Tag Archives: cerpen

Mengenang G30S

[Cerpen] Memeluk Luka Selama 636 Sentimeter

[Cerpen] Memeluk Luka Selama 636 Sentimeter

Luana lebih suka memeluk Luka erat-erat. Baginya membangun jeruji bagi Luka secara paksa dengan bantuan detakan jarum kecil pada arloji dan robekan lembaran-lembaran penanggalan, kelak hanya membuat Luka beralih bentuk menjadi infeksi. Karenanya, menahun Luana enggan menghitung hari-hari. “Rambutmu sudah terlampau panjang,” ujar Luka padanya. Luana mengangguk. “Mengingat imajimu tentang hitungan hari yang tak lagi

Ilusrasi Tolerantia - Kemampuan Menanggung Penderitaan dan Rasa Sakit. Dok/ Keith Negley

TOLERANTIA

Hussss!!! Maneh tong ngomong kitu ka si Rico (hus, kamu jangan bicara begitu ke Rico). Gelak tawa teman-temannya seketika  terhenti  setelah Rahman melerai perbincangan mereka tentang Rico, anak yang pendiam dan merupakan keturunan dari kaum sarane¹. Dia adalah Rico Sapullete anak dari Christian Sapullete yang tinggal di daerah Maluku. Sapulette adalah nama fam yang turun

[Cerpen] Radiasi Termal

Tadi malam dingin. Sekarang sudah pagi dan saya tidak bisa melihat kamu dengan jelas. Saya juga tidak bisa merasakan tekstur ranjang hijau ini. Kamu menyiram tanaman-tanaman pot di taman loteng rumahmu. Rambutmu jadi tidak begitu hitam di bawah sinar matahari pagi. Ini hari ke tiga kamu lupa menyiram pohon dalam pot biru muda di ujung

[Cerpen] Pena Tanpa Tinta

  Aku rasa sekarang sekolah hanya sekedar tempat bagi para guru untuk mencari uang, ketika mengajar, mereka hanya membawa buku atau laptop dan membacakan ulang setiap kata yang ada didalamnya. Jika menjadi guru hanya sedangkal itu, bagaimana dengan murid yang diajarnya? Mungkin mereka terlalu sibuk untuk memikirkan besok makan dengan apa, dibanding memikirkan apa yang akan

Arwah Bapak untuk Adinda (Bagian 2 – TAMAT)

Aku memiliki dua sahabat, kami berteman sudah dari SD. Kedua sahabatku bernama Amira dan Mutia. Kami apa adanya, persahabatan kami cukup aneh, kami bersahabat namun selalu merasa geli saat saling memuji satu sama lain. Kami lebih sering saling mengejek, namun kami masing-masing mengetahui bahwa ejekan itu adalah pujian yang tersembunyi. Menginjak usia remaja, persahabatan kami

Arwah Bapak untuk Adinda (Bagian 1)

Kristiana Devina, Hukum 2013 Semilir angin mengantarkan aroma melati yang menusuk dari ruang tamu. Beberapa orang terlihat sedang bercengkrama serius, pemandanganku tak terlepas dari hampir separuh orang yang diselimuti mata bengkak akibat menangis. Aku dan kakak-kakakku pun begitu, Luna, kakak pertamaku tak berhenti histeris memandang bapak yang terbujur kaku. Ia tampak sangat gagah dan manis

[Cerpen] Gagal Panen

Aku berdiri di tengah ribuan bahkan jutaan hijau membentang luas disekitarku. Tiupan angin santai menerpa, dan aku mengikuti irama lembutnya secara bersamaan.terombang-ambing ke samping secara bersamaan. Saat panen tiba, tak lama alih, penerus panen juga panen dengan cepat. Di luasnya sawah aku tidak berguna tanpa yang lainnya. Tapi kali ini aku berada di tempat yang

[Cerpen] Batu Berselimut Tebal

“Jadi, Manusia. Ada yang bilang kamu kerap memadankan rasa dengan bulan dan laut. Ada yang bilang kamu kerap berucap pada bulan selagi menanti. Manusia, biar saya beri tahu faktanya, kamu jangan tersinggung. Laut tidak mengagumi bulan. Kamu mengagumi, tapi bukan bulan. Manusia, bulan bukan telepon kaleng yang dihubungkan dengan benang. Bulan tidak menyampaikan pesanmu. Kamu

Suara yang Tidak Didengar

Oleh:  Gregorius Sanpai Jangan sampai kacang lupa kulit. Kami tidak meminta banyak dari anda, apa yang anda miliki, kami hanya berharap Rawabogo selalu dihatimu. “Gorrys”, bila sukses nanti ingatlah selalu cerita Rawabogo. Saya merasa terharu mendengarkan kata-kata itu dari seorang tokoh masyarakat Rawabogo ketika berpamitan kepulangan kami. Raut wajahnya terlihat sedih tetapi bukan kesedihan yang mereka

Berulang Menunggu Pulang (Cerpen)

Entah dari mana datangnya capung gunung itu. Berputaran di ruangan sempit. Menabraki lampu neon yang mendengung di ruang tamu. Tanpa Kardi sadari, kekosongan pandangnya mengikuti arah terbang capung gunung. Perhatiannya makin tercuri tingkah polah capung gunung, terjerat jaring laba-laba di sudut ruang—meronta-ronta dan akhirnya tak kuasa, mati. Ia mengerutkan kerut kening yang makin dikeruti usia.

Top