Siaran Pers: Pernyataan Sikap Mahasiswa Menyikapi Pembangunan Gedung Arntz-Geisse

Spanduk dari aksi damai yang dilakukan di depan koridor hukum pada Rabu (29/04). MP/ Charlie Albajili Spanduk dari aksi damai yang dilakukan di depan koridor hukum pada Rabu (29/04). MP/ Charlie Albajili

SIARAN PERS – Proses pembangunan Gedung Pusat pembelajaran Arntz-Geisse telah resmi dimulai. Pertengahan bulan April, areal Gedung Serba Guna yang menjadi tempat pelataran Gedung Arntz-Geisse telah mulai dibongkar.Akhir-akhir ini pula semakin sering keluhan disampaikan baik dari mahasiswa maupun dosen. Selain proses pembongkaran yang mengganggu kegiatan perkuliahan dan kenyamanan warga Unpar, berbagai perdebatan dan pertanyaan mengiringi proses pembangunan gedung ini sedari awal.

Gedung apa yang akan dibangun terlebih dahulu? Seluas apa areal yang akan dibangun dan terkena dampak? Ke mana ruang kelas mahasiswa akan pindah? Berapa lama waktu pengerjaan? Pertanyaan inilah yang diharapkan dapat terjawab sebelum proses pembangunan berlangsung.

Jika kita ikuti perkembangan perencanaan gedung ini sedari awal, kita seolah dibuat bingung dengan selalu berubahnya rencana pembangunan. Pasca pemenangan tender desain gedung pada awal 2014 lalu, keputusan mengenai pertanyaan-pertanyaan tadi terus berubah.Waktu pengerjaan pun terus menerus molor dari yang awalnya ditargetkan pertengahan tahun 2014.Berbagai wacana silih berganti muncul, mulai dari pembuatan areal parkir baru, pembuatan Gedung Penampung di jalan Menjangan hingga penambahan lantai di gedung 10 untuk merelokasi mahasiswa Fakultas Teknik selama masa pembangunan.

Pembuatan gedung penampung di jalan Menjangan yang sebenarnya opsi yang cukup ideal dibatalkan. Tarik ulur wacana ini pun berakhir dengan keputusan pembuatan basemen 3 lantai di ‘bekas’ GSG yang untuk ‘sementara’ akan dijadikan ruang kelas bagi mahasiswa FT dan juga penambahan lantai di gedung 10 untuk ruang kelas yang terus menggantung. Praktis persoalan relokasi mahasiswa FT masih menjadi pertanyaan. Kelayakan dan kenyamanan mahasiswa kuliah menjadi pertaruhannya.

Pembangunan 2 tahap yang direncanakan pun terkesan terburu-buru dan tidak memperhatikan kenyamanan berkegiatan mahasiswa dan dosen Unpar. Kegiatan pembongkaran yang dilakukan di siang hari untuk mengejar target waktu pun sangat mengganggu kegiatan perkuliahan dan aktivitas lain di Unpar. Ironis juga ketika yayasan memaksakan proyek pembangunan besar di kampus Ciumbuleuit, bergulat dengan perizinan yang sulit dan lahan yang minim, ketika Unpar sebenarnya mempunyai lahan seluas 85 hektar di Padalarang.

Di sini, pertanyaan yang terus menggelitik adalah mengapa untuk proyek sebesar pembangunan gedung 13 lantai Arntz-Geisse, rencana terus berubah-ubah bahkan hingga pembongkaran telah dilakukan? Adakah yayasan dan rektorat mempunyai perencanaan yang matang yang telah mempertimbangkan aspek perizinan maupun kebutuhan warga Unpar? Adakah visi pembangunan jangka panjang Unpar yang telah dibuat?

Buruknya perencanaan dalam proses pembangunan gedung 10 hampir sepuluh tahun silam harusnya menjadi pembelajaran kampus kita dalam melakukan perencanaan proyek pembangunan. Gedung 10 yang hampir rampung dibuat untuk menjadi gedung parkir di tengah proses pembangunannya disulap menjadi ruang kelas. Walhasil muncul masalah hukum dan protes warga. Pertanyaannya adalah mengapa bisa proyek sebesar pembangunan gedung tersebut berubah di tengah jalan? Bukankah seharusnya sebelum proyek dilaksanakan sudah ada perencanaan yang matang?

Jika melihat proses pengambilan keputusan yang tertutup, maka dapat dikatakan perencanaan pembangunan di Unpar ini tidak transparan dan partisipatif. Transparan dalam arti terbuka dalam pemberian informasi valid seputar Rencana jangka Panjang, prosedur Pengadaan dan lelang, serta informasi keuangan untuk membuka ruang kontrol akuntabilitas pengerjaan proyek pembangunan. Lalu partisipatif dalam arti membuka telinga bagi aspirasi mahasiswa maupun dosen sedari awal dalam perencanaan pembangunan, bukan hanya sebatas mensosialisasikan program.

Titik yang paling krusial dalam masalah ini rupanya adalah tidak adanya Rencana Induk Pembangunan Universitas (RIPU) di Unpar. Dalam hal ini penyelenggara universitas tidak memiliki visi jangka panjang pembangunan di Unpar. Hanya yayasan yang mempunyai Rencana Induk Pembangunan yang itu dijadikan rujukan rektorat untuk melaksanakan pembangunan. Pembangunan harus disesuaikan dengan kebutuhan universitas dan dalam hal ini harusnya universitas mempunyai perencanaan tersendiri. Bagi sebagian kalangan RIP yayasan ini bahkan dianggap tidak cocok dengan kebutuhan penyelenggaraan kegiatan Universitas.

Hingga saat ini belum ada jawaban yang cukup memuaskan terkait hal itu dari pihak rektorat maupun yayasan. Pun juga tidak dijelaskan bagaimana sebenarnya perencanaan pembangunan di Unpar ini dalam jangka panjang.Tidak hanya mahasiswa, beberapa dosen pun mempertanyakan soal ini. Maka satu yang dapat disimpulkan, bahwa proyek pembangunan di kampus Unpar ini tidak pernah direncanakan dengan matang.

Pembangunan dan perbaikan fasilitas mahasiswa sangatlah perlu. Segala kegiatan dan prestasi kampus Unpar pun ditunjang dengan adanya fasilitas yang memadai.Namun sudah sepatutnya proyek pembangunan ini dikelola dengan baik dan juga visible. Pihak penyelenggara harus profesional sekaligus aspiratif dalam menentukan perencanaan dan hasil. Jika itu tercapai, baru upaya mewujudkan Unpar yang lebih baik bisa terwujud.

Dalam konteks dan kebutuhan itulah, di kesempatan kali ini kami menggaris bawahi kritik kami sebagai berikut:

  1. Proses pembangunan Gedung Arntz-Geisse memberatkan mahasiswa karena:
  • Mengganggu proses perkuliahan
  • Menyulitkan ruang kegiatan kemahasiswaan
  • Dalam perencanaan belum memberi kejelasan relokasi mahasiswa FT ke tempat yang layak
  1. Perencanaan yang berubah-ubah dan tidak matang serta belum melibatkan seluruh stakeholder di kampus.
  2. Tidak transparan dalam pengadaan, pengelolaan dana dan rencana pembangunan.

Untuk itu kami menuntut:

  1. Menghentikan proses pembangunan yang menganggu perkuliahan dan kegiatan lainnya jika belum ada publikasi mengenai perencanaan pembangunan yang jelas.
  2. Pihak yayasan untuk terbuka perihal perencanaan pembangunan jangka panjang unpar dan pengelolaan keuangannya

Related posts

Top