Tak Sempat Menjadi Kandidat Karena Tak Lolos Screening MPM

Stoppress (21 April 2010)Bandung – Delapan orang yang mencalonkan diri dalam Pemilihan Umum Persatuan Mahasiswa (PUPM) Unpar 2010 gugur di tahap screening. Apa mereka dinilai tidak layak untuk menjadi pengurus Persatuan Mahasiswa Unpar? Bagaimanakah sebenarnya mekanisme seleksi kandidat dalam PUPM Unpar?

Lima dari 21 orang pendaftar yang mencalonkan diri menjadi anggota Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM) tidak lolos tahap screening. Dua dari 40 pendaftar Calon Ketua Himpunan (Cakahim) tidak lolos. Dan dari tiga pasangan pendaftar Calon Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa (Capresma), satu diantaranya tidak lolos.

Pengumuman tidak lolosnya mereka tertulis pada sebuah kertas yang masih tertempel di depan ruangan MPM sejak 29 Maret lalu hingga saat ini (21 Apr).

Proses Screening menurut Abraham (Hukum), Koordinator Bidang Kemahasiswaan PUPM, bertujuan untuk menyaring kandidat yang lebih baik, dan lebih mengenal Persatuan Mahasiswa UNPAR.

Tim Screening terdiri dari tujuh orang. Lima dari mereka adalah orang yang memegang jabatan pucuk di MPM, dua sisanya adalah Presma Boy Firmanto (Hukum 06) dan Wapresma Annisa Pagih (HI 06)

“Hasil screening ini memang tidak secara langsung menentukan siapa yang menjadi ketua himpunan, anggota MPM ataupun presiden, namun signifikansi dari hasil akhir screening ini dapat digunakan ketika jumlah suara beberapa calon seimbang” Fani sebagai koordinator bidang kesekretariatan PUPM menjelaskan.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan juga adalah pertanyaan seputar Persatuan Mahasiswa UNPAR, beberapa pertanyaan mengenai kepribadian, teknik menyelesaikan masalah, dan berbagai macam pertanyaan yang berhubungan kemahasiswaan.

Menanggapi pertanyaan tentang penilaian yang cenderung subjektif dalam proses screening, Adhi Priamarizky (HI 06) , Koordinator PUPM Bidang Logistik, mengatakan screening ini tidak dapat dikatakan sebagai subjektif, karena unsur objektif di dalam proses penilaian lebih mayoritas, terutama dengan adanya parameter-parameter tertentu yang digunakan untuk penilaian.

Hasil penilaian yang telah dibuktikan oleh MPM sebagai hasil yang objektif ini membuat banyak hati kecewa. Salah satu kandidat calon Presiden Mahasiswa, Lintang (Hukum 07), terpaksa harus berhenti mengejar visinya untuk membuat suara UNPAR didengar di luar, setelah melihat kertas yang terpampang di depan ruangan MPM di hari Senin itu.

Setelah melihat hasil screening, Lintang segera mendatangi MPM untuk meminta evaluasi hasil screening dirinya.

Lintang, beserta calon-calon lainnya gagal dalam tahap screening ini dikarenakan jumlah nilai yang tidak mencukupi. Karena menurut keterangan MPM, standardisasi penilaian untuk Presiden Mahasiwa dan MPM, batas nilai kelulusan adalah 70, sedangkan Ketua Himpunan adalah 60. Tidak puas dengan hanya melihat skor akhir, Lintang segera meminta MPM untuk menunjukkan rekapitulasi penilaian, alasan ketidaklolosan, dan juga sedikit tanggapan untuk kedepannya.

Lintang memang mengakui bahwa ketika screening ia tak luput dari kekurangan. Ia mengaku kecewa atas hasil akhir screening. Terlebih, ketika hasil itu menjadi prasyarat pencalonan diri.

Menurut Lintang, seharusnya Curriculum Vitae dan Motivational Letter menjadi faktor penentu juga. namun MPM menjawab bahwa hasil screening-lah yang menjadi acuan utama proses seleksi tahap ini, jelas Lintang.

Dibalik kekecewaan Lintang, ia mengaku puas dengan keterbukaan MPM mengenai hasil screening. MPM memberikan rekapitulasi penilaian dan video screening. Kerahasiaan penilaian dan rekaman video pun tetap dijaga oleh MPM dari kandidat lainnya.

Meski begitu, sebagai ‘mantan’ Capresma, Lintang tetap kritis, “Keberadaan mahasiswa-mahasiswa yang menjabat dan bertanggung jawab sebagai screener memang sangat penting, namun seharusnya ada perwakilan dari pihak-pihak lain yang bersangkutan seperti Rektorat, Staf pengajar, Yayasan ataupun yang memiliki kapabilitas dan wewenang untuk menjadi salah satu dari tim screener PUPM”. Begitu ungkap Lintang sambil tersenyum, menerima kegagalannya dengan besar hati.” (Rara Sekar Larasati)

Related posts

*

*

Top