Sosok Calon Rektor: Anastasia Caroline Sutandi

Dok. Foto: pemilihanrektor.unpar.ac.id Dok. Foto: pemilihanrektor.unpar.ac.id

 “Unpar Perlu Perencanaan Yang Lebih Baik”

Anastasia Caroline Sutandi, mungkin nama tersebut sudah tidak asing ditelinga para mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung. Bagi sebagian besar civitas academica Unpar pun nama tersebut mungkin kerap dibicarakan. Bagaimana tidak, ia adalah salah satu calon dari ketiga calon lainnya yang lolos dalam seleksi bakal Rektor periode 2015/2019. Ia adalah satu-satunya calon Rektor perempuan selain kedua rekannya, Mangadar yang berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan Triweko yang merupakan Rektor pada periode sebelumnya.

Caroline, begitu ia biasa di sapa, merupakan Dosen di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Unpar. Ia mengajar beberapa mata kuliah, diantaranya adalah Traffic Engineering, Geometric Design of Highways and Streets, Traffic Engineering and Management, dan Studio of Road Network Maintenance.

Sebelum masuk menjadi tenaga pengajar di Unpar 28 tahun yang lalu, ia pernah menyelesaikan pendidikan Strata-1 nya di Universitas Katolik Parahyangan, tempat ia bekerja sekarang. Kemudian melanjutkan pendidikan nya di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1990, dan kemudian hijrah ke negeri kangguru untuk kembali menuntut ilmu di University of Queensland dengan program yang sama, yaitu Philosophy in Civil Engineering pada tahun 2006.

“Saya ingin jadi dokter”ujar Caroline yang sejak lahir dan besar di Bandung sejak 50 tahun yang lalu. Menurutnya menjadi dosen seperti saat ini bukanlah cita-citanya. “Tetapi setelah saya berkutat di dalam dunia pendidikan, saya merasa memiliki passion dalam pendidikan.” Tambah Caroline menjelaskan cita-citanya semasa dulu. Caroline menyatakan bahwa dirinya sudah menjadi Asisten Dosen semasa dirinya masih menempuh pendidikan Strata-1 nya di Unpar. Pada saat ini Caroline dipercaya menjabat sebagai Dekan di Fakultas Teknik Unpar pada periode tahun 2010 hingga tahun 2014.

Selain aktif di Unpar, Caroline juga aktif menjadi seorang ahli dibidang Teknik Sipil. Saat ini Caroline sedang mengerjakan salah satu proyek sebagai Anggota Dewan Pakar Penelitian Transportasi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Darat dan Kereta Api.

Pencalonan Rektor Unpar dan Problematika Unpar

“Teman-teman disekitar menaruh harapan pada saya. Dipundak saya ada harapan besar mengenai Unpar” ujar Caroline ketika ditanya mengenai alasan pencalonan dirinya menjadi Rektor Unpar. Dalam pencalonannya sebagai rektor kali ini bukanlah murni keinginannya.  Adalah keinginan orang-orang disekitarnya yang mengharapkan perubahan bagi Kampus Jingga agar menjadi lebih baik. Hal ini disebabkan karena Caroline dianggap sudah membawa Fakultas Teknik SIpil menjadi lebih baik pada masa jabatannya selaku Dekan.

“Sekarang Unpar sudah baik, tapi harus lebih baik,” tutur Caroline ketika dimintai tanggapan mengenai kondisi Unpar sekarang ini. Bagi Caroline Unpar adalah suatu institusi pendidikan tinggi yang harus dibawa pada taraf internasional. Oleh sebab itu, salah satu misi yang dibawa sebagai Calon Rektor adalah membawa Unpar pada taraf pendidikan internasional.

Saat ini baginya, meningkatkan akreditasi institusi adalah yang pertama harus dilakukan, siapapun pemimpinnya. Dalam pencapaiannya tersebut Caroline menganggap Perencanaan adalah hal fundamental dalam membangun Unpar menjadi lebih baik. Menjalankan institusi berdasarkan visi yang sama, tidak perlu merubah dengan permasalahan yang jelas sama, cukup direncanakan dengan jelas dan matang dan mengevaluasi untuk siap kebijakan yang telah dilakukan apakah sesuai dengan tujuan dan visi misi.

“Unpar harus punya rencana induk kampus,” ucap Caroline menyikapi setiap permasalahan yang kerap terjadi di Unpar. Caroline menyorot permasalahan larut dalam Unpar seperti kurangnya lahan parkir, biaya kuliah naik setiap tahun, dan pembangunan gedung baru yang akan dibangun di gedung 4 dan 5. “Dalam menyikapi masalah-masalah ini perencanaan yang jelas merupakan hal yang penting”ujar Caroline menanggapi problematika yang ada di Unpar. Hal ini disebabkan karena apabila ada perencanaan yang jelas, maka tidak akan ada kesalahan dalam pelaksanaan Unpar baik dalam pengembangan serta peningkatan sumber daya di dalamnya. “Kita perlu mengoptimalkan potensi yang kita miliki, dengan melihat pula apakah sesuai dengan kebutuhan baik mahasiswa maupun karyawan.” Ujar Caroline

Ketika ditanya mengenai kegiatan mahasiswa, Caroline sepenuhnya mendukung perkembangan kegiatan mahasiswa. “Seluruh kegiatan mahasiswa harus didukung, dukungan tersebut dapat berupa ijin, sistem, standar, dan juga dukungan finanasial,” ujarnya Caroline. Namun dukungan yang diberikan tetap harus sesuai Visi Misi Unpar dan Tri Darma Perguruan Tinggi.

“Untuk mewujudkan Unpar yang lebih baik, ada banyak faktor yang harus ditingkatkan. Mulai dari akreditasi, kualitas Sumber Daya Manusianya baik karyawan maupun mahasiswa, serta kerjasama antar fakultas.” Ujar Caroline mengenai rencana kerjanya jika terpilih menjadi Rektor kelak.

VERONICA DWI LESTARI

Related posts

*

*

Top