial adalah dari yang ditempel di papan dan yang dipost di PUPM, padahal itu kan sama sama KPU kan”, ujar Paulus.

Paulus mengemukakan perbedaan data yang dimaksud meliputi perolehan suara abstain Cakahim IT di hari pertama dan perolehan suara Cakahim akuntansi di hari pertama. Menanggapi temuan yang disampaikan Paulus tersebut, Chandra mengatakan,” masalah abstain itu murni kesalahan dari KPU.”

Forum diskusi yang berlangsung selama empat jam lebih itu tidak membahas semua gugatan yang ada. Mahasiswa yang hadir tidak puas dengan sikap KPU yang terkesan ‘mendebat’ mereka. “Kalau kualitas forumnya seperti ini sih mending dihentikanaja forumnya, ga akan ada ujungnya”, ujar Said.

Masing-masing tim sukses memilih untuk menghentikan forum karena kecewa dengan sikap KPU. Forum pun terhenti saat pembahasan poin posita yang ke-11. “Kita ke sini untuk ngebicarain bareng-bareng tentang sistem kemarin. Ketika ada kesalahan yang terbukti jangan didebat. Apa susah nya minta maaf. Kan kita udah sepakat forum ini untuk memperbaiki ke depannya, biar kita ga jadi preseden yang buruk”, ujar Said menambahkan.

(Bajik Assora/ Charlie)

 

 

Related posts

*

*

Top