Suara yang Tidak Didengar

artwork by Robin artwork by Robin

Oleh: 

Gregorius Sanpai

Jangan sampai kacang lupa kulit. Kami tidak meminta banyak dari anda, apa yang anda miliki, kami hanya berharap Rawabogo selalu dihatimu. “Gorrys”, bila sukses nanti ingatlah selalu cerita Rawabogo. Saya merasa terharu mendengarkan kata-kata itu dari seorang tokoh masyarakat Rawabogo ketika berpamitan kepulangan kami. Raut wajahnya terlihat sedih tetapi bukan kesedihan yang mereka rasakan, pancaran air mata yang berlinang jatuh berderai mengiringi perpisahan sore itu. Air itu adalah air mata bahagia.

Sambil menunggu pagi menjelang, subuh itu kami berlari menelusuri lorong-lorong desa. Kicau burung, ayam berkokok, serta ributnya suara ternak-ternak desa menghantar kami untuk menjelajah memberi semangat kebugaran jasmani pagi itu. Ketika fajar pagi mulai nampak, tampak sebuah taman yang indah karena dipenuhi oleh berbagai jenis perbedaan bunga yang menghiasi taman desa dalam balutan kesatuan gadis-gadis desa yang tak kalah cantiknya bak eksotiknya taman tersebut.

Keindahan taman itu semakin mempererat persahabatan kami untuk semakin setia dalam menata tubuh dan ranjang kebudayaan desa yang kian tersisi oleh hadirnya manusia-manusia picik, “Homo hominilupus”, manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Sebuah pertanda lahirnya tragedi modernitas. Tragedi penuh tanda tanya situasi yang lahir tanpa arah yang jelas.

Sudah terasa tiga minggu lamanya kami belajar kepedulian, empati sosial, uluran tangan, senyum dan sapaan yang tulus, betapa mudahnya rasa bahagia itu dan sesederhana itu kehadiran seseorang harus mendamaikan yang lain. Tiga minggu lamanya suka dan duka, canda dan tawa tersimpul dalam ketulusan lokalitas dan cita rasa masyarakat Rawabogo. Saat dimana kami belajar begitu banyak hal tentang arti hidup, kesederhanaan dalam balutan otentisitas diri. Sesuatu yang sangat berbeda seperti biasanya ketika kami beraktivitas di almamater.

Almamaterku terkenal sebagai rumahnya para pemodal dan kaum borjuasi antara rasa peduli dan empati hanya konsep usang. Identitas agama sebagai label almamaterku hanya konsep penghayatan ilusi. Pribadi-pribadi yang hidup tanpa orang lain, apa lagi orang-orang desa yang jauh dari keramaian kota. Entah apa yang ada dibenak guru-guru kami sampai kami diijinkan untuk menelusuri kehidupan didesa Rawabogo. Mungkinkah sudah saatnya almamaterku sudah menyadari akan situasi dilingkungannya? Hingga kami diijinkan belajar dilingkungan yang berbeda ruang dan waktu…

Rawabogo menyimpan banyak cerita. Segalanya mengenai arti hidup kami sadari akan hal itu disana, memberi tanpa pamrih betapa murahnya senyuman dari wajah penuh empati. Keramahan dalam menyambut setiap tamu yang datang. Mereka mengajarkan kami bagaimana menjadi pribadi yang otentik. Keseharian yang penuh dengan kesederhanaan, dari kaum-kaum sosialisme yang selalu mengingatkan kami betapa pentingnya hidup dalam cita rasa alam untuk menjaga keseimbangan dari sang khalib.

Jauh dari hiruk pikuk kerumunan modernitas yang kian tak beradab. Didesa itu, kami ingin bercerita dengan realitas bukan hanya sebuah retorika dibukit ciumbuleuit. Dari rumah pendidikanku Universitas Katolik Parahyangan, almamaterku, tanah parayangan akan menuliskan lembaran sejarahnya.

Canda dan tawa yang tulus melahirkan kekaguman kami, maka disitulah menghadirkan suatu kebersamaan dan persahabatan menjadi akrab terhadap satu sama lain. Ya, itulah ciri khas kami di desa yang penuh keramahan dan semangat humanitas yang melekat dalam arus suka dan duka yang menjelma dalam situasi desa kami, yang tak seperti biasanya kami temukan di lingkungan kota. Lingkungan yang penuh dengan gerak-gerik mencurigakan, dari modernitas yang menggenggam erat peradaban nilai luhur yang mulai terurai oleh mentalitas makan siang gratis.

Ruang perjumpaan menjadi entitas yang mengantarkan kami ke “kebersamaan” itu. Modernitas selalu mengancam tradisi, bahkan berpengaruh untuk mereduksi cita rasa dan kearifan lokal. Dalam ruang modernitas kebudayaan dan kearifan di acak-acak oleh manusia-manusia virtual yang berkeliaran tanpa kejelasan. Kerena ambiguitas dengan modernitas. Disitulah harkat dan martabat manusia diabaikan oleh si pemeran utama planet bumi ini.

Berbicara tentang modernitas mungkin berbeda ruang dan waktu. Ketika modernitas bergemuruh dilingkungan perkotaan dengan semangat individualitas maka Rawabogo punya entitas yang tak pernah tergantikan. Entitas itu adalah semangat gotong royong. Budaya bangsa yang menjadi kekuatan untuk mengantarkan kita sebagai bangsa Indonesia hingga usia ke-70. Eksotiknya flora dan fauna, bukit dan gunung serta lautan melukis indah membentang dari Sabang sampai Merauke. Rawabogo dengan Gunung Padangnya ikut memperindah keIndonesiaan ini. Kami prihatin konsep ruang antar Kota dan Desa sudah berbeda jauh. Ruang perkotaan menjadi sempit. Kepedulian hanya ketaatan buta.

Ruang perjumpaan menjadi entitas yang mengantarkan kami ke kebersamaan itu. Modernitas selalu mengancam tradisi, bahkan berpengaruh untuk mereduksi cita rasa dan kearifan lokal. Parahyangan, almamaterku, tanah parahyangan akan menuliskan lembaran sejarahnya, sebuah perjalanan menelusuri jejak-jejak sejarah Rawabogo yang kini bukan hanya meng-Indonesia tetapi juga mendunia.

 

Tentang penulis:

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan Jurusan Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Untuk menghubungi penulis dapat melalui email gregorius.ataripit@gmail.com

 

 

Tags , ,

Related posts

*

*

Top