Tag Archives: desember 2008

Detik-Detik yang Tersisa

Aku pikir ini sudah terlambat! Sergahku pada diri sendiri. Dia, seorang yang sangat kucintai akan pergi untuk selama-lamanya. Bukan karena menghadap sang Pencipta, bukan pula karena meninggalkanku tanpa kata. Yang kutahu, dia akan pergi, bukan untukku, bukan pula untuk perempuan-perempuan lain. Ada satu hal yang ingin aku katakan secara khusus, kenapa aku menjadi sangat jemu

Resensi Buku: Urban Sensation

Urban Sensation Penulis: Bre Redana ISBN: 9-78792-690149 Ukuran & Hlm: 12,5 x 18,5 cm, x + 167 hlm Harga: Rp 35.000 “Tapi menghapus kenangan yang pernah kami lalui ternyata tidak segampang seperti mencoret memori dalam komputer, pencet tanda delete dan semua lenyap belaka”. Kalimat itu akan anda temukan pada halaman 29 pada cerita “Bulan Di

Semacem Catetan tentang Krisis

Tak ada yang lebih intim dalam kehidupan manusia modern ketimbang krisis. Hari-hari ini kita terbiasa mendengar segala bentuk wacana tentang krisis, mulai dari krisis ekonomi, politik, moral hingga krisis total. Modernitas barangkali memang tak dapat dilepaskan dari kesadaran akan krisis. Dalam arti tertentu, yang terakhir itu tak lain dari intuisi dasar modernitas itu sendiri. Seiring

Wawancara dengan Muhammad Sidharta (Serikat Pekerja Forum Komunikasi Karyawan PT DI): Proyek Indonesia Harus Dilanjutkan

“kami akan berdiri di sini, tak sendiri, hingga nafas penghabisan. Kebebasan yang datang saat kau tak lagi memiliki harapan. Saat tak ada opsi yang tersisa selain berdiri menantang para tiran, saat momen terhidupmu adalah memasang badan di tengah medan kawan, mana kepalan kalian !” – [Homicide–tantang tirani] Ini adalah sebuah cerita tentang satu manusia dari

Konsep Kedaulatan Pangan Menjawab Tantangan Krisis Pangan : sebuah wawancara dengan Dwi Andreas Santosa

Di tengah gemparnya kehancuran pasar-pasar finansial internasional, wacana akan krisis pangan yang mencuat di pertengahan tahun 2008 seakan dilupakan. Namun, persoalan pangan adalah sebuah persoalan yang tak kan pernah lekang waktu. Selain pangan merupakan hal fundamental dalam kehidupan, kekacauan sistem keuangan dunia sekarang ini dikhawatirkan merambat ke melambungnya hargapangan Dunia. Berangkat dari pemahaman ini, Media

"Untuk Apa Pemerintah Ada Kalau Bukan Untuk Peran Regulasi"

Sore hari itu cerah, dan pengapnya udara Jakarta ternyata tak menghalangi burung-burung untuk bergurau di pelataran belakang STF (Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat) Driyakarya. Mungkin seperti itulah suasana saat kami menunggu untuk mewawancarai Romo Herry B. Priyono, SJ di tempat kerjanya. Dosen Pasca Sarjana STF Driyakarya yang telah menyelesaikan studi S3 nya di LSE (London School

Saatnya Kembali Konfrontasi

Maraknya diskusi mengenai mulikulturalisme terutama di berbagai kota besar membangkitkan rasa kegelisahan akan kehidupan kebersamaan kita dalam berbangsa dan bernegara. Bukan apa makna dan guna dari multikulturalisme itu yang menarik minat, namun kegelisahan dari setiap hadirin yang terasa disetiap diskusi yang diselenggarakan. Kegelisahan yang rasanya tak pernah bisa hilang semenjak proyek Indonesia dipancangkan dalam bentuk

KRISIS MAHASISWA INDONESIA

“Pak, kenapa sih kita masih harus pusing-pusing mikirin Indonesia mau jadi apa? Toh kalau misalnya Indonesia bubar kan kita tinggal pindah ke negara lain?”– seorang mahasiswa Indonesia di sebuah kelas mata kuliah Kewarganegaraan, Juni 2008 Peran Mahasiswa Indonesia sekarang ini sedang dalam taraf yang bisa dibilang cukup membingungkan, penuh dengan pertanyaan serta keragu-raguan. Setelah arus

Pengantar Redaksi

Sungguh, tidak ada edisi yang lebih tepat menerangkan tentang krisis daripada edisi ini. Dengan keterlambatan penerbitan sampai 5 bulan akibat “peng-nol-an” anggaran, akhirnya kita dapat menerbitkan satu lagi edisi baru yang diharapkan dapat memotret kondisi yang ada saat ini. Hambatan serius penerbitan kali ini membuat edisi ini merupakan edisi yang penuh dengan perjuangan maupun sebagai

Top