Sosiologi Korupsi: Sebuah Perkenalan Singkat Mengenai Korupsi

Sosiologi Korupsi - Syed Hussein Alatas (Sampul Buku).dok www.goodreads.com Sosiologi Korupsi - Syed Hussein Alatas (Sampul Buku).dok www.goodreads.com

Sosiologi Korupsi

Syed Hussein Alatas

Sosiologi Korupsi - Syed Hussein Alatas (Sampul Buku).dok www.goodreads.com

Penerbit: LP3ES, Jakarta

87 halaman, Cetakan kedua, 1975

Sosiologi Korupsi: Sebuah Perkenalan Singkat Mengenai Korupsi

Oleh: Sherly Nefriza

 

Buku yang ditulis oleh seorang sosiologis dan filosofis yang berasal dari Malaysia ini, mencoba menjelaskan fenomena korupsi dalam sudut pandang kontemporer pada masanya dulu. Fenomena korupsi dijelaskan secara ringkas dan berisi mulai dari makna, fungsi, sebab, sampai pencegahan. Disini, penulis mencoba menjelaskan fenomena korupsi melalui beragam pendekatan sosiologis seperti pendekatan hukum, agama, dan tradisi. Buku ini adalah sebuah monograf yang berusaha menjelaskan korupsi dalam konteks yang general. Bukan untuk menghasilkan solusi konkret pada permasalahan korupsi di  sebuah negara yang harus diselesaikan berdasarkan penelitian kasus korupsi di negara tersebut.

Salah satu hal yang menarik mengenai buku ini adalah pembaca diajak memahami sisi lain dari korupsi melalui penjabaran mengenai fungsi korupsi. Penulis menerangkan sisi buruk korupsi sekaligus nilai yang dapat dipetik dalam tindak korupsi.  Dengan menggunakan beberapa argumen dari pakar-pakar lain misalnya, korupsi dianggap sebagai ‘viagra’ untuk memicu pembangunan negara. Pada kasusnya, korupsi dianggap sebuah cara untuk memangkas birokrasi sebagai akselerator pembangunan negeri. Argumen lainnya, korupsi dianggap menjadi sebuah fenomena evaluatif dalam menilai efisiensi birokrasi sebuah sistem pemerintahan. Namun, pernyataan-pernyataan tersebut adalah sebuah sudut pandang yang argumentatif. Selanjutnya penulis juga menjelaskan bahwa korupsi yang dapat merangsang pertumbuhan akan berubah menjadi suatu kebiasaan yang mengakar dan menyebabkan keteledoran serta mengakibatkan ketidakefisienan yang lebih parah dan merata. Penulis juga menjelaskan bahwa pandangan-pandangan mengenai fungsi positif korupsi yang dilakukan pakar masih sangat  lemah dan bias dalam tahap pemilihan data.

Buku ini juga mencoba menjelaskan korupsi dengan menggunakan contoh-contoh perbandingan dari berbagai negara. Perbedaan budaya antar negara turut ambil alih dalam menjelaskan korupsi. Misalnya pada kebudayaan tertentu, salah satu jenis korupsi yaitu pemberian hadiah atau gratifikasi merupakan hal yang lumrah dan dianggap sebagai salah satu bentuk penghormatan. Namun, penulis juga menjelaskan perbedaan jelas mengenai gartifikasi yang korup dan yang bukan terkait dengan besarannya dan sifatnya; rahasia atau bukan[1]. Ada benturan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat tradisional terhadap konsep-konsep modern mengenai moralitas publik. Pemberian contoh dan penjabaran dalam membedakan korupsi merupakan alat bantu yang berguna bagi orang awam untuk mengenali mana tindak korupsi dan mana yang bukan.

Selanjutnya dalam penjabaran sistem sebagai penyebab munculnya korupsi, penulis menjelaskannya dengan hasil temuan dari berbagai pakar. Misalnya, pernyataan dari Sorokin dan Lunden bahwa sebuah sistem yang absolut maka akan menghasilkan korupsi yang absolute pula[2]. Sayangnya, penulis tidak memberikan penjelasan atas apa yang melatar belakangi pemikiran pakar-pakar tersebut terhadap kecendrungan sebuah sistem untuk menjadi korup.

Penulis juga membahas secara singkat mengenai pencegahan korupsi. Pencegahan korupsi yang dijelaskan penulis dalam karyanya ini adalah dengan membandingkan penyebab korupsi itu sendiri, apakah berasal dari manusia yang menjalankan sistem atau sistem pemerintahan itu sendiri. Faktor-faktor yang mempengaruhi manusia dalam melaksanakan tindakan korupsi mengenai kejujuran, komitmen, dan keberanian dalam memerangi korupsi. Faktor-faktor tersebut masih bertopang terhadap unsur budaya dan tradisi yang menciptakan pribadi dengan kualitas demikian.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah bagaimana penulis turut serta membahas secara implisit mengenai faktor penghasil korupsi, yaitu keberadaan oligarki. Penjelasan  awal mengenai oligarki dijelaskan melalui kutipan dibawah ini:[3]

“Korupsi tidaklah terbatas pada tindak tanduk keputusan-keputusan spesifik, ia adalah suatu proses yang mencakup pembentukan sikap, perencanaan secara sengaja, antesedan-antesedan sejarah, mobilitas sosial, afiliasi kelompok, dan faktor-faktor sosiologis yang lain.”

Kutipan diatas dilengkapi pula dengan contoh mengenai praktik yang memberikan gambaran tentang bagaimana oligarki memanipulasi kebijakan yang dihasilkan. Ini tampak dari penjelasan tentang rezim Peron. Melalui kebijaksanaan-kebijaksanaan  yang dihasilkan, rezim Peron mampu menghasilkan kelaparan parah bagi masyarakat di negara yang memiliki sumber makanan yang berlimpah ruah. Menarik karena oligarki juga merupakan sebuah polemik yang dihadapi di Indonesia dalam pemberantasan korupsi. Tengok saja perkembangan terkait upaya-upaya yang  dilakukan untuk melemahkan KPK. Keputusan-keputusan ‘ganjil’ yang dihasilkan dalam setiap sidang mengenai berbagai kasus yang diajukan untuk melawan KPK merupakan sebuah tanda adanya usaha-usaha kelompok penguasa tertentu yang memiliki agenda tersendiri dalam menguntungkan kelompoknya. Keabsenan moral pada diri penguasa telah menjadi akar yang kuat dalam menghasilkan kebijakan yang korup.

Secara keseluruhan, buku ini merupakan sebuah panduan dalam mengenali korupsi. Bentuk-bentuk cabangannya bisa kita pahami melalui penjabaran-penjabaran teori yang diungkapkan. Pemahaman mengenai korupsi merupakan hal yang sangat vital untuk dimiliki masyarakat Indonesia melihat sifat korupsi di Indonesia  yang sedemikian tersusun rapi, dilakukan secara masal, dan sulit ditembus hukum. Pemahaman ini merupakan modal bagi masyarakat dalam ikut serta melawan setiap tindak tanduk korupsi di Indonesia karena efeknya yang telah jelas dirasakan oleh masyarakat. Pada akhirnya, saya menyepakati dua hal yang dirumuskan Wang An Shih, seorang tokoh publik Cina, yang dituliskan kembali oleh penulis :[4]  “Dua prasyarat mutlak melawan korupsi adalah para penguasa yang bermoral tinggi dan hukum yang efisien serta rasional.”

DAFTAR PUSATAKA

 

Alatas, Syed Huessein, Sosiologi Korupsi. Jakarta, LP3ES, 1975.

,

[1] Alatas, Syed Hussein, Sosiologi Korupsi,, Jakarta, LP3ES: Cetakan kedua ,1975. Hal 53.

[2] Ibid. Hal 69.

[3] Alatas, Syed Hussein, Sosiologi Korupsi. Jakarta, LP3ES, Cetakan kedua 1975.  Hal 25

[4] Ibid. Hal 8.

Tentang Penulis:

Sherly Nefriza adalah Ketua Litbang Media Parahyangan. Mahasiswi akuntansi angkatan 2011 ini lahir di Jakarta pada 5 September 1993. Selain aktif di Media Parahyangan ia juga aktif sebagai bendahara di KKBM Unpar. Penulis dapat dihubungi pada alamat email sherlynefriza@gmail.com . 

Related posts

*

*

Top