Sosok Calon Rektor: Robertus Wahyudi Triweko

Dok.Foto: pemilihanrektor.unpar.ac.id Dok.Foto: pemilihanrektor.unpar.ac.id

Unpar Sedang Dalam Masa Transformasi

Telah menjabat selama 4 tahun kebelakang, rupanya tidak membuat Robertus Wahyudi Triweko kapok menjadi Rektor Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Hal ini dibuktikan dengan pencalonan dirinya kembali untuk menjadi rektor masa bakti 2015-2019.

Pria kelahiran solo, 6 juli 1954 ini mengaku dirinya hanya menyediakan diri untuk melanjutkan masa kepemimpinannya. “Sebagai dosen tetap Unpar, saya hanya menyediakan diri untuk memegang jabatan ini kembali.” Ujarnya. Memang, pengalaman Triweko yang telah menjadi Rektor Unpar masa bakti 2011-2014, dosen senior di Fakultas Teknik Sipil, menjadi pembantu rektor Bidang Administrasi dan Keuangan, Pembantu Rektor Bidang Kerjasama, Ketua Progam Magister Teknik Sipil, dan Dekan Fakultas Teknik Sipil membuatnya dinilai memiliki kompetensi yang tinggi untuk menjadi salah satu kandidat calon Rektor.

Triweko mengaku, masalah yang ada di Unpar masih terkait sumber daya manusia yang ada pada kampus jingga ini. “Peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya tetap menjadi fokus perbaikan di masa yang akan datang. Unpar sedang  dalam masa transformasi dimana akan dilakukan pengembangan-pengembangan inovasi dalam proses belajarnya.”

Sebagai research based university, sudah seharusnya banyak jurnal-jurnal atau tesis hasil penelitian yang dihasilkan kampus ini untuk kemudian di publikasikan. Proses penelitian pada hakikatnya lebih tepat dilakukan di jenjang S2, sedangkan pada jenjang S1 mahasiswa masih dalam tahapan awal memahami esensi dari penelitian. Sayangnya, Unpar belum mampu untuk mewujudkan terciptanya program-program master yang merata diseluruh program studi. Tercatat hanya delapan program studi yang memiliki program pascasarjana dari total 15 program studi. Ditambah lagi, Unpar belum berhasil mendapatkan akreditasi “A” pada akreditasi institusi yang dilakukan pada tahun 2013 silam.

Atas fenomena ini, Triweko berpendapat bahwa penyebabnya adalah kurangnya jumlah dosen yang bergelar doktor di Unpar. “Kita terus mendorong dosen-dosen tetap Unpar untuk melanjutkan studi S2 dan S3. Harapannya pada tahun 2018, 50% dosen Unpar telah bergelar doktor,” ujar ayah dari tiga putri ini. Triweko juga menginginkan program-program pascasarjana tersebut dikelola dan diselenggarakan oleh masing-masing fakultas.

Jika harapan itu benar-benar terealisasikan, apakah Unpar siap untuk menampung lebih banyak jumlah mahasiswa yang datang ke Ciumbuleuit untuk berilmu? “Oleh karena itu, kita berencana untuk membangun pusat pembelajaran Arntz Geisse. Diharapkan  dengan adanya fasilitas baru ini, Unpar akan mampu dalam menghasilkan mahasiswa yang benar-benar dapat memberikan bekontribusi dan memberikan sumbangan pada perkembangan ilmu dan teknologi dan diwujudkan lewat publikasi.” Nantinya, gedung itu akan memuat berpuluh-puluh ruang kelas, ruang diskusi dan kerja kelompok, auditorium, ruang serba guna, dan tidak ketinggalan sebuah lecture theater mewah yang mampu menampung satu angkatan sebuah program studi. Jangan lupa basement tiga lantai untuk mendukung kapasitas tampung gedung canggih tersebut.

Fasilitas Baru, Investasi atau Pemborosan?

Dengan wacana yang kerap terdengar mengenai akan ditiadakannya pengadaan semester pendek (SP), maka rencana pembangunan ini seolah-olah akan menghasilkan bangunan yang dapat menjadi mubazir selama tiga bulan.

Triweko berdalih bahwa saat SP gedung itu dapat digunakan untuk kegiatan lain. Misalnya studi penelitian yang melibatkan mahasiswa dan dosen atau mengadakan international course yang mengundang partisipan mancanegara. “Agar mahasiswa tidak selalu terpaku untuk mengejar nilai akademik, tapi juga nilai-nilai non akademik.” Disamping itu, gedung ini juga bisa dipergunakan untuk masyarakat Bandung yang membutuhkan. “Asal bukan untuk pesta pernikahan saja,” sambungnya sambil tertawa.

Tentunya dengan fasilitas yang dijanjikan ini akan membuat Unpar semakin diperhitungkan sebagai salah satu universitas yang menjanjikan. Tentu kita bertanya-tanya tentang biaya kuliah kelak. Apalagi sekarang saja sudah banyak mahasiswa yang mengeluhkan mahalnya biaya kuliah di Unpar. “Tidak serta merta naik. Kan kenaikan juga di pengaruhi inflasi. Sesuai kebutuhan saja.”

Mengaku pro aktifitas non-akademik

Seperti yang kita ketahui, pihak universitas berkewajiban mengeluarkan surat dispensasi jika mahasiswa yang bersangkutan memiliki tugas diluar perkuliahan. Surat disepensasi yang seharusnya menjadi surat ‘sakti’ yang dapat mengizinkan mahasiswa absen dari perkuliahan nyatanya tidak terlalu berpengaruh pada beberapa dosen di fakultas tertentu. Kenyataan ini kontradiktif dengan dukungan yang diberikan Triweko agar mahasiswa aktif di kegiatan non akademik. Mahasiswa sempurna menurutnya bukanlah mahasiswa yang mendapat IP baik tapi juga aktif dan berprestasi di bidang non akademik. “Saya paling tidak suka mahasiswa yang kuliah-pulang saja kerjanya.”

Alumnus  Unpar tahun 1980 ini menyayangkan adanya dosen yang masih tidak memedulikan surat dispensasi ini. Ia berjanji untuk menegur dan memberikan arahan lebih lanjut untuk dosen-dosen terkait.

Lain lagi dengan wacana adanya masa maksimum tempuh perkuliahan lima tahun. Menurutnya hal ini memiliki arti yang berbeda, yaitu kurikulum yang dirancang memang untuk 5 tahun, tapi jika fakultas ingin melakukan modifikasi pun diperkenankan.

Salah satu aktivitas penyaluran kegiatan non-akademik adalah lembaga-lembaga yang ada di Persatuan Mahasiswa (PM) Unpar. Namun, birokrasi di Unpar banyak dikeluhkan karena PM seringkali berbenturan dengan biro-biro Unpar dalam masalah izin pelaksanaan kegiatan. Alur birokrasi yang  ada di Unpar di akui Triweko belum berjalan secara maksimal. Pasalnya, masih ada beberapa fungsi birokrasi yang ‘tabrakan’ satu sama lain. Selain dari sisi operasional juga dinilainya belum sepenuhnya memuaskan. “Bagaimana staff administrasi melayani mahasiswa. Bagaimana orang bersikap dan berprilaku juga harus diperbaiki. Jangan sampai mahasiswa dikecewakan karena nilai yang terlambat keluar,” ujarnya ketika ditanya mengenai kinerja birokrasi Unpar.

Harapan untuk pemimpin terpilih

Selain Triweko, masih ada dua calon lain. Mereka adalah Anastasia Caroline Sutandi dan Mangadar Situmorang yang kedua-duanya merupakan akademisi di Unpar. Menurut Triweko tidak masalah siapapun yang terpilih. Menjadi Rektor atau bukan hanyalah perkara pembagian tugas saja. semua kandidat memiliki kompetensi yang bisa berguna untuk Unpar. “Prinsip kepemimpinan unpar adalah kolegialitas dan subsidiaritas . kita memandang teman sebagai teman sebaya dan sekerja dimana menyelesaikan masalah secara bersama-sama.”

Mengenai pengalamannya menjadi rektor periode sebelumnya, menurutnya belum tentu menjadi keunggulan dirinya. “Ya tidak juga. Selama menjabat dinilai buruk kan jadi nilai buruk. Saya netral saja,” ujarnya sambil tersenyum lebar.

Selanjutnya ia berharap suasana di kampus ini semakin membaik. Terwujudnya komunitas akademik yang humanum sesuai dengan visi Unpar. terciptanya pula kontribusi Unpar yang akan berguna bukan hanya untuk daerah lokal, tapi nasional dan bahkan internasional.

“Tantangan yang dihadapi pun berbeda dari 4 tahun lalu jadi kita dukung saja siapapun (calon rektor.Red) yang nanti terpilih.”

Ketika tulisan ini dibuat, masih banyak mahasiswa yang tidak mengetahui bahwa penyaringan rektor Unpar sedang berjalan. Memang, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh mahasiswa untuk turut berkontribusi dalam proses seleksi ini. Triweko berargumen hal itu disebabkan perbedaan konsep antara menjadi academic leader berbeda dengan menjadi kepala Negara. “Orang yang dapat dukungan paling besar belum tentu memiliki kompetensi yang sesuai. Disinilah sulitnya mencari orang yang mampu menghadapi tantangan-tantangan selama 4 tahun kedepan.”

Mahasiswa hanya bisa melihat dan mengawasi tahap demi tahap tersaringnya calon rektor yang semula berjumlah delapan orang hingga kini menjadi tiga orang saja. Begitu juga dengan proses penyaringan yang dilakukan oleh yayasan dibantu oleh Panitia Pengusulan dan Pemilihan Rektor (PPPR) Unpar.

SHERLY NEFRIZA

Related posts

*

*

Top