Survey Kepuasan Mahasiswa UNPAR: Survey Kepuasan Siapa?

Baru-baru ini, UNPAR melaksanakan survey terhadap kepuasan mahasiswa (14-25 November 2011). Survey yang hanya bisa diakses secara on-line ini mengajak para mahasiswa UNPAR untuk menunjukkan kepeduliannya mengenai kualitas UNPAR melalui pengisian form survey dengan kolom isian dan pilihan yang cukup banyak. Pertanyaan yang dimunculkan pun berbagai macam dengan masing-masing korelasi dengan UNPAR, mulai dari universitas manakah yang menurut responden menjadi saingan UNPAR, hingga apakah responden merasa puas dengan kualitas dosen di jurusannya masing-masing.

Pelaksanaan survey ini dilakukan oleh Majelis Perwakilan Mahasiswa UNPAR melalui divisi pengembangan dan penelitiannya. Survey ini pada awalnya adalah sebuah survey untuk penulisan skripsi seorang mahasiswa tingkat akhir  jurusan Manajemen angkatan 2007 yang bernama Maria Malau, di mana untuk mempermudah pengumpulan data untuk penulisan skripsi ini, Maria kemudian meminta bantuan kepada MPM, yang ditanggapi dengan positif, dan ketika diajukan kepada Romo Tarpin selaku Wakil Rektor III pun, ditanggapi dengan baik. Jadilah kemudian formulir survey yang telah disiapkan Maria, dengan perubahan secukupnya, dikeluarkan secara resmi oleh MPM untuk direspon oleh mahasiswa melalui pengisian survey kepuasan mahasiswa UNPAR tersebut secara on-line.

Survey ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana kepuasan mahasiswa UNPAR atas pelayanan UNPAR, di mana mahasiswa dapat memberikan pandangannya mengenai UNPAR, dan jika pelayanan atau saran dan prasarana UNPAR dirasakan kurang memuaskan –berdasarkan hasil survey–, UNPAR dapat melakukan perbaikan. Sebuah tujuan yang sungguh baik, dengan harapan yang baik pula: menyelesaikan skripsi, dan pada saat yang sama membantu UNPAR memperbaiki kinerjanya. Dari sini kita dapat melihat bahwa Maria menganggap UNPAR sebagai penyedia jasa, dengan mahasiswa sebagai konsumennya. Rasa-rasanya memang tidak terlalu salah menganggap UNPAR sebagai penyedia jasa dengan mahasiswa sebagai konsumennya, terutama dari kacamata ekonomi, sehingga jelas pandangan Maria yang tertuang dalam penulisan skripsinya tidak salah.

Yang kemudian menjadi celaka adalah, bahwa MPM dan bahkan Romo Tarpin mengamini orientasi pasar ini, bahwa UNPAR adalah sebuah penyedia jasa pendidikan, yang melakukan jual-beli pendidikan sebagai komoditasnya, dengan mahasiswa sebagai konsumennya. Bisa dibayangkan bahwa yang kerap terjadi adalah pertukaran harga (price) dan bukannya pertukaran nilai (value), dan jelas bukan inilah yang diinginkan Romo Geisse ketika mendirikan UNPAR sebagai universitas yang menjadi option for the poor, UNPAR yang pro bono publico, dan jelas pertukaran yang diharapkan terjadi di dalamnya adalah pertukaran nilai, dan bukan sekadar pertukaran harga. Kalaupun memang ingin diberlakukan hubungan yang demikian ekonomis, artinya mahasiswa yang menjadi konsumen memiliki hak-hak sebagai konsumen seperti pengembalian atau ganti rugi produk (dalam hal ini jasa pendidikan), jika yang dibayarkan tidak sesuai dengan yang didapatkan. Adakah UNPAR memang ingin memberlakuan hubungan produsen-konsumen seperti ini?

Permasalah selanjutnya muncul dalam survey on-line tersebut, yaitu pengisian nama dan nomor pokok mahasiswa tidak dimintakan. Disebutkan dalam survey tersebut bahwa nama dan NPM tidak dimintakan untuk menjamin kerahasiaan survey tersebut. Ada dua kemungkinan yang paling mungkin muncul jika nama dan NPM dimintakan: pertama, para responden tidak akan menjawab dengan sejujurnya jika memang ada ketidak puasan terhadap (pelayanan) UNPAR karena khawatir bahwa akan ada sanksi yang mungkin bisa dikenakan kepadanya, atau kedua, tidak banyak mahasiswa yang akan mengisi survey tersebut dengan alasan yang sama dengan kemungkinan pertama, bahwa mahasiswa menjadi enggan karena jika mereka mengisi secara jujur dan ternyata UNPAR memang memiliki kekurangan yang cukup signifikan, akan ada sanksi atas kejujuran mereka.

Tidak dimintakannya nama dan NPM pun kemudian menjadi masalah ketika ada peringatan bahwa alumni dilarang mengisi form survey tersebut. Bagaimana mungkin surveyor bisa melakukan verifikasi data jika nama dan NPM tidak dimintakan? Bukan hanya alumni yang dapat mengisi survey tersebut, mahasiswa bukan UNPAR pun dapat mengisinya, atau yang lebih parah, ada satu orang mahasiswa UNPAR yang dapat mengisi lebih dari satu kali survey tersebut. Lalu bagaimana mungkin data yang diperoleh diujikan jika sampel populasinya tidak jelas? Apa dan siapa yang dapat menjamin bahwa pengisian survey tersebut murni dilakukan oleh mahasiswa UNPAR dan dilakukan hanya satu kali? Jika tidak ada jaminan tersebut, tidak dimintakannya nama dan NPM justru dapat mengacaukan pengolahan data!

Selain itu, jika ingin mengetahui kepuasan konsumen secara menyeluruh, harusnya alumni lah yang dijadikan sampel populasi penelitian, karena mereka lah yang telah merasakan pelayanan yang diberikan UNPAR hingga mereka selesai kuliah.  Kalau memang ingin mendapatkan jawaban atas sebuah survey, sudah barang tentu tidak dapat diharapkan adanya objektifikasi jawaban melalui pilihan-pilihan yang diberikan dalam survey kepuasan mahasiswa tersebut, karena responden pun mungkin mereduksi pilihannya sendiri dengan menjawab pertanyaan survey dengan jawaban yang paling mendekati subjektifitas mereka. Jadi, kalau dikatakan bahwa pendapat alumni dijadikan sampel dapat membiaskan hasil data karena akan membuat hasil survey bersifat subjektif, maka hal ini lah yang menjadi lucu, karena seperti penjelasan di atas, jawaban sebuah survey sudah pasti mereduksi subjektifikasi responden, siapapun yang mengisi survey tersbeut, karena jawaban yang disediakan sudah diobjektifikasikan.

Jadi, survey terhadap kepuasan mahasiswa UNPAR masih merupakan sebuah permasalahan, karena masih terdapatnya penjelasan yang tidak memadai mengenai tujuan dilakukannya survey tersebut. Jika memang ditujukan hanya untuk mahasiswa, mengapa tidak diberikan batasan teknis dalam proses pengisiannya seperti pengisian nama dan NPM, dan jika memang ingin mendapatkan data mengenai kepuasan konsumen jasa pendidikan UNPAR, sepatutnyalah alumni juga dimintakan respon,karena justru mereka lah yang telah menikmati pelayanan UNPAR hingga akhir perkuliahan mereka. Survey dengan semangat yang cukup baik ini seharusnya memiliki tujuan pengembangan ilmu pengetahuan karena tujuan awal survey ini adalah murni untuk tujuan penulisan skripsi, jika kemudian terlalu banyak kepentingan yang bercampur di dalamnya, dikhawatirkan bahwa hasil dari survey tersebut justru dipergunakan untuk kepentingan marketing UNPAR, dan bukannya untuk perbaikan atau bahkan pengembangan ilmu pengetahuan.

*

*

Top