Surat Terbuka untuk Presiden Mahasiswa Terpilih

STOPPRESS - Cakahim Hukum Janjikan Maba Tanpa Partai STOPPRESS - Cakahim Hukum Janjikan Maba Tanpa Partai

Oleh: Petrus Richard Sianturi (FH 2012)

Yang terhormat Saudara Ibrahim Risyad, presiden mahasiswa terpilih Universitas Katolik Parahyangan. Saat menulis surat terbuka ini, saya sedang duduk santai ditemani udara segar depan rumah. Sambil duduk santai saya membuka twitter dan melihat beberapa “kicauan” dari twitter Media Parahyangan (MP). Pagi ini ada dua tweet-nya tentang artikel yang membahas keterpilihan Anda sebagai presiden mahasiswa Unpar periode 2014/2015.

Artikel di blog MP itu membahas Anda sebagai presiden yang melakukan tindakan menyontek saat UTS yang lalu. Sebenarnya saya sudah mengikuti kabar tentang Anda ini sejak saya membaca di portal dan di mading fakultas kita, Fakultas Hukum, bahwa Anda menyontek. Saya termasuk orang yang tidak setuju jika Anda menjadi presiden mahasiswa karena alasan itu. Saya memiliki alasan-alasan dan untuk mengemukakannya saya menulis surat terbuka ini untuk Anda baca baik-baik dan renungkan.

Saudara Ohim, pertama-tama saya ingin mengajak Anda untuk melihat sedikit kronologis niat pencalonan Anda sebagai presiden mahasiswa. Ketika Anda ketahuan menyontek, Anda sudah menyadari kalau Anda sedang menjadi bagian dalam proses pemilihan umum di Unpar. Itu artinya Anda akan menjadi bagian dalam bursa calon pemimpin hampir 10.000 mahasiswa Unpar. Keberanian Anda mendaftar menunjukkan bahwa Anda sudah siap menjadi pemimpin yang artinya Anda siap untuk memimpin kami mahasiswa se-Unpar.

Secara langsung, Anda tentu menunjukkan kalau Anda punya kapabilitas, kapasitas dan kredibilitas yang bisa Anda pertanggung-jawabkan kepada kami yang akan Anda pimpin. Saya tidak bisa menerka sedikitpun apa yang terlintas dalam pikiran Anda saat Anda menyontek saat ujian itu. Tapi, apapun alasannya, karena Anda sudah merasa siap menjadi pemimpin saya dan teman-teman se-Unpar, tidak akan ada satupun alasan yang bisa diterima oleh logika dan akal sehat.

Saya pribadi, paling tidak, merasa senang ketika MP mengabarkan bahwa Anda sudah mengakui kesalahan Anda dan dengan terbuka meminta maaf atas kesalahan itu. Tindakan Anda patut diapresiasi. Tapi logika saya tidak bisa menutupi prasangka bahwa apakah jika Anda tidak ketahuan menyontek, Anda akan melakukan tindakan yang sama atau tidak. Saya merasa, Anda meminta maaf karena Anda ketangkap basah (red-handed) dan kebetulan dalam posisi terjepit, yaitu sebagai calon presiden mahasiswa.

Saudara Ohim, Anda adalah senior saya di fakultas hukum. Anda tentu sudah memahami hukum lebih dari saya. Entah Anda sadar atau tidak, bukankah sebagai calon Sarjana Hukum kita belajar untuk menjadi mahasiswa yang taat pada aturan, tidak melanggar ketentuan, tidak melanggar norma yang ada dan tidak mengkhianati nilai moral? Bukankah sebagai sarjana hukum, kelak kita akan menegakan keadilan dalam nilai kejujuran sebagai pertanggung-jawaban kepada Tuhan yang Maha Esa lewat profesi kita? Semua itu dimulai saat sekarang kita sebagai mahasiswa.

Civitas akademika sebesar Unpar memiliki persoalan yang tidak sederhana. Dalam kaitan yang langsung berkenaan dengan persoalan kemahasiswaan saja, Unpar masih punya tugas berat untuk memperbaiki segala kekeliruan yang selama ini masih terjadi. Mahasiswa Unpar masih perlu diberikan kesadaran untuk menjadi mahasiswa yang benar-benar dapat memaknai jiwa mahasiswanya dengan sejati. Untuk alasan itu, perlu ada yang benar-benar bisa memimpin Unpar menuju arah yang lebih baik ke depannya.

Saya tidak bermaksud untuk mengatakan Anda tidak bisa melakukannya, tapi saya merasa Anda belum siap untuk melakukannya. Anda belum selesai dengan diri Anda yang terbukti dengan tindakan menyontek Anda. Presiden mahasiswa sebagai “jongos” mahasiswa untuk seluruh kepentingan mahasiswa demi Unpar yang lebih baik haruslah orang yang sudah selesai dengan dirinya. Orang yang selesai dengan dirinya sekalipun tetap harus belajar terus supaya semakin berkembang untuk menjadi pribadi yang utuh.

Saudara Ohim, saya juga merasa ini semua bukan sepenuhnya kesalahan Anda. Anda sebagai penyulut dan banyak kebobrokan kemudian terbongkar. Saya berterima kasih kepada Anda karena sekarang mahasiswa Unpar akhirnya bisa melihat bagaimana kinerja KPU-PM yang juga bekerja tidak demi kepentingan Unpar melainkan hanya kepentingan mereka sendiri, yakni kesuksesan lembaga mereka sendiri. Andaikan mereka berani mengambil sikap untuk memutuskan bahwa ketika Anda ketahuan menyontek Anda tidak bisa melanjutkan proses pemilu, mungkin masalahnya tidak menjadi sebesar seperti sekarang ini. Untuk itu, penyelesaian persoalan ini tidak bisa lagi digantungkan pada mereka.

Saya berterima kasih kepada Anda karena sekarang mahasiswa Unpar akhirnya bisa melihat bagaimana kinerja KPU-PM  tidak bekerja demi kepentingan Unpar melainkan hanya kepentingan mereka sendiri

Anda tahu, lingkup sosial MP sudah sangat luas, yang artinya informasi tentang Anda sudah tersebar luas di luar lingkungan Unpar. Anda juga tahu, kalau lingkungan rektorat sudah menolak Anda sebagai presiden mahasiswa, ikatan alumni sudah menolak Anda, 1000 lebih mahasiswa yang mengikuti pemilu menolak Anda, lalu apalagi yang ingin Anda pertahankan?

Setelah Anda bijaksana mengakui kesalahan dan meminta maaf, Anda lebih baik mundur sebagai presiden terpilih. Anda lebih baik legowo untuk melepaskan jabatan itu. Anda lebih terlihat sebagai pemimpin dengan melakukan hal itu. Saya jamin, Anda akan sangat disegani, akan sangat diapresiasi dan akan sangat dihormati jika Anda melengkapi kebijaksanaan Anda dalam persoalan ini.

Pemimpin adalah mereka yang  siap membawa orang lain pada jalan benar lewat cara yang benar. Mereka menunjukkan diri sebagai pribadi yang bebas. Bebas dari keegoisan, kemunafikan, keangkuhan dan keterpaksaan. Mereka tidak mengagung-agungkan jabatan, karena sadar menjadi pemimpin tidak harus menjadi pimpinan. Mereka siap memimpin karena sadar betul mereka bisa bertanggung-jawab untuk itu.

Surat terbuka ini saya buat bukan untuk menjatuhkan tetapi semata-mata demi kepentingan kampus kita, Universitas Katolik Parahyangan. Jika Anda mencintai Unpar seperti yang tertulis sebagai visi dan misi Anda, tidak ada pilihan lain, selain bertindak bijaksana. Dalam kaitannya dengan kenyataan sekarang, tindakan bijaksana itu tidak lain adalah dengan berani mengundurkan diri. Jika tidak, seperti kata pepatah Belanda dan ben jij als pimpinan niet waard (Anda belum pantas menjadi pimpinan, apalagi pemimpin).

 

Related posts

6 Comments

  1. MAHASISWA COPY PASTE said:

    widiih kritik anda bagus sih tapi sudahkah anda melihat diri anda sendiri bos ?

      • Reyner said:

        Halo Bro Richard, sebenarnya saya kurang mengerti tujuan anda membuat surat terbuka ini untuk apa.
        Mungkin untuk orang yang pro dengan saudara Ohim akan kesal membaca artikel ini, dan untuk orang yang kontra dengan Ohim akan setuju sekali membaca surat terbuka ini.

        Tetapi saya sebagai pihak NETRAL merasa surat terbuka ini dibuat untuk menyudutkan meskipun anda telah menyebutkan bahwa

        “surat terbuka ini dibuat bukan untuk menjatuhkan tapi semata-mata demi kepentingan kampus kita.”

        Hmmm saya jadi berpikir ulang setelah membaca surat ini. Darimana anda tahu kalau calon Presma yang lain tidak mencontek juga? *mudah2an tidak. Dan anda tahu darimana jika orang yang mencontek berarti sudah tidak ada kesempatan untuk menjadi baik ke depannya?

        Tapi kalau boleh saya saran, mungkin bagian ini kurang perlu ya:

        “Setelah Anda bijaksana mengakui kesalahan dan meminta maaf, Anda lebih baik mundur sebagai presiden terpilih. Anda lebih baik legowo untuk melepaskan jabatan itu. Anda lebih terlihat sebagai pemimpin dengan melakukan hal itu. Saya jamin, Anda akan sangat disegani, akan sangat diapresiasi dan akan sangat dihormati jika Anda melengkapi kebijaksanaan Anda dalam persoalan ini.”

        Yang ada mungkin akan membuat anda terkesan menyudutkan saudara Ohim. Padahal mungkin anda bermaksud membuat saudara Ohim merenung, bukan mundur.

        Dan terakhir sebagai penutup, balasan anda terhadap komentar Mahasiswa Copy paste

        “Kalau Anda berani, datang ke saya dan bilang langsung..! Itu kalau Anda punya nyali. Saya tunggu. :)”

        Rasanya sekali lagi kurang enak dibaca. Tidak memperlihatkan kapasitas anda yang seharusnya bisa lebih Bijaksana dengan membuat surat terbuka ini.

        Demikian balasan saya semoga bisa dipertimbangkan dan direnungkan juga. Kalau ada salah kata maka maafkanlah.

        NB: No Offense. Hanya mempertanyakan maksud dari surat terbuka ini.

        Regards,

    • Mahasiswa said:

      Haha, ini salah satu tanggapan yang tidak pantas. Tidak perlulah anda mempertanyakan “sudahkah anda melihat diri anda sendiri bos ? ” Ini adalah sebuah kritikan, yang memang jelas-jelas tindakan mencontek presiden mahasiswa Unpar periode 2014/2015 tidak sepatutnya. Coba dijawab oleh saudara “MAHASISWA COPY PASTE”, apakah hal itu pantas dilakukan oleh seorang yang mencalonkan diri sebagai presiden mahasiswa?

      Kalau anda bertanya “sudahkah anda melihat diri anda sendiri bos ?”, anda bisa lihat sendiri apakah para komentator sepak bola dapat melatih sebuah klub sepak bola lebih baik daripada yang ia komentari.
      Analogi sederhana diatas mungkin dapat menjelaskan bahwa betapa tidak pantasnya tanggapan saudara “MAHASISWA COPY PASTE” terhadap kritikan ini.

    • Mahasiswa Gedung 2 said:

      Seseorang tidak harus sempurna untuk dapat mengkritik orang lain. Kalau seperti itu, kita tidak akan pernah maju, karena tidak ada orang yang sempurna.

  2. Mahasiswa Tidak Nyontek said:

    Bravo!

    Hantam sikap permisif dalam menghadapi plagiarisme! Masih muda kok kompromi terus sama yg model begini? Apa bedanya sama yang sekarang pada rame jual diri jelang pilpres?

*

*

Top