Simple Miracles: Doa dan Arwah

Simple Miracle - Doa Dan Arwah (Ayu Utami) dok. http://www.tokobukumurahonline.com/ Simple Miracle - Doa Dan Arwah (Ayu Utami) dok. http://www.tokobukumurahonline.com/

Judul: Simple Miracles

Penulis: Ayu Utami

Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Jumlah halaman: 177 halaman

Reviewer: Cornelius

 

oleh Kristiana Devina

Buku ini tidak jauh berbeda dengan buku-buku Ayu Utami sebelumnya karena di dalam buku ini ia masih menceritakan pengalaman kehidupannya. Ayu Utami sekedar berbagi pengalaman kehidupan yang bersentuhan dengan kisah arwah yang ia alami dan dapatkan dari orang-orang terdekat.

Buku ini menjelaskan mengenai sesuatu yang berada di luar nalar. Banyak orang yang setuju dengan gagasan dan pengalaman Ayu, tapi tidak sedikit juga yang mengkritik tulisan Ayu ini.

Simple Miracles membahas beberapa topik besar seperti halnya hantu, Tuhan, Ibu, dan doa. Beberapa orang percaya akan Tuhan namun banyak di antara mereka tidak percaya dengan hantu. Dari sinilah Ayu Utami memiliki pertanyaan besar yaitu apakah yang membedakan hantu dan Tuhan? Keduanya sama-sama tidak dapat dilihat, tetapi di satu sisi seseorang sangat percaya dan di sisi lain seseorang menganggapnya tidak pernah ada.

Inilah pertentangan di dalam pemikiran Ayu Utami. Ayu dulu adalah seorang gadis kecil yang sangat menggemari cerita hantu. Cerita-cerita hantu tersebut ia dapatkan dari bibinya. Berbeda halnya dengan sang ibu yang adalah penggiat Katolik yang taat. Ibunya percaya keberadaan Tuhan tapi  ia menampik keberadaan hantu.

Ayu gemar berpikir sampai pada ujungnya. Ia meyakini bahwa banyak hal yang tidak dapat dijelaskan dengan akal sehat. Hanya ada satu pilihan, percaya atau tidak. Sudah hanya itu saja pilihannya.

“Kadang sesuatu hadir begitu sederhana, sehingga kita enggan mengakuinya.”

Dalam kisah ini tokoh sentral jatuh pada Ayu Utami dan ibunya. Ayu Utami adalah sosok yang sangat mencintai ibunya. Pada saat masih kecil, ia sangat takut kehilangan sang ibu. Sosok ibu adalah pengendali di setiap hal yang dia lakukan. Ayu Utami sangat menghargai ibunya karena menurutnya sosok ibu adalah pekerja yang tulus.

Di tengah penyakit kanker yang harus dilawan oleh sang ibu, ia masih melayani suaminya yang juga sakit keras dengan tulus. Tak hanya sang suami, pun adiknya ia rawat dengan jiwa yang tulus.

Sang ibu selalu berdoa untuk tidak diambil nyawanya terlebih dahulu dibanding suaminya. Ia bertekad akan merawat suaminya sampai akhir hayat. Betul saja, suaminya meninggal terlebih dahulu.

Setelah ia merasa selesai menyelesaikan tugasnya merawat sang suami, kejadian-kejadian aneh di masa kritis sang ibu sering terjadi. Salah satunya pada saat kritis sang ibu sering menunjuk ke arah ujung kamar dan mengaku melihat sosok suaminya. Di saat itulah sang ibu meninggal. Dihari-hari menuju kematian ibunya, Ayu Utami berubah menjadi perempuan yang tegar dan ikhlas. Ia tidak lagi takut kehilangan sosok ibu.

Begitulah dalam bukunya ia bilang bahwa seseorang akan pergi pada saat selesai menyelesaikan tugasnya.

Pembaca akan terhipnotis dengan kalimat Ayu Utami yang menembus nalar dan pemikiran terdalam. Tanpa menggurui, ia memaknai doa arwah secara berbeda. Satu hal yang saya sukai dari kisah ini adalah pemaknaan doa yang saya yakini pula.

Ia menjelaskan bahwa doa bukanlah hukum, melainkan cinta dan keindahan. Doa juga bukan suatu kelemahan, melainkan lebih kepada keterbukaan diri sendiri kepada apa yang diyakini.

“Doa bukanlah hukum. Doa adalah cinta dan keindahan. Kita mendoakan arwah bukan karena kita akan dihukum jika kita tidak melakukannya. Kita mendoakan arwah bukan lantaran yang mati akan marah. Kita berdoa sebab kita mencintai mereka yang wafat. Kita ingin mempersembahkan sesuatu, tapi kita pun tahu bahwa mereka tak memerlukan lagi materi, maka kita mempersembahkan yang spiritual: doa.”

Kisah didalam buku ini membimbing para pembaca yang percaya, bagaiamana cara menfasirkan dan mengktirisi pengalaman yang terkadang sulit dijelaskan dengan nalar dan dibuktikan secara logis.

“Spiritualisme kritis adalah penghargaan terhadap yang spiritual tanpa mengkhianati nalar kritis.”

Tentang Penulis:

Penulis merupakan mahasiswi Fakultas Hukum 2013

Related posts

*

*

Top