Sidang Susila : Sebuah Gambaran Proses Hukum Yang Konyol

Sidang Susila. MP/Rara Sekar

“Saudara pesakitan!” teriakan itu terlontar dari mulut sang hakim. Seseorang terdiam setelah mendengar teriakan itu. Tak lama seorang jaksa kembali berbicara lantang, ia terus meyakinkan sang hakim bahwa terdakwa yang ada di depannya bersalah. Tak mau kalah, seorang pembela membalas ucapan sang jaksa, ia membela habis-habisan seorang terdakwa yang ia bela, “Ia tak bersalah! apa buktinya ia bersalah?”

Hakim memanggil Susila Parna, seorang terdakwa dalam sebuah persidangan dengan ucapan “Saudara Pesakitan”. Ia seorang penjual mainan anak-anak. Tanpa alasan yang jelas ia ditangkap. Tak lama alasan ia ditangkap diketahui, ia dituduh mengumbar anggota tubuh, bertentangan dengan Undang-undang Susila, sebuah undang-undang yang baru saja disahkan.

Ucapan “Saudara pesakitan” terus menerus dilontarkan sang hakim selama persidangan. Ketika sang pembela meminta bukti yang menunjukkan bahwa Susila bersalah, ditunjukkan satu karung balon kepada sang hakim. Tuduhannya: balon tersebut berbahaya, karena bisa memicu seseorang melakukan perbuatan asusila.

Cerita itu diangkat oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Sastra & Teater (Satre) dalam pementasan teater berjudul “Sidang Susila” yang diadakan di Gedung Serbaguna UNPAR, Sabtu 6 November 2010. Pementasan ini diangkat dari naskah “Sidang Susila” karya Ayu Utami dan Agus Noor.

Susila Parna. MP/Rara Sekar

Ayu Utami dan Agus Noor membuatnya dengan suatu alasan utama, gerah dengan Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) yang ketika itu sedang digodok oleh Pemerintah. Agus Noor seperti dikutip dari blog pribadinya berpendapat bahwa hal ini dilakukan dengan semangat melihat sesuatu persoalan sosial secara kritis, dan bagaimana bila sebuah undang-undang susila dilegalkan dan menjadi satu-satunya kebenaran moral. Senada dengan Agus Noor, Ayu Utami mengatakan, ia melakukan hal ini karena melihat kekonyolan dalam proses pembuatan hukum di negeri ini. Contohnya saja, menurut Ayu, ada aturan bahwa orang dilarang melakukan gerakan yang menyerupai tindakan bersetubuh atau masturbasi. Sedangkan cara orang bersetubuh dan masturbasi berbeda-beda, bisa saja push up dikira menirukan persetubuhan.

Sidang Susila. MP/Rara Sekar

Hal itu pun tercermin dalam adegan-adegan ketika teater ini dipentaskan. Sebut saja balon yang menjadi tuduhan akan menjadi pemicu tindakan asusila, persis seperti yang dianalogikan oleh Ayu Utami sebagai suatu hal yang konyol, dan juga menunjukkan bagaimana Undang-Undang Asusila ini begitu multitafsir. Begitu juga dengan ucapan “Saudara pesakitan” yang terus menerus diucapkan oleh sang hakim, menunjukkan bagaimana seseorang berada dalam posisi terpojok oleh suatu produk hukum yang dijadikan satu-satunya kebenaran moral.

Satre kemudian mengangkat karya Ayu Utami dan Agus Noor untuk dipentaskan menjadi teater. Seperti yang diungkapkan oleh Ricky Firmansyah, sutradara pementasan “Sidang Susila” Satre, yang beranggapan karya Ayu Utami dan Agus Noor memberikan kritik sosial tanpa menggurui. Selain itu, segi komedi yang lebih banyak ditampilkan dalam naskah ini semakin membuat Satre merasa cocok dengan “Sidang Susila”, “Segi komedi yang ada dalam naskah ini menunjukkan ciri khas Satre. Selama ini kami lebih banyak menampilkan pementasan komedi dibanding tragedi,” ujar pria yang akrab disapa Gepeng itu.

Persoalan RUU APP dan Pornografi juga tak luput dari perhatian Gepeng. Ia merasa isu Pornografi merupakan isu yang penting, karena dapat menyentuh semua kalangan dan semua umur. “Sedangkan spesifikasi pornografi seperti apa yang dimuat dalam RUU APP pun tidak jelas,” kata gepeng.

Susila Parna & Mbak Pembela. MP/Rara Sekar

“Sidang Susila” pun dianggap dapat mewakili persoalan tersebut, “Kebetulan ciri khas Ayu Utami yang fokus terhadap seksualitas cocok untuk dipentaskan,” tambahnya lagi.

Untuk persiapan “Sidang Susila”, Satre menghabiskan waktu sekitar 6 bulan yang diantaranya meliputi latihan aktor, casting, dan pasca produksi. Membagi waktu latihan dan waktu perkuliahan menjadi kendala bagi para aktor. Selain kendala waktu, kurangnya fasilitas menjadi kendala lainnya. “Selama ini hanya Gedung Serbaguna yang bisa digunakan, padahal belum bisa dianggap layak,” ujar Gepeng. Gepeng berharap agar UNPAR memiliki fasilitas yang lebih baik lagi, “Seharusnya UNPAR memiliki gedung kesenian, padahal kesenian kan dipelajari, selain itu gedung kesenian bisa digunakan untuk hal-hal lainnya seperti Aula pertemuan, kelas bersama, ataupun wisuda,” tutup Gepeng. (Egi Primayogha)

Related posts

Top